Dari Tradisi Ke Kewirausahaan: Transformasi Agensi Perempuan Di Kampung Batik Giriloyo Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
Amalia Desi Derfiora, Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Tesis
ini menganalisis transformasi agensi perempuan di Kampung Batik Giriloyo yang
didorong oleh perubahan signifikan dalam praktik membatik. Pergeseran secara
struktural dipicu oleh dampak bencana gempa Yogyakarta tahun 2006. Sebelum
titik balik tersebut, keterampilan membatik yang dimiliki oleh perempuan
seringkali tidak diakui secara nilai ekonomi dan terikat peran domestik.
Praktik membatik yang semula hanya sebagai pekerjaan subsisten rumah tangga
dapat bergeser menjadi kegiatan kewirausahaan secara mandiri.
Penelitian
ini menggunakan kerangka Teori Praktik Pierre Bourdieu dengan cakupan field,
habitus, dan capital. Riset lapangan dilakukan pada bulan Juni,
Juli, Agustus, dan September 2025 dengan melibatkan empat informan yang secara
aktif terlibat pada komunitas lokal dan memiliki akses manajerial usaha secara
mandiri. Perolehan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara
mendalam dan observasi parsipatif. Hasil temuan mengemukakan bahwa perempuan di
Giriloyo mengubah praktik membatik menjadi “modal ekonomi” dan “modal budaya”
yang berfungsi sebagai sarana negosiasi. Konversi modal secara efektif
memindahkan mereka dari posisi arena domestik ke arena ekonomi batik.
Perpindahan ini mengubah habitus dengan beralih dari kondisi
ketergantungan menjadi inisiatif dan kemandirian, tercermin dalam inisiatif
individu dan kolektif seperti pembentukan showroom dan Kelompok Usaha
Bersama (KUB). Akibatnya, muncul peningkatan modal simbolik berupa pengakuan
sosial yang menunjukkan dinamika gender baru: perempuan diakui setara dalam
pengambilan keputusan dalam skala kecil rumah tangga dan komunitas lokal. Kesimpulan
dari penelitian ini adalah agensi perempuan di Giriloyo sebagai strategi
adaptasi dan negosiasi dalam membentuk identitas sebagai wirausaha batik di era
modernisasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
This
study analyzes the transformation of women's agency in Giriloyo Batik Village,
driven by significant shifts in batik-making practices. This structural shift
was triggered by the impact of the 2006 Yogyakarta earthquake. Prior to this
turning point, the batik-making skills possessed by women were often
unrecognized in terms of economic value and were confined to domestic roles.
Batik practices, which were originally merely household subsistence work, have
shifted into independent entrepreneurial activities. This research employs
Pierre Bourdieu's Practice Theory framework, encompassing the concepts of field,
habitus, and capital. Field research was conducted in June, July,
August, and September 2025, involving four informants who are actively engaged
in the local community and hold independent managerial access to businesses.
Data were collected through in-depth interviews and participant observation.
The
findings reveal that women in Giriloyo have transformed batik practices into
"economic capital" and "cultural capital," which serve as
means of negotiation. This capital conversion effectively moved them from the
domestic arena to the batik economic arena. This transition altered their habitus,
shifting from a state of dependency to one of initiative and independence, as
reflected in both individual and collective initiatives, such as the
establishment of showrooms and Joint Business Groups (KUB). Consequently, there
has been an increase in symbolic capital in the form of social recognition,
indicating a new gender dynamic: women are recognized as equals in
decision-making within both the small-scale household and the local community.
The conclusion of this study is that women's agency in Giriloyo serves as an
adaptation and negotiation strategy in forming their identity as batik
entrepreneurs in the era of modernization without abandoning their traditional
roots.
Kata Kunci : Transfromasi Gender, Agensi Perempuan, Kewirausahaan, Batik Giriloyo.