Modal Sosial Dalam Pengembangan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Kecamatan Gading, Probolinggo
ANDHIKA SILVA YUNIANTO, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc. ; Dr. Ir. Tri Atmojo, S.Hut., M.T., IPU.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) sebagai salah satu skema Perhutanan Sosial sangat bergantung pada kapasitas sosial dan kelembagaan kelompok pengelolanya. Modal sosial dipandang sebagai faktor kunci yang memengaruhi efektivitas pengelolaan hutan berbasis masyarakat, khususnya dalam konteks kerja sama multipihak dan pengembangan ekonomi hijau berbasis biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kondisi modal sosial anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Subur dan KTH Ranu Makmur dalam pengelolaan HKm, serta (2) menyusun strategi pengembangan pengelolaan kawasan hutan pada areal HKm berdasarkan kondisi modal sosial yang ada.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan metode sensus terhadap anggota KTH. Pengukuran modal sosial dilakukan menggunakan kerangka Social Capital Integrated Questionnaire (SC-IQ) yang mencakup enam dimensi, yaitu partisipasi dalam jaringan, timbal balik, kepercayaan, norma, nilai-nilai, dan tindakan pro-aktif. Analisis strategis dilakukan melalui analisis SWOT yang dilanjutkan dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk menentukan prioritas strategi pengelolaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial anggota KTH Alam Subur dan KTH Ranu Makmur secara umum berada pada kategori tinggi, namun dengan konfigurasi dimensi yang berbeda. KTH Alam Subur memiliki kekuatan modal social internal yang lebih konsisten, terutama pada dimensi timbal balik, norma, dan nilai-nilai, sedangkan KTH Ranu Makmur relatif lebih kuat pada dimensi partisipasi jaringan dan kepercayaan, tetapi masih lemah pada aspek timbal balik dan tindakan pro-aktif. Hasil analisis SWOT menempatkan pengelolaan HKm pada Kuadran I, yang menunjukkan bahwa kekuatan internal dan peluang eksternal dapat dimanfaatkan melalui strategi pertumbuhan. Berdasarkan hasil QSPM, strategi prioritas utama adalah pengembangan agroforestri berbasis tanaman bioenergi dengan dukungan kemitraan dan program tanggung jawab sosial perusahaan.
Penelitian ini menegaskan bahwa modal sosial tidak hanya berfungsi sebagai faktor pendukung, tetapi merupakan landasan utama dalam perumusan dan prioritisasi strategi pengelolaan HKm. Oleh karena itu, strategi pengelolaan hutan yang berkelanjutan perlu disusun secara kontekstual dengan mempertimbangkan konfigurasi modal sosial yang dimiliki oleh masing-masing kelompok pengelola.
The management of Community Forests as part of Indonesia’s Social Forestry scheme is highly dependent on the social and institutional capacity of the local forest farmer groups. Social capital is considered as the key factor influencing the effectiveness of community-based forest management, particularly in the context of multi stakeholder partnerships as well as green economy initiatives based on biomass development. This study aims to (1) analyze the condition of social capital among members of the Alam Subur and Ranu Makmur Forest Farmer Groups in the community forest management, and (2) formulate development strategies for the community forest management areas based on existing social capital conditions.
This research employs mixed-methods approach and using a census method for KTH members. Social capital was measured using the Social Capital Integrated Questionnaire (SC-IQ), covering six dimensions: participation in networks, reciprocity, trust, norms, values, and proactive actions. Furthermore, strategic analysis was conducted using SWOT analysis, followed by the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) to determine priority management strategies.
The results indicate that the overall level of social capital in both KTH Alam Subur and KTH Ranu Makmur is high, although the configuration of social capital dimensions differs between the two groups. KTH Alam Subur demonstrates stronger and more consistent internal social capital, particularly in terms of reciprocity, norms, and shared values. In contrast, KTH Ranu Makmur shows relatively stronger network participation and trust, but weaker reciprocity and proactive actions. SWOT analysis places HKm management in Quadrant I, indicating favorable conditions where internal strengths can be leveraged to capitalize on external opportunities. Based on QSPM results, the highest-priority strategy is the development of bioenergy-based agroforestry supported by partnerships and corporate social responsibility programs.
This study concludes that social capital is not merely a supporting factor but a fundamental basis for formulating and prioritizing community forest management strategies. Therefore, sustainable HKm management strategies should be developed contextually by considering the specific configuration of social capital within each forest farmer group.
Kata Kunci : Modal sosial, Hutan Kemasyarakatan, Kelompok Tani Hutan, Perhutanan sosial, Strategi pengelolaan hutan.