Laporkan Masalah

Advokasi NGOs Dalam Upaya Reduksi Human Trafficking (Studi Komunikasi Pembangunan Anti-Human Trafficking oleh Perkumpulan Perempuan TRUK di Kabupaten Sikka Periode 2019-2024

Fransiskus Silin Gunadi, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, S.IP., M.Si.

2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan

Intisari  

Human trafficking merupakan kejahatan kemanusiaan yang kompleks dan menjadi ancaman serius, khususnya di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini memiliki tingkat kerentanan tinggi akibat berbagai faktor. Meski pemerintah telah mengatur penanganannya melalui UU No. 21 Tahun 2007 dan pembentukan Gugus Tugas TPPO, keterbatasan negara membuka ruang penting bagi peran organisasi masyarakat sipil. Salah satu NGOs yang aktif adalah Perkumpulan Perempuan TRUK yang melakukan pencegahan, pendampingan korban, dan advokasi kebijakan publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivisme Perkumpulan Perempuan TRUK sebagai organisasi masyarakat sipil dalam upaya mereduksi praktik human trafficking di Kabupaten Sikka periode 2019–2024. Permasalahan utama yang dikaji meliputi kapasitas kelembagaan, strategi advokasi, dan kemitraan dan legitimasi sosial dalam konteks pembangunan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen, dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan penerapan triangulasi untuk menjamin validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivisme TRUK merupakan bentuk praksis komunikasi pembangunan yang bersifat partisipatif dan transformatif. Dari aspek kapasitas kelembagaan, TRUK memiliki struktur organisasi yang kuat, tata kelola yang akuntabel, dan sumber daya manusia yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Dari aspek strategi advokasi, TRUK mengembangkan pendekatan komprhensif yang mencakup pencegahan, pendampingan korban, dan advokasi kebijakan publik. Sementara itu, dari aspek kemitraan dan legitimasi sosial, TRUK mengembangkan hubungan kolaboratif, baik dengan pemerintah maupun dengan elemen masyarakat sipil tanpa kehilangan independensi dan fungsi kritisnya. Kepercayaan publik terhadap TRUK tinggi. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas TRUK dalam reduksi human trafficking tidak hanya bergantung pada kapasitas teknis, tetapi juga pada integrasi antara nilai, strategi komunikasi, dan legitimasi sosial yang kuat.

Kata kunci: Aktivisme, NGOs, Advokasi, Human Trafficking, TRUK.

Abstract

Human trafficking is a complex crime against humanity and a serious threat in Sikka Regency, East Nusa Tenggara, a region marked by high social and economic vulnerability. Although the Indonesian government has established a legal framework through Law No. 21 of 2007 and the Anti-Human Trafficking Task Force, limitations in state capacity have created space for civil society organizations to play a strategic role. One such organization is Perkumpulan Perempuan TRUK.

This study examines the activism of the TRUK Women’s Association in combating human trafficking in Sikka Regency from 2019 to 2024. The analysis focuses on three key dimensions: institutional capacity, advocacy strategies, and partnerships and social legitimacy within the context of local development. Using a qualitative approach with an intrinsic case study design, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document analysis. The data were analyzed using the Miles and Huberman model, supported by triangulation to ensure credibility.

The findings suggest that TRUK’s activism embodies a participatory and transformative approach to development communication. Institutionally, TRUK demonstrates strong organizational structure, accountable governance, and human resources grounded in humanitarian values. Strategically, TRUK implements an integrated advocacy approach encompassing prevention, victim assistance, and public policy advocacy. In terms of partnerships and social legitimacy, TRUK maintains collaborative relationships with government and civil society actors while preserving its independence and critical role. This study concludes that TRUK’s effectiveness in reducing human trafficking is shaped by technical capacity and the integration of values, participatory communication strategies, and strong social legitimacy.

Keywords: Activism, NGOs, Advocacy, Human Trafficking, TRUK. 


Kata Kunci : Komunikasi Pembangunan

  1. S2-2025-527602-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527602-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527602-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527602-title.pdf