Sistem Komunikasi Pembangunan Untuk Penguatan Akulturasi Budaya (Studi Kebijakan Dan Pemaknaan Tradisi Dugderan Sebagai Medium Integrasi Multietnis Di Kota Semarang)
Jazirrotul Ma'na, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M..Si; Dr. Muhamad Sulhan, S.I.P., M.Si.
2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Penelitian ini menawarkan cara pandang baru dalam memahami hubungan antaretnis melalui lensa teori sistem Niklas Luhmann. Menganalisis pola resonansi komunikasi yang menggunakan semantik etnis (Jawa, Tionghoa, Arab) dalam Tradisi Dugderan antara sistem pemerintah dan masyarakat multikultural. Alih-alih melihat integrasi budaya sebagai upaya menyamakan pandangan atau nilai, penelitian ini justru menunjukkan bahwa masyarakat multietnis dapat berkoordinasi dengan baik justru ketika perbedaan diakui dan dihormati sebagai sistem yang otonom. Kota Semarang dengan Tradisi Dugderannya menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah dan tiga etnis utama yaitu Jawa, Tionghoa, dan Arab dapat bekerja sama tanpa harus menyamakan cara berpikir. Masing-masing pihak memiliki logika pemikiran dan cara beroperasi yang unik: pemerintah dengan logika kekuasaan dan kebijakan, etnis Jawa dengan pusat budaya dan ritual, etnis Tionghoa dengan kemampuan adaptasi simbolik, dan etnis Arab dengan partisipasi ekonomi dan religius yang selektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan Tradisi Dugderan justru terletak pada kemampuannya menjadi "arena pertemuan" yang fleksibel. Setiap pihak dapat berpartisipasi dengan caranya sendiri tanpa dipaksa meninggalkan identitas asli. Etnis Jawa tetap mempertahankan bahasa dan ritual inti, etnis Tionghoa kreatif beradaptasi dengan menciptakan Barongsai Kepala Warak Ngendog, sementara etnis Arab memilih berpartisipasi sebagai pedagang dan melalui ekspresi keagamaan. Harmoni yang terlihat bukanlah hasil dari kesepahaman tunggal, melainkan hasil dari koordinasi praktis dimana setiap pihak mendapatkan manfaat berbeda: pemerintah mendapatkan legitimasi, etnis Jawa mendapatkan penguatan budaya, etnis Tionghoa mendapatkan pengakuan sosial, dan etnis Arab mendapatkan peluang ekonomi. Penelitian ini memberikan dua kontribusi penting. Pertama, secara teori, penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman dapat dikelola tanpa penyeragaman, terpenting adalah menciptakan ruang pertemuan yang memungkinkan perbedaan tetap hidup sementara kerja sama tetap berjalan. Kedua, secara praktis, penelitian ini mengajak pemerintah untuk tidak sekadar membuat kebijakan dari atas, tetapi memahami logika internal masing-masing etnis dan merancang program yang memungkinkan semua pihak berpartisipasi dengan caranya masing-masing.
This study offers a new perspective in understanding interethnic relations through the lens of Niklas Luhmann's systems theory. It analyzes the communication resonance patterns that use ethnic semantics (Javanese, Chinese, Arabic) in the Dugderan Tradition between the government system and multicultural society. Rather than viewing cultural integration as an attempt to align views or values, this study actually shows that multiethnic societies can coordinate well precisely when differences are recognized and respected as autonomous systems. The city of Semarang with its Dugderan Tradition is a clear example of how the government and three main ethnic groups: Javanese, Chinese, and Arab can work together without having to align their ways of thinking. Each party has a unique logic of thought and way of operating: the government with the logic of power and policy, the Javanese with the center of culture and ritual, the Chinese with the ability to symbolic adaptation, and the Arab ethnic group with selective economic and religious participation. The research findings show that the success of the Dugderan Tradition lies precisely in its ability to be a flexible "meeting arena." Each party can participate in their own way without being forced to abandon their original identity. The Javanese maintain their language and core rituals, the Chinese creatively adapt by creating the Ngendog Barongsai (Barongsai Kepala Warak Ngendog), while the Arabs choose to participate as traders and through religious expression. The harmony observed is not the result of a single understanding, but rather the result of practical coordination in which each party benefits differently: the government gains legitimacy, the Javanese gain cultural empowerment, the Chinese gain social recognition, and the Arabs gain economic opportunities. This research makes two important contributions. First, theoretically, it demonstrates that diversity can be managed without uniformity; the most important thing is to create a meeting space that allows differences to exist while cooperation continues. Second, practically, this research encourages the government to go beyond simply making policies from above, but to understand the internal logic of each ethnic group and design programs that allow all parties to participate in their own ways.
Kata Kunci : Komunikasi Pembangunan, Akulturasi Budaya, Sistem Sosial, Tradisi Dugderan, Multietnis, Kota Semarang, Koordinasi Sosial, Keragaman Budaya.