Laporkan Masalah

Farmer's Adaptive Behaviour Towards Eco Tourism Integration In The Implementation Of Tri Hita Karana Values Within The Subak Organisations In Bali Province

Ni Wayan Atik Sarmila Dewi, Ratih Ineke Wati, SP, M.Agr., Ph.D; (Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S.

2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan

Eco tourism telah menjadi salah satu pendekatan paling strategis dalam mempertahankan sistem pertanian di Provinsi Bali, terutama ketika pembangunan pariwisata yang pesat dan percepatan alih fungsi lahan terus memberi tekanan pada lanskap pertanian tradisional. Meskipun sektor pertanian tetap menjadi penopang ketahanan pangan dan identitas budaya, ekspansi sektor pariwisata telah mengalihkan tenaga kerja, bahkan meningkatkan alih fungsi lahan sebesar 700 hingga 1.000 hektare setiap tahun, dan menggeser prioritas ekonomi masyarakat dari pertanian. Tentunya, eco tourism menjadi win-win solution yang selaras antara kebutuhan masyarakat lokal dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Organisasi Subak, dikenal dengan sistem manajemen irigasinya, semakin mengintegrasikan eco tourism untuk menjaga keberlanjutan pertanian sembari mempertahankan nilai Tri Hita Karana yang memandu harmoni spiritual, sosial dan ekologis.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku adaptif petani terhadap integrasi eco tourism dalam organisasi Subak di Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Badung. Pendekatan Structural Equation Modelling digunakan untuk menguji pengaruh faktor internal dan eksternal pada 12 organisasi Subak, melibatkan 180 responden setelah mengeluarkan 4 outlier dari total awal 184 responden. Model penelitian menunjukkan tingkat kesesuaian yang sangat baik dengan nilai Chi Square = 7,754, df = 18, probability = 0,933, RMSEA = 0,000, GFI = 0,991, AGFI = 0,968, TLI = 1,038 dan NFI = 0,987 yang menunjukkan validitas struktural yang kuat.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal secara signifikan memengaruhi perilaku adaptif petani terhadap integrasi eco tourism. Faktor internal, terdiri atas persepsi, motivasi dan sikap, memiliki pengaruh langsung yang signifikan meskipun relatif lemah, dengan nilai estimasi standar sebesar 0,191 dan p value 0,045. Persepsi merupakan indikator internal paling dominan dengan nilai loading 0,778, diikuti motivasi 0,774 dan sikap 0,742. Hasil ini menunjukkan bahwa petani dengan pemahaman positif terhadap manfaat eco tourism lebih cenderung beradaptasi, meskipun faktor motivasi dan sikap juga memberikan peran yang bermakna.

Faktor eksternal menunjukkan pengaruh yang lebih kuat, dengan nilai estimasi standar sebesar 0,296 dan p value 0,020. Peran pekaseh menjadi indikator paling dominan dengan loading factor 0,798, menegaskan bahwa kepemimpinan tradisional tetap berperan besar dalam mengarahkan adaptasi. Media sosial juga berperan signifikan dengan nilai loading 0,764, menunjukkan peran komunikasi modern dalam penyebaran informasi dan dukungan adaptasi. Regulasi subak memberikan pengaruh yang moderat (loading 0,743), sementara penyuluh memberikan kontribusi paling rendah (loading 0,569), yang menunjukkan perlunya peningkatan kolaborasi kelembagaan.

Pada dimensi Tri Hita Karana, Parhyangan mencatat nilai loading terbesar yaitu 0,816, menunjukkan bahwa keselarasan spiritual merupakan aspek paling berpengaruh dalam perilaku adaptif. Pawongan berada pada posisi berikutnya dengan loading 0,800, sedangkan Palemahan memiliki kontribusi paling rendah sebesar 0,602.

Hubungan faktor internal dan eksternal bersifat lemah dan tidak signifikan, dengan estimasi standar sebesar 0,006 dan p > 0,05, menunjukkan bahwa keduanya beroperasi secara independen.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa eco tourism menjadi mekanisme adaptasi yang efektif apabila selaras dengan legitimasi budaya dan dukungan kelembagaan. Penguatan persepsi dan kepemimpinan pekaseh, serta landasan adaptasi pada nilai Parhyangan, sangat penting agar integrasi eco tourism memperkuat ketahanan sistem Subak tanpa mengganggu keseimbangan budaya dan ekologi.

Ecotourism has become one of the most strategic approaches for sustaining agricultural systems in Bali Province, where rapid tourism development and accelerated land conversion continue to exert pressure on traditional farming landscapes. While agriculture remains essential for food security and cultural identity, the expansion of the tourism sector has redirected labor, increased land conversion by 700 to 1,000 hectares annually, and shifted economic priorities away from farming. In this context, ecotourism provides an alternative livelihood that is compatible with cultural heritage and environmental stewardship. Subak organizations, recognized for their irrigation management and cultural significance, have increasingly integrated ecotourism to maintain agricultural viability while preserving Tri Hita Karana values that guide spiritual, social, and ecological harmony.

The purpose of this study is to analyze farmers’ adaptive behavior towards ecotourism integration within Subak organizations in Gianyar, Tabanan, and Badung. This research employed structural equation modeling to examine the influence of internal and external factors across 12 Subak organizations, involving 180 respondents after removing 4 outliers from an initial 184. The model demonstrated an excellent fit, reflected in Chi Square = 7.754, df = 18, probability = 0.933, RMSEA = 0.000, GFI = 0.991, AGFI = 0.968, TLI = 1.038, and NFI = 0.987, indicating robust structural validity.

The findings reveal that internal and external factors significantly shape farmers’ adaptive behavior toward ecotourism integration. Internal factors, consisting of perception, motivation, and attitude, show a significant but relatively weak direct influence on adaptive behavior, with a standardized estimate of 0.191 and a p-value of 0.045. Perception is the most dominant internal indicator, with a loading factor of 0.778, followed closely by motivation at 0.774 and attitude at 0.742. These results indicate that farmers who have a positive understanding of ecotourism benefits are more inclined to adapt, although motivational and attitudinal aspects also play meaningful roles.

External factors show a stronger influence, with a standardized estimate of 0.296 and a p-value of 0.020. The role of the pekaseh is the strongest external indicator with a loading factor of 0.798, demonstrating that traditional leadership remains central in guiding adaptation. Social media also emerges as a significant driver, reflected in a loading factor of 0.764, indicating that modern communication facilitates information dissemination and supports adaptation efforts. Subak regulations show a moderate influence (loading factor 0.743), while extension officers contribute the least (loading factor 0.569), suggesting the need for improved institutional collaboration.

Regarding the Tri Hita Karana dimensions, Parhyangan records the highest loading factor at 0.816, illustrating that spiritual alignment is the most influential aspect of adaptive behavior. Pawongan follows at 0.800, showing that social cooperation is also vital in ensuring successful integration. Palemahan has the lowest contribution at 0.602, reflecting that environmental considerations, though important, are not as strongly prioritized in adaptive responses.

The correlation between internal and external factors is weak and not significant, with a standardized estimate of 0.006 and p > 0.05. This shows that although both dimensions significantly influence adaptive behavior, they operate independently.

Overall, the study concludes that ecotourism serves as an effective adaptive mechanism when it is aligned with cultural legitimacy and institutional support. Strengthening perception and pekaseh leadership, while grounding adaptive efforts in Parhyangan, is essential to ensure that eco tourism integration reinforces Subak resilience rather than disrupts cultural and ecological balance.

Kata Kunci : Ecotourism, Subak, Tri Hita Karana, adaptive behavior.

  1. S2-2025-530138-abstract.pdf  
  2. S2-2025-530138-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-530138-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-530138-title.pdf