Penerjemahan Istilah Budaya Jakarta dalam Novel Senja di Jakarta ke dalam Bahasa Inggris Twilight in Djakarta
Gofur, Prof. Dr. Sajarwa, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Twilight in Djakarta diterbitkan pertama kali oleh Hutchinson & Co. pada tahun 1963, menjadikannya novel Indonesia pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan mendapat sambutan positif dari pers dunia. Novel ini membuktikan bahwa karya terjemahan dapat menjadi penghubung untuk kebebasan berekspresi di tengah represi politik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik dan strategi penerjemahan istilah budaya. Objek material yang digunakan adalah novel Senja di Jakarta sebagai teks sumber dan novel terjemahannya Twilight in Djakarta sebagai teks sasaran. Sementara objek formal terdapat tiga perspektif: 1) Teknik penerjemahan Molina dan Albir. 2) Pandangan Venuti tentang foreignisasi dan domestikasi. 3) Perspektif kategorisasi budaya Newmark. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan kajian deskriptif-kualitatif. Data berupa kata, frasa, dan klausa bermuatan budaya yang dikumpulkan dari teknik baca, dicatat secara komprehensif, dan didokumentasikan. Sementara analisis data menggunakan teknik komparatif.
Melalui teknik penerjemahan penelitian ini menemukan bahwa resistansi dan negosiasi istilah budaya tersebut masing-masing memiliki kecenderungan, yakni penerjemahan kata ke kata, kata ke frasa, dan frasa ke frasa. Istilah budaya yang diresistansi merepresentasikan kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat Jakarta pada era 1960-an. Sementara pada negosiasi, penerjemah cenderung memberi ruang pada pemahaman pembaca teks sasaran agar pembaca teks sasaran memahami makna secara menyeluruh. Hasil penerjemahan juga memunculkan implikasi terhadap kesepadanan dan orientasi sosial baik dari bahasa sumber maupun bahasa sasaran. Implikasi praktik penerjemahan resistansi dapat menetapkan informasi budaya Jakarta terhadap pembaca teks bahasa Inggris. Implikasi tersebut berorientasi pada posisi penerjemah sebagai perantara pelestarian budaya bahasa sumber. Selain itu, praktik penerjemahan negosiasi memiliki implikasi pada transformasi narasi dalam hasil terjemahan. Orientasi sosial dari implikasi penerjemahan negosiasi yaitu terciptanya ruang interpretasi yang lebih luas, khususnya interpretasi kultural.
Twilight in Djakarta was first published by Hutchinson & Co. in 1963, making it the first Indonesian novel to be translated into English, and receiving positive attention from the international press. This novel reveals that translated works can serve as a bridge to freedom of expression amid political repression. This study aims to describe the techniques and strategies for translating cultural terms. The material objects used are the novel Senja di Jakarta as the source text and its translation Twilight in Djakarta as the target text. Meanwhile, there are three theories to assist the analysis: 1) Molina and Albir's translation techniques. 2) Venuti's views on foreignization and domestication. 3) Newmark's cultural categorization perspective. This study uses descriptive-qualitative analysis. The data consists of culturally charged words, phrases, and clauses collected through reading techniques, comprehensive note-taking, and documentation. Meanwhile, data analysis uses comparative techniques.
Through translation techniques, this study found that resistance and negotiation of cultural terms each have their own tendencies such as word-to-word, word-to-phrase, and phrase-to-phrase translation. Cultural terms that are resisted represent the socio-cultural conditions of Jakarta society in the 1960s. In negotiation strategy, translators tend to give space to the target text readers so that they can understand the meaning. The translation results also have implications for equivalence and social orientation in both the source and target languages. Resistance translation practices can establish information about Jakarta's culture for readers of English texts. These implications are oriented towards the translator as an intermediary for the preservation of the culture of the source language. Furthermore, negotiation translation practices contribute to the transformation of narratives in the translation results. The social orientation of the implications of negotiation translation is the creation of a broader space for interpretation, particularly cultural interpretation.
Kata Kunci : Penerjemahan novel, Identitas Budaya, Strategi Penerjemahan, Twilight in Djakarta