“Mengisi Desa Dari Dalam Desa” Sebagai Kekuatan Pembangunan Desa Sangat Tertinggal Di Nias Selatan
Elizabeth Maenitulo Duha, Isti Hidayati, S.T., M.Sc.. Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Tantangan pembangunan perdesaan di Nias Selatan adalah adanya gap antara program pemerintah dengan kebutuhan riil masyarakat, terutama di wilayah kepulauan dengan kondisi geografis dan sosial yang unik. Kesenjangan ini jarang dievaluasi, sehingga diperlukan pemahaman mendalam dari perspektif lokal untuk menyusun kebijakan yang lebih inklusif dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi pembangunan, kebutuhan masyarakat, dan proses penyusunan prioritas kebutuhan pembangunan berdasarkan narasi masyarakat lokal di desa-desa sangat tertinggal di Nias Selatan.
Dengan menggunakan pendekatan induktif-kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan kepala desa, kelompok pemuda, dan warga, serta observasi kondisi fisik dan sosial di 16 desa sangat tertinggal dengan berbagai variasi kondisi geografis. Analisis data dilakukan melalui reduksi dan interpretasi untuk menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan tujuh tema utama: aspirasi pembangunan, akses sebagai tulang punggung, disfungsi fasilitas, partisipasi komunitas, hambatan geografis, program yang tidak tepat sasaran, dan desentralisasi peran. Tema-tema ini membentuk tiga konsep kunci: pembangunan berbasis aspirasi, Peran Aktif Masyarakat, serta adaptasi terhadap kerentanan. Tiga konsep tersebut mengerucut pada teori lokal, yaitu “Mengisi desa dari dalam desa” sebagai kekuatan pembangunan desa sangat tertinggal di Nias Selatan. Teori lokal ini menekankan pentingnya mengubah paradigma pembangunan dari top-down menjadi pendekatan yang mempertimbangkan seluruh aspek dan kondisi lokal, sehingga kebijakan dapat dievaluasi dan diimplementasikan secara lebih relevan dan tepat sasaran.
The challenge of rural development in South Nias is the gap between government programs and the actual needs of communities, especially in archipelagic regions with unique geographical and social conditions. This gap is rarely evaluated, necessitating an in-depth understanding from a local perspective to formulate more inclusive and effective policies. This study aims to identify development conditions, community needs, and the process of prioritizing development needs based on the narratives of local communities in severely underdeveloped villages in South Nias.
Using an inductive-qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with village heads, youth groups, and residents, as well as observations of physical and social conditions in 16 severely underdeveloped villages with varied geographical conditions. Data analysis was conducted through condensation and interpretation to draw conclusions. The findings revealed seven main themes: development aspirations, access as a vital link, dysfunctional facilities, community participation, geographical barriers, mistargeted programs, and decentralization of roles. These themes formed three key concepts: aspiration-based development, village participation and self-reliance, and adaptation to vulnerability. These three concepts converge into a local theory: 'Developing from within the village' as a driving force for the development of severely underdeveloped villages in South Nias. This local theory emphasizes the importance of shifting the development paradigm from a top-down approach to one that considers all local aspects and conditions, enabling policies to be evaluated and implemented in a more relevant and targeted manner.
Kata Kunci : Pembangunan Desa, Partisipasi Masyarakat, Kemandirian Lokal, Desa Sangat Tertinggal, Nias Selatan.