Model Collaborative Manufacturing untuk Peningkatan Daya Saing Industri Kecil dan Menengah Batik di Indonesia
Muhammad Shodiq Abdul Khannan, Ir. M. K. Herliansyah, S.T., M.T., Ph.D., IPU, ASEAN ENG
2025 | Disertasi | DOKTOR TEKNIK INDUSTRI
Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan pilar penting perekonomian Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Perkembangan perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dipengaruhi secara signifikan oleh pertumbuhan ekonomi sektor industri yang semakin pesat, khususnya pada industri pengolahan usaha mikro, kecil, dan menengah (IKM). Penelitian ini lebih fokus terhadap Industri Kecil dan Menengah Batik yang menjadi merupakan warisan budaya di Indonesia. Latar belakang masalah yang ingin diselesaikan dari penelitian ini Industri IKM Batik saat ini menghadapi fenomena tingkat persaingan yang semakin ketat, siklus hidup produk yang semakin singkat, dan permintaan konsumen yang semakin beragam. Dalam rangka menghadapi fenomena tersebut perusahaan harus memiliki keunggulan kompetitif untuk bisa bersaing, antara lain kualitas produk, delivery time, harga, dan atau fleksibilitas. Keunggulan kompetitif bisa dicapai dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki perusahaan ataupun sumber daya lain di luar perusahaan yang bisa dimanfaatkan dengan jalan berkolaborasi. Hasil observasi awal di beberapa sentra batik Yogyakarta menunjukkan kerja sama internal antar anggota sentra masih belum optimal.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendorong para pelaku IKM khususnya pada sektor tekstil batik agar secara optimal mengembangkan perekonomian dalam lingkup sentra dengan berkolaborasi. Penelitian ini secara khusus melakukan bertujuan: 1) Melakukan analisis faktor-faktor apa saja yang memotivasi Industri Kecil dan Menengah Batik Tulis di Indonesia untuk berkolaborasi satu sama lain, 2) Mengembangkan model Collaborative Product Design yang tepat diaplikasikan ke dalam kolaborasi manufaktur Industri Kecil dan Menengah Batik Tulis di Indonesia, 3) Mengembangkan model Collaborative Manufacturing yang mempertimbangkan production planning dan worker assignment Industri Kecil dan Menengah Batik Tulis di Indonesia, Hasil yang dicapai dari penelitian disertasi sampai saat ini: 1) Penelitian kemauan pemilik IKM Batik untuk berkolaborasi, 2) Jalur menuju Peningkatan kecepatan time to market dengan konsep Collaborative New Product and Development, 3) Perbaikan kinerja produksi IKM Batik dengan metode DES, 4) Studi Literatur tentang integrasi Perencanaan Produksi ke dalam Collaborative Manufacturing, 5) Studi Kasus Collaborative Manufacturing dengan Pendekatan DES.
Berdasarkan hasil analisis faktor, Kepercayaan dan Desain merupakan faktor pendorong niat pemilik IKM untuk bergabung dengan Collaborative Manufacturing Networks. Infrastruktur, Pertumbuhan Ekonomi, dan Sumber Daya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesediaan untuk berkolaborasi dari model SEM asli. Dalam penelitian ini sudah dibuat jalur/framework penelitian Collaborative Product Design untuk meningkatkan efektivitas biaya (cost effectiveness) dan kecepatan waktu peluncuran ke pasar (time to market speed) menggunakan konsep Integrated Collaborative Product dalam bentuk sebuah critical review. Berdasarkan hasil simulasi stasiun kerja yang diprioritaskan untuk diperbaiki adalah stasiun kerja Klowong, Isen-isen, Gringsing dan Bironi. Skenario 4 yang menugaskan pekerja subkontrak ke stasiun kerja Klowong, Isen-isen, dan Gringsing adalah skenario terbaik. Hasil CMS tanpa mempertimbangkan jarak riil Sinar Abadi Batik memiliki manufacturing lead time terbaik pada kolaborasi satu proses (718463.48 detik), Sidomukti Batik pada kolaborasi satu proses (1546484.22 detik), sedangkan Nur Giri Indah manufacturing lead time terbaik pada kolaborasi dua proses (99383.48 detik). Jika ditinjau secara sistem maka kolaborasi satu proses merupakan kolaborasi terbaik untuk CMS tidak mempertimbangkan jarak riil. Pada CMS dengan mempertimbangkan jarak riil Sinar Abadi Batik memiliki manufacturing lead time terbaik pada kolaborasi tiga proses (728643.36 detik), Sidomukti Batik pada kolaborasi tiga proses (1536373.19 detik), sedangkan Nur Giri Indah manufacturing lead time terbaik pada kolaborasi satu proses (1482501.34detik). Jika ditinjau secara sistem maka kolaborasi dua proses merupakan kolaborasi terbaik untuk CMS dengan mempertimbangkan jarak riil karena nilai maksimal manufacturing lead time dari keseluruhan sistem (tiga sentra IKM) memiliki nilai terkecil= 1545981.13 detik. Untuk kriteria average worktation utility kolaborasi dua proses merupakan kolaborasi terbaik adalah skenario yang tidak mempertimbangkan jarak riil (11,36 persen). Sedangkan untuk kriteria average worker utility yang mempertimbangkan jarak riil, kolaborasi tiga proses merupakan kolaborasi terbaik dengan nilai average worker utility 8,862 persen. Sedangkan untuk kriteria performansi MLT, nilai improvement MLT terbaik ketika kolaborasi dilakukan di intra sentra IKM terbaik pada kolaborasi 2 proses (59%), dan nilai improvement keuntungan per tahun terbaik ketika dilakukan kolaborasi tiga proses dengan mempertimbangkan jarak riil (38%).
<!--[if gte mso 9]><xml>