Laporkan Masalah

Faktor - Faktor yang Memengaruhi Daya Saing Bawang Merah di Kabupaten Nganjuk

Ramadhan Alaudin Gibran, Ir. Any Suryantini, M.M., Ph.D. ; Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc.

2025 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian

Daya saing suatu komditas dapat digambarkan dengan melihat keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatifnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat daya saing kompetitif dan komparatif, dampak kebijakan pemerintah yang berlaku terhadap daya saing, perubahan daya saing akibat perubahan harga input dan harga output , serta faktor-faktor yang memengaruhi daya saing bawang merah. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Rejoso dan Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk yang merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia. Metode analisis data menggunakan PAM (Policy Analysis Matrix) untuk mengetahui tingkat daya saing, dampak kebijakan, dan sensitivitas harga. Selain itu, dilakukan regresi linear berganda untuk melihat faktor-faktor yang diduga memengaruhi daya saing usaha tani bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tani bawang merah di Kabupaten Nganjuk berdaya saing secara kompetitif dan komparatif dan tergolong berdaya saing tinggi. Dampak kebijakan pemerintah terhadap output, input, dan output-input secara simultan sudah memberikan insentif atau dapat melindungi petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk. Keunggulan kompetitif bawang merah di Kabupaten Nganjuk tidak sensitif terhadap perubahan harga input dan harga output. Faktor yang meningkatkan daya saing kompetitif bawang merah adalah produktivitas, harga bawang, harga pupuk NPK, harga pestisida cair, dan teknik pengolahan lahan. Sementara itu, faktor yang meningkatkan daya saing komparatif bawang merah adalah produktivitas. 

The competitiveness of a commodity can be described by looking at its competitive and comparative advantages. This study aims to analyze the level of competitive and comparative competitiveness, the impact of applicable government policies on competitiveness, changes in competitiveness due to changes in input and output prices, and factors that affect the competitiveness of shallots. The research was conducted in Rejoso and Gondang subdistricts, Nganjuk Regency, which is one of the shallot production centers in Indonesia. The data analysis method used PAM (Policy Analysis Matrix) to determine the level of competitiveness, the impact of policies, and price sensitivity. In addition, multiple linear regression was performed to identify factors that are suspected to influence the competitiveness of shallot farming businesses. The results of the study indicate that red onion farming in Nganjuk Regency is competitively and comparatively competitive and is classified as highly competitive. The impact of government policies on output, input, and output-input simultaneously has provided incentives or protection for red onion farmers in Nganjuk Regency. The competitive advantage of red onions in Nganjuk Regency is not sensitive to changes in input and output prices. Factors that increase the competitive advantage of shallots are productivity, shallot prices, NPK fertilizer prices, liquid pesticide prices, and land cultivation techniques. Meanwhile, the factor that increases the comparative advantage of shallots is productivity. 

Kata Kunci : Daya Saing, Bawang Merah, Sensitivitas, PAM, Kebijakan

  1. S2-2025-525785-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525785-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525785-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525785-title.pdf