Penanganan dan Pencegahan Penyakit Rabies di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta 1985-1989
Fuandito Denta Hasnan, Dr. Abdul Wahid, M. Hum., M. Phil.
2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Wabah rabies yang melanda Indonesia pada tahun 1985, berawal dari Wonogiri, dengan cepat menyebar ke wilayah sekitar yang rentan akibat faktor geografis, tradisi pemeliharaan hewan, dan mobilitas penduduk. Mendegar berita tersebut pemerintah merespon dengan melakukan tindakan pemberantasan dengan munculnya instruksi dari gubernur pada tahun 1985. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah pemilihan tema, pengumpulan sumber, verifikasi sumber, kritik sumber, dan penulisan sejarah, sementara sumber yang didapatkan dari Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta, Undang-undang, laporan statistik Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Surat kabar sezaman.
Hasil penelitian ini berfokus pada penanganan dan pencegahan yang dilakukan pemerintah sejak akhit 1985, akan tetapi, puncak krisis terjadi pada 1987, ditandai lonjakan kasus gigitan dan korban jiwa, yang tidak hanya menimbulkan dampak kesehatan namun juga trauma sosial serta pembunuhan massal anjing. Menghadapi hal ini, Pemerintah DIY merespon dengan menggabungkan pendekatan kuratif (seperti penanganan medis korban) dan preventif (meliputi vaksinasi massal, eliminasi anjing liar, serta edukasi masyarakat) melalui kolaborasi Dinas Kesehatan dan Peternakan. Meski menimbulkan dilema sosial-ekonomi, strategi tersebut terbukti efektif dan berhasil mengantarkan DIY meraih status bebas rabies pada tahun 1997, menjadi sebuah pencapaian penting dalam sejarah kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan di wilayah tersebut
The rabies outbreak that hit Indonesia in 1985, starting in Wonogiri, quickly spread to surrounding vulnerable areas due to geographical factors, animal husbandry traditions, and population mobility. Hearing the news, the government responded by taking eradication measures with the issuance of instructions from the governor in 1985. The method used in this study is a historical research method with the steps of theme selection, source collection, source verification, source criticism, and historical writing, while sources were obtained from the Yogyakarta Special Region Archives, Laws, Yogyakarta Special Region statistical reports, and contemporary newspapers.
The results of this study focus on the handling and prevention carried out by the government since the end of 1985, however, the peak of the crisis occurred in 1987, marked by a spike in bite cases and fatalities, which not only caused health impacts but also social trauma and mass killing of dogs. In response, the Yogyakarta Special Region Government responded by combining curative approaches (such as medical treatment for victims) and preventive (including mass vaccination, elimination of stray dogs, and public education) through collaboration between the Health and Animal Husbandry Services. Despite creating a socio-economic dilemma, this strategy proved effective and succeeded in leading DIY to achieve rabies-free status in 1997, becoming a significant achievement in the history of public health and animal health in the region.
Kata Kunci : Rabies, Gigitan Anjing, Kuratif, Preventif