Potensi Ekstrak Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium sp.) sebagai Bioherbisida Pengendali Gulma Gletang (Tridax procumbens) Pada Pertanaman Kedelai (Glycine max L.)
Yumna Hanifa Setya, Dr. Dyah Weny Respatie, S.P., M.Si.; Prof. Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc.
2025 | Tesis | S2 Agronomi
Produksi kedelai di Indonesia dipengaruhi
beberapa faktor. Salah satu faktor lingkungan yang ada di lahan pertanaman
kedelai adalah adanya gangguan gulma, misalnya gulma Tridax procumbens.
Pengendalian gulma di lahan pertanaman kedelai pada umumnya menggunakan
herbisida sintesis yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan masalah
kesehatan makhluk hidup lainnya. Maka dari itu perlu pengendalian gulma yang
lebih ramah lingkungan seperti pemanfaatan biomassa limbah panen krisan (Chrysanthemum
morifolium L.) dari family asteraceae sebagai bioherbisida. Penelitian ini
dilakukan untuk menentukan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak krisan
yang berpotensi sebagai bahan bioherbisida, menentukan ekstrak bagian tanaman
krisan dan konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan gulma tridax tetapi
tidak menghambat pertumbuhan kedelai, serta menentukan waktu aplikasi
bioherbisida krisan yang tepat untuk mengendalikan gulma pada pertanaman
kedelai. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2024 hingga Juli 2025 di Laboratorium
Penelitian dan Pengujian Terpadu, Laboratorium Agrotropica Learning Center, Laboratorium
Manajemen Produksi dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa metabolit
sekunder yang terdapat pada ekstrak krisan yang berpotensi sebagai bahan
bioherbisida adalah 9-Octadecenamide (Z)-, Cyclononasiloxane octadecamethyl-,
dan Hexadecanoic acid. Ekstrak daun dan batang krisan dengan konsentrasi 40 g.L-1
dapat mneghambat pertumbuhan gulma Tridax tetapi tidak menghambat
pertumbuhan kedelai. Waktu aplikasi bioherbisida krisan yang tepat untuk
mengendalikan gulma pada pertanaman kedelai adalah pada bersamaan dengan saat
tanam kedelai untuk efektivitas waktu dan tenaga kerja.
Soybean production in Indonesia is influenced
by several factors. One of the environmental factors affecting soybean
cultivation is the presence of weeds, such as Tridax procumbens. Weed control
in soybean plantations generally uses synthetic herbicides that can cause
environmental pollution and health problems for other living creatures.
Therefore, more environmentally friendly weed control is needed, such as the
use of chrysanthemum (Chrysanthemum morifolium L.) harvest waste biomass from
the Asteraceae family as a bioherbicide. This study was conducted to determine
the secondary metabolites present in chrysanthemum extracts that have the
potential to be used as bioherbicides, to determine the chrysanthemum plant
extracts and concentrations that can inhibit the growth of Tridax weeds but not
soybean growth, and to determine the appropriate application time for
chrysanthemum bioherbicides to control weeds in soybean plantations. This
research was conducted from April 2024 to July 2025 at the Integrated Research
and Testing Laboratory, Agrotropica Learning Center Laboratory, Production
Management Laboratory, and Greenhouse, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada
University, Yogyakarta. The results showed that the secondary metabolites in
chrysanthemum extract that have potential as bioherbicides are 9-Octadecenamide
(Z)-, Cyclononasiloxane octadecamethyl-, and Hexadecanoic acid. Chrysanthemum
leaf and stem extracts with a concentration of 40 g.L-1 can inhibit the growth
of Tridax weeds but do not inhibit soybean growth. The appropriate application
time for chrysanthemum bioherbicide to control weeds in soybean crops is at the
same time as soybean planting for time and labor efficiency.
Kata Kunci : alelopati, bioherbisida, gulma tridax procumbens, kedelai, krisan