PERBEDAAN MATURASI GIGI PERMANEN ANAK STUNTING DAN NORMAL USIA 6 - 9 TAHUN DI KECAMATAN TOROH, GROBOGAN, JAWA TENGAH (Pendekatan Metode Demirjian)
Auliya Rahma, Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA(K), PhD; Prof. Dr. drg. Al. Supartinah, SU., Sp.KGA(K)
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Kesehatan Gigi Anak
Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Toroh
merupakan salah satu kabupaten di Grobogan, Jawa Tengah yang tercatat sebagai
salah satu daerah dengan masalah gizi yaitu stunting. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui perbedaan maturasi gigi antara anak stunting
dan anak normal usia 6-9 tahun di Kecamatan Toroh.
Penelitian observasional dengan pendekatan
potong lintang dilakukan terhadap 27 anak stunting dan 27 anak normal
usia 6-9 tahun. Status gizi dinilai berdasarkan tinggi badan menurut usia
(TB/U) yang mengacu pada kurva pertumbuhan WHO 2007 dan buku Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA). Penentuan stunting apabila anak memiliki TB/U kurang dari -2
SD dan buku KIA menunjukkan riwayat TB/U selalu di bawah -2SD; dan anak dinilai
normal apabila TB/U antara -2 SD sampai + 2 SD, dengan riwayat (buku KIA) tidak
ada pengalaman TB/U di bawah -2SD. Penilaian kematangan gigi permanen dilakukan
dengan metode Demirjian pada foto panoramik.
Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji-t independen pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor pematangan gigi anak stunting pada semua kelompok umur secara signifikan lebih rendah (p<0>
Dapat disimpulkan bahwa anak stunting mengalami keterlambatan pematangan gigi dibandingkan dengan anak normal usia 6 – 9 tahun di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Stunting is a condition of chronic malnutrition that
can affect the physical growth and cognitive development of children. Toroh is
a district in Grobogan, Central Java, which is listed as one of the areas with
nutritional problems, stunting. The purpose of this study was to
determine the tooth maturation difference between stunted and normal children
aged 6-9 years in Toroh District.
An observational study with a cross-sectional
approach was conducted on 27 stunted and 27 normal children aged 6-9 years. The
nutritional status was assessed based on height for age (H/A), referred to the
WHO 2007 growth curve and their Maternal and Child Health (KIA)book. Stunted was assessed when the H/A
of the child was less than minus 2 SD, and the KIA book showed a history of the
H/A being always under - 2SD; and normal when the H/A was between minus 2 SD
and + 2 SD, with a history (KIA book) was no experience of H/A under -2SD. The
assessment of permanent tooth maturation was performed using the Demirjian
method on panoramic radiographs.
The result was analyzed using an independent t-test at a 95% confidence level. The results showed that the mean dental maturation score of stunted children in all age groups was significantly lower (p<0>
It may be concluded that stunted
children had delayed dental maturation compared with normal children in Toroh
District, Grobogan Regency, Central Java.
Kata Kunci : Anak stunting, Maturasi gigi, Metode Dermijian, Kecamatan Toroh/ Stunted children; Dental Maturation; Dermijian method, Toroh district.