Efektifitas Kangaroo Mother Care sebagai Metode Non-Farmakologi dalam Mengurangi Nyeri pada Neonatus Kurang Bulan
Khodimatur Rofiah, Dr. dr. Tunjung Wibowo, MPH, M. Kes, Sp. AK; Dr. dr. Ekawaty Lutfia Haksari, MPH, Sp.AK
2025 | Tesis-Subspesialis | SUBSPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK
Tujuan Penelitian: Menganalisis efektifitas Kangaroo Mother
Care (KMC) yang dilakukan bersamaan dengan pemberian ASI perah sebagai metode
non-farmakologi dalam mengurangi nyeri sebelum, saat, dan setelah prosedur pengambilan
sampel darah tumit pada neonatus kurang bulan.
Metode: Non-blinding Randomized Controlled Trial (RCT) yang dilaksanakan pada Mei – Oktober 2025 di ruang NICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Subjek penelitian adalah neonatus kurang bulan dengan usia gestasi 28 – 36 minggu yang menjalani pemeriksaan tusuk tumit (heel prick). Subjek dibagi menjadi dua kelompok menggunakan metode randomisasi blok: kelompok kontrol mendapatkan ASI perah saja, dan kelompok intervensi mendapatkan ASI perah dan KMC. Luaran primer berupa hubungan KMC dengan skor Premature Infant Pain Profile Revised (PIPP-R) yang diukur sebanyak 3 kali beserta hubungan KMC dengan perubahan nilai saturasi regional serebral (rSO2). Luaran sekunder berupa hubungan antara nyeri neonatus (PIPP-R) dengan variabel luar. Keduanya dianalisis menggunakan uji Mann Whitney / Independent Sample T-Test untuk data kategorik dan uji Pearson Spearman untuk data numerik (nilai signifikan p < 0>
Hasil Penelitian: Sebanyak 56 neonatus kurang bulan memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi penelitian, yang terdiri dari 36 neonatus
laki-laki dan 20 neonatus perempuan. Sebanyak 28 neonatus teralokasi ke dalam
kelompok kontrol dan 28 neonatus ke dalam kelompok intervensi, yang
dialokasikan menggunakan randomisasi blok. Rata-rata berat lahir sebesar 1697 ±
234,9 gram dan rata-rata usia gestasi 32,38 ± 2,01 minggu. Saat prosedur uji
tusuk tumit, skor PIPP-R pada kelompok intervensi ditemukan lebih rendah secara
statistik (p=0,003). Usia kehamilan memiliki hubungan negatif secara signifikan
terhadap nyeri neonates saat 2 menit setelah uji tusuk tumit (p=0,025).
Kesimpulan: Mengaplikasikan KMC saat uji tusuk tumit (heel
prick) dapat mengurangi nyeri prosedural pada neonatus kurang bulan secara
signifikan.
Objective: The study was to investigate the effectiveness of
KMC which carried out simultaneously with giving expressed breastmilk as a non-pharmacological
method in reducing pain before, during, and after heel pricksampling procedure
in preterm neonates.
Method: Non-blinding randomized controlled trial was conducted during May – October 2025 at the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Sardjito Hospital, Yogyakarta. Hemodynamically stable newborns undergoing heel prick for routine glucose monitoring and/ or newborn screening were randomized into two groups with informed parental consent. Using block randomization, the newborns received only breastmilk (control) or breastmilk and KMC (intervention). The correlation between KMC and PIPP-R score which was measured 3 times and correlation between KMC and differences of regional cerebral saturation as the primary outcome. Meanwhile the correlation between pain score (PIPP-R) and other variables were the secondary outcome. Both were analysed with Mann Whitney / Independent Sample T-Test or Pearson / Spearman statistical analysis. A p value of < 0>
Result: Fifty six preterm neonates were eligible for the
study, consisting of 36 males and 20 females, with 28 in the control group and
28 in the intervention group. Mean birth weight was 1697 ± 234.9 gram and
gestational age 32.38 ±2.01 weeks. During heel prick, PIPP-R score in the
intervention group was significantly lower (p=0.003). Gestational age was then
found to have significant negative correlation with neonatal pain at 2 minutes
after heel prick (p=0.025.
Conclusion: Practicing KMC during heel prick procedures
could significantly reduce procedural pain in preterm neonates.
Kata Kunci : KMC, nyeri, neonatus kurang bulan, ASI, uji tusuk tumit, PIPP-R