Popular Films as Safe Spaces for Political Aggression: A Qualitative analysis on Quentin Tarantino Movies
Dimas Muhammad Akbar Ramadhan Fari, Dr. Suzie Handjani, MA
2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA
Film karya Quentin Tarantino, Inglourious Basterds (2009) dan Django Unchained (2012),
menandai pergeseran signifikan dalam filmografinya dari genre aksi-kriminal menjadi
"aksi-balas dendam-fantasi," yang memanfaatkan trauma sejarah Holocaust dan
Perbudakan Amerika sebagai latar naratif. Studi ini menganalisis bagaimana audiens
kontemporer menginterpretasikan kekerasan grafis dan narasi sejarah alternatif yang
disajikan dalam film-film tersebut. Menggunakan metode kualitatif dalam kerangka Kajian
Amerika (American Studies), data dikumpulkan dari komentar YouTube dan ulasan
Letterboxd, serta dianalisis menggunakan model Encoding/Decoding Stuart Hall,
bersamaan dengan teori Katarsis dan Sejarah Alternatif . Hasil penelitian menunjukkan
bahwa "pembacaan dominan" (dominant reading) adalah respons yang paling umum
ditemukan, di mana audiens menerima "fantasi kekuasaan" (power fantasy) tersebut dan
memandang kekerasan yang terjadi bukan sebagai agresi, melainkan sebagai serangan balik
moral yang dapat dibenarkan. Analisis mengungkapkan bahwa "tragedi yang hilang"
(missing tragedy) dalam narasi protagonis di layar digantikan oleh "ingatan kolektif"
(collective memory) audiens, yang memungkinkan format sejarah alternatif berfungsi
sebagai alat terapeutik untuk memproses trauma sejarah. Lebih jauh lagi, studi ini
mengidentifikasi adanya korelasi signifikan antara fantasi balas dendam ini dengan "Opini
Politik Agresif" (Aggressive Political Opinion) di kalangan penonton Amerika, yang sering
kali mengalegorikan penjahat sejarah dalam film sebagai representasi dari pemerintahan
Trump dan Partai Republik di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aksi
vigilantisme secara verbal yang sinematik menawarkan kelegaan psikologis sebagai ruang
aman bagi agresi politik, fenomena ini juga mencerminkan budaya kekerasan Amerika
yang terpolarisasi.
Keyword: Aggressive Political Opinion, Alternative History, Audience Reception,
Catharsis, Graphic Violence, Revenge, Quentin Tarantino
Quentin Tarantino's Inglourious Basterds (2009) and Django Unchained (2012) mark a
significant shift in the director's filmography from the action-crime genre to "actionrevenge-
fantasy," utilizing the historical traumas of the Holocaust and American Slavery
as narrative settings . This study analyzes how contemporary audiences interpret the
graphic violence and alternative history narratives presented in these films. Using a
qualitative method within an American Studies framework, data were collected from
YouTube comments and Letterboxd reviews and analyzed using Stuart Hall’s
Encoding/Decoding model, alongside Catharsis and Alternative History theories. The
results indicate that the "dominant reading" is the most prevalent response, where audiences
accept the "power fantasy" and view the violence not as aggression, but as a justified moral
counter-attack . The analysis reveals that the "missing tragedy" in the protagonists' onscreen
narratives is substituted by the audience's "collective memory," which allows the
alternative history format to function as a therapeutic tool for processing historical trauma
. Furthermore, the study identifies a significant correlation between these revenge fantasies
and "Aggressive Political Opinion" among American viewers, who frequently allegorize
historical villains as representations of the Trump administration and the Republican Party.
This suggests that while cinematic verbal vigilantism offers emotional relief as a safe space
for political aggression, it also reflects the polarized culture of American violence.
Keyword: Aggressive Political Opinion, Alternative History, Audience
Kata Kunci : Aggressive Political Opinion, Alternative History, Audience