Karakteristik pengeringan kayu Pinus (Pinus Merkusii) pada lima umur dan rendemennya sebagai bahan baku Finger Joint laminated Board
Eko Teguh Prasetyo, Ir. Tomy Listyanto, S.Hut., M.Env.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN.Eng
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lima umur kayu Pinus (Pinus merkusii) yaitu umur 9, 14, 19, 24, dan 29 tahun dan tiga variasi ketebalan bahan baku (20 mm, 30 mm, dan 40 mm) terhadap karakteristik pengeringan serta rendemen sebagai bahan baku Finger Joint Laminated Board (FJLB). Sampel kayu berasal dari tebangan E (penjarangan) Perum Perhutani KPH Jember dan diolah menjadi Rough Sawn Timber (RST) sebelum dikeringkan menggunakan kiln dry. Pengamatan meliputi kadar air, berat jenis, penyusutan dimensi, cacat pengeringan, serta perhitungan rendemen sebelum dan sesudah pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur kayu berpengaruh signifikan terhadap rendemen RST setelah pengeringan (p = 0,017), sedangkan ketebalan tidak memberikan pengaruh nyata (p = 0,940). Kayu umur 19 tahun menghasilkan rendemen tertinggi, sementara umur 14 tahun merupakan yang terendah. Penyusutan dimensi dan cacat pengeringan bervariasi antar umur, terutama terkait proporsi juvenile wood dan stabilitas dimensi. Secara umum, performa pengeringan menunjukkan bahwa kayu Pinus penjarangan pada umur menengah memberikan efisiensi terbaik dalam mempertahankan volume setelah pengeringan. Temuan ini menegaskan bahwa variasi umur kayu perlu dipertimbangkan sebagai dasar seleksi bahan baku industri FJLB. Pemilihan umur yang tepat dapat meningkatkan efektivitas pemanfaatan log, mengoptimalkan rendemen, mengurangi cacat pengeringan, dan meningkatkan nilai tambah pada pengolahan kayu Pinus di lingkungan industri Perhutani.
This study investigates the effects of five age classes of Pine (Pinus merkusii), that is 9, 14, 19, 24, and 29 years old and three material thicknesses (20 mm, 30 mm, and 40 mm) on the drying characteristics and yield performance of logs processed into Finger Joint Laminated Board (FJLB). The samples originated from thinning operations (E-class harvest) in Perhutani KPH Jember and were sawn into Rough Sawn Timber (RST) prior to kiln drying. Observations included moisture content, specific gravity, dimensional shrinkage, drying defects, and yield calculations before and after drying. The results indicate that tree age significantly influences the yield of RST after drying (p = 0.017), whereas material thickness has no significant effect (p = 0.940). The 19-year age class exhibited the highest yield, while the 14-year class showed the lowest performance. Variations in shrinkage and drying defects among age classes were strongly associated with anatomical characteristics, particularly the proportion of juvenile wood. Overall, mid-age Pinus exhibited superior stability and recovery after drying, making it more suitable as raw material for FJLB production. These findings highlight the importance of selecting appropriate age classes in optimizing processing efficiency, minimizing drying defects, and maximizing value addition in Pinus-based engineered wood products within Perhutani’s industrial operations.
Kata Kunci : Pinus merkusii, pengeringan kayu, rendemen, finger joint laminated board, umur.