Laporkan Masalah

Determinan Perilaku Pengelolaan Limbah Makanan Berkelanjutan: Studi pada Masyarakat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

FERLY ARVIDIA ANINDITA, Rr Tur Nastiti, M.Si., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Manajemen

Limbah makanan menyumbang hampir sepersepuluh emisi gas rumah kaca global. Di Indonesia, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebuah kawasan urban dinamis yang dipengaruhi oleh mobilitas pelajar, pariwisata kuliner, dan kepadatan permukiman, menghadapi tekanan yang semakin meningkat untuk mengelola limbah makanan rumah tangga secara berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi Perilaku Pengelolaan Limbah Makanan Berkelanjutan dengan menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) yang diperluas. Data diperoleh dari 224 responden rumah tangga berusia 17 tahun ke atas di seluruh provinsi. Analisis dilakukan menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan memasukkan variabel pengetahuan, kontrol perilaku persepsian, kepedulian lingkungan, dan dukungan pemerintah persepsian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan kontrol perilaku persepsian memiliki pengaruh positif terkuat terhadap pengelolaan limbah makanan berkelanjutan, sedangkan dukungan pemerintah persepsian memberikan pengaruh positif yang lebih kecil. Sebaliknya, kepedulian lingkungan tidak menunjukkan pengaruh signifikan, yang mengindikasikan adanya kesenjangan nilai dan tindakan dalam konteks rumah tangga. Model penelitian memiliki daya jelaskan yang kuat dengan nilai sebesar 0.615, menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut mampu menjelaskan proporsi yang substansial dari variasi perilaku.

Temuan ini menegaskan perlunya penguatan infrastruktur perilaku, peningkatan pengetahuan praktis, peningkatan persepsi kemampuan, serta penyediaan fasilitas dan kebijakan pendukung. Kolaborasi antara pembuat kebijakan, organisasi komunitas, dan pemangku kepentingan lokal menjadi esensial untuk mengurangi limbah makanan rumah tangga dan mendorong ekonomi sirkular di kawasan urban Indonesia.

Food waste accounts for nearly one-tenth of global greenhouse gas emissions. In Indonesia, the Province of Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), a dynamic urban region shaped by student mobility, culinary tourism, and dense residential clusters, faces increasing pressures to manage household food waste sustainably. This study investigates the determinants of sustainable household food waste management behaviour using an extended Theory of Planned Behavior (TPB) framework. Data were collected from 224 household respondents aged 17 and above across the province. Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) was employed to test a model incorporating knowledge, perceived behavioural control, environmental concern, and perceived governmental support.


The results show that knowledge and perceived behavioural control exert the strongest positive influence on sustainable food waste management, while perceived governmental support has a smaller yet positive effect. In contrast, environmental concern shows no significant impact, indicating a persistent value-action gap in household contexts. The model demonstrates strong explanatory power, with an R² of 0.615, suggesting that the proposed predictors explain a substantial proportion of behavioural variance.


These findings underscore the need to strengthen behavioural infrastructure, enhancing practical knowledge, increasing perceived capability, and improving supportive facilities and policies. Collaboration among policymakers, community organisations, and local stakeholders is essential to reduce household food waste and advance a circular economy within urban Indonesian households.

Kata Kunci : Sustainable Food Waste Management, Theory of Planned Behavior, Knowledge, Perceived Governmental Support, Environmental Concern

  1. S2-2025-546259-abstract.pdf  
  2. S2-2025-546259-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-546259-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-546259-title.pdf