Laporkan Masalah

PENGALAMAN IBU DALAM PEMANTAUAN GIZI BALITA MELALUI PROGRAM PEMERIKSAAN KESEHATAN ANAK TERINTEGRASI (PKAT) DI PUSKESMAS SLEMAN

Mahran Afina Ghassani Sasmaja, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes; Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M. Biotech

2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Program Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) merupakan upaya strategis yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan anak, terutama dalam deteksi dini masalah tumbuh kembang dan pemantauan gizi balita. Di Kabupaten Sleman, program ini telah diterapkan di puskesmas-puskesmas sebagai proyek percontohan sejak tahun 2022 dan

telah diimplementasikan secara menyeluruh di tahun 2024.


Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman ibu dalam pemantauan gizi balita melalui program PKAT di Puskesmas Sleman.


Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, untuk menggali pengalaman ibu dalam pemantauan gizi balita melalui program PKAT. Pemilihan partisipan dipilih dengan purposive sampling dengan cara maximum variation sampling. Jumlah partisipan ada 7 partisipan utama yaitu ibu balita usia 6 hingga 7 bulan dan 2 partisipan pendukung yaitu pendamping pengasuhan selain ibu. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipatif, wawancara mendalam dan studi dokumen. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Sleman

setelah mendapatkan izin dari Komisi Etik FKKMK UGM. Analisis data dilakukan dengan mentranskrip data, koding, kategorisasi data, pengelompokkan tema, dan verifikasi data dan penyajian data. Keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas yaitu triangulasi data dan member checking. Analisis data menggunakan bantuan Atlas.Ti website.


Hasil: Penelitian ini menghasilkan empat tema utama, yaitu penyebaran informasi PKAT, faktor pendorong dan dukungan, pengalaman selama PKAT, serta dampak dan harapan keberlanjutan PKAT. Informasi PKAT umumnya diperoleh kader atau bidan. Keikutsertaan ibu dipengaruhi beberapa faktor. Pelaksanaan PKAT dinilai nyaman, alurnya jelas, dan konseling gizinya mudah dipahami. Setelah PKAT, ibu mulai memperbaiki pola pemberian MPASI dan pemantauan gizi anak. Secara keseluruhan, PKAT memberi pengetahuan baru dan membantu memahami kondisi tumbuh kembang anak.


Kesimpulan: PKAT memberikan dampak positif bagi ibu balita dalam hal meningkatnya pengetahuan, perubahan perilaku pemberian makan, serta pemantauan gizi anak. Program ini dinilai bermanfaat dan mudah diikuti. Sebagian besar ibu berharap PKAT dapat terus dilaksanakan secara rutin dan menjangkau sasaran usia yang lebih luas.

Background: The Integrated Child Health Examination Program (Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi / PKAT) is an Indonesian government initiative aimed at improving child health services, particularly early detection of growth and developmental problems and nutritional monitoring among toddlers. In Sleman Regency, PKAT was piloted in primary health centers in 2022 and fully implemented in 2024.

Objective: This study explored mothers’ experiences in monitoring toddler nutrition through the PKAT program at Puskesmas Sleman.

Methods: A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Participants were selected using purposive sampling with a maximum variation strategy, involving seven mothers of toddlers aged 6–7 months and two supporting caregivers. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and document review. Data analysis included transcription, coding, theme development, and verification, supported by ATLAS.ti software. Data credibility was ensured through triangulation and member checking.

Results: Four main themes emerged: dissemination of PKAT information, motivating factors and support, experiences during PKAT implementation, and the perceived impacts and expectations for program sustainability. Information about PKAT was mainly obtained from community health volunteers and midwives. Mothers perceived the program as well-organized, comfortable, and informative. Nutritional counseling was considered clear and easy to understand. Participation in PKAT encouraged improvements in complementary feeding practices and increased awareness of child nutritional monitoring.

Conclusion: PKAT positively influences mothers’ knowledge and behaviors related to child nutrition and growth monitoring. The program is perceived as beneficial and feasible, and mothers expressed expectations for its continued and expanded implementation.

Kata Kunci : Ibu Balita, Pengasuh Balita, PKAT, Pemantauan Gizi

  1. S2-2025-526907-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526907-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526907-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526907-title.pdf