Diagnosis dan Rekonstruksi Etika Alasdair MacIntyre terhadap Perdebatan Hukuman Mati, Aborsi, dan Eutanasia
Bayu Tirta Hanggara, 3. Dr. Hastani Widy Nugroho, SS., M.Hum; Dela Khoirul Ainia, S.Fil., M.Phil.
2025 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Hukuman mati, aborsi, dan eutanasia adalah bukti bahwa sebagian besar wacana moral saat ini sarat dengan ketidaksepakatan yang terus diperdebatkan. Setiap pihak yang bersaing saling beradu argumen tanpa mencapai kesepakatan apa pun. Dalam arti bahwa perdebatan semacam itu terus berlanjut dan tidak dapat menemui titik temu. Hal tersebut memantik peneliti untuk mengeksplorasi mengapa perdebatan moral saat ini, khususnya pada isu hukuman mati, aborsi, dan eutanasia tidak berujung melalui teori kebajikan Alasdair MacIntyre. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan mengapa perdebatan hukuman mati, aborsi, dan eutanasia tidak berujung; serta membingkai ulang ketiga isu tersebut dengan mengeksplorasi teori kebajikan MacIntyre.
Penelitian ini termasuk dalam model deskripsi-analitis dengan menggunakan metode hermeneutika sebagai alat analisis untuk menginterpretasi teks MacIntyre dan relevansinya bagi hukuman mati, aborsi, eutanasia. Unsur metodis ini melalui tiga tahapan: deskripsi; interpretasi; dan heuristika. Adapun sumber-sumber dalam penelitian ini diambil dari sumber-sumber primer dari tulisan-tulisan MacIntyre atau perdebatan mengenai ketiga isu yang dilengkapi dengan sumber-sumber sekunder terkait.
Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan utama. Pertama, sifat tidak berujung dalam perdebatan hukuman mati, aborsi, dan eutanasia adalah manifestasi konkret dari kerusakan struktural bahasa moral modern. Kedua, teori kebajikan MacIntyre menuntut pergeseran fokus dari aturan universal yang abstrak dan atomistik menuju pemahaman yang berakar pada praktik, kesatuan naratif kehidupan manusia, dan tradisi moral.
Death penalty, abortion, and euthanasia are evidence that most of today's moral discourse is fraught with ongoing disagreement. Each competing party argues without reaching any agreement. In the sense that such debates continue and cannot reach a consensus. This has prompted researchers to explore why current moral debates, particularly on the issues of death penalty, abortion, and euthanasia, are endless through Alasdair MacIntyre's virtue theory. Therefore, the purpose of this study is to explain why debates on death penalty, abortion, and euthanasia are endless, as well as to reframe these three issues by exploring MacIntyre's virtue theory.
This research is descriptive-analytical in nature, using hermeneutics as a tool for interpreting MacIntyre's texts and their relevance to death penalty, abortion, and euthanasia. This methodological approach involves three stages: description, interpretation, and heuristics. The sources in this study are taken from primary sources from MacIntyre's writings or debates on the three issues, supplemented with relevant secondary sources.
This study produces two main conclusions. First, the endless nature of the debate on death penalty, abortion, and euthanasia is a concrete manifestation of the structural damage to modern moral language. Second, MacIntyre's virtue theory demands a shift in focus from abstract and atomistic universal rules to an understanding rooted in practice, the narrative unity of human life, and moral tradition.
Kata Kunci : Hukuman Mati, Aborsi, Eutanasia, Etika Kebajikan, Alasdair MacIntyre