Laporkan Masalah

Memahami Motif Perempuan Akseptor KB Aktif di Kota Yogyakarta

Alfi Pramesti Machzula, Prof. Dr.-Phil. Janianton Damanik, M.Si.

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Partisipasi perempuan dalam penggunaan alat kontrasepsi masih mendominasi hingga saat ini. Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama fungsi reproduksi dan narasi kebijakan program Keluarga Berencana (KB) memperkuat dominasi perempuan sebagai akseptor KB. Dalam konteks masyarakat urban yang memiliki kemudahan akses terhadap informasi dan kesehatan, seharusnya memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap pembagian tanggung jawab dalam pengelolaan kesehatan reproduksi. Namun di Kota Yogyakarta, kesenjangan partisipasi antara perempuan dan laki-laki masih cukup besar, meski telah dilakukan pendekatan pengarusutamaan gender dalam program KB seperti pemberian insentif bagi laki-laki yang menjadi akseptor KB Metode Operasi Pria (MOP) dan ketersediaan serta pemasangan alat kontrasepsi gratis. Kondisi tersebut dapat dimaknai dari sudut pandang yang berbeda. Di satu sisi, hal ini mencerminkan ketimpangan beban peran reproduksi yang masih dominan ditanggung oleh perempuan. Di sisi lain, menunjukkan keberdayaan perempuan yang tetap memiliki kapasitas untuk membuat pilihan strategis dalam mengambil keputusan atas tubuh serta kesehatan reproduksinya, bahkan di tengah keterbatasan industri dan kebijakan yang menempatkannya sebagai pasar utama program KB. 

Pemaknaan yang beragam ini menunjukkan penerimaan perempuan terhadap inovasi program KB melewati dinamika yang berbeda-beda. Selain kemudahan akses, terdapat dimensi sosial psikologis yang turut menjadi pertimbangan keputusan menjadi akseptor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami motif personal perempuan akseptor KB aktif serta mendeskripsikan proses penerimaan inovasi KB di Kota Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.  Penelitian ini juga menggunakan teknik analisis data berupa familiarisasi data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif personal perempuan dalam mengadopsi inovasi program KB terbentuk melalui  pemenuhan kebutuhan psikologis dasar dan pertimbangan atribut inovasi.  Selain itu, proses adopsi inovasi program KB berlangsung dalam lima tahap: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan  konfirmasi. Informasi dari tenaga kesehatan, pengalaman penggunaan kontrasepsi, dan lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan menjadi akseptor KB tidak sebatas melakukan kebijakan, tetapi  hasil dari pertimbangan reflektif perempuan.

 


Women's participation in contraceptive use continues to dominate to this day. The social construction that positions women as the primary bearers of reproductive responsibility, reinforced by the narratives embedded in the Family Planning (FP) policy, has solidified women's role as the main contraceptive users. Urban communities with relatively easy access to health services and information are expected to demonstrate greater awareness of shared responsibility in managing reproductive health. However, in the city of Yogyakarta, the participation gap between women and men remains significant, despite the application of gender mainstreaming strategies in the FP program, such as the provision of incentives for men who undergo vasectomy and the availability of free contraceptive services. This situation can be interpreted from different perspectives. On the other hand, it reflects women’s agency, as they retain the capacity to make strategic choices and decisions regarding their bodies and reproductive health, even within the constraints of industries and policies that position them as the primary market of family planning programs. 

These differing interpretations suggest that women’s acceptance of family planning innovation involves a variety of dynamics. Beyond accessibility, psychosocial dimensions also influence the women’s decision to use contraceptive. Therefore, this study aims to explore the personal motives of women who actively participate as contraceptive acceptors and to describe the process of adopting family planning innovation in Yogyakarta. 

The research is conducted using a descriptive qualitative approach, using in-depth interview, observation, and documentation as data collection techniques. The data were analyzed through the stages of familiarization, data reduction, data presentation, and conclusion. The findings reveal that women’s personal motives in adopting family planning are influenced by the fulfillment of basic psychological needs and reflection on the innovation’s attributes. Furthermore, the adoption of FP innovations occurs in five stages: knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation. Information from healthcare professionals, contraceptive experiences,  and social environments are key factors influencing this process. These findings indicate that women’s decisions to become contraceptive acceptors are not merely a response to policy, but rather the result of reflective and personal considerations

Kata Kunci : Motif, akseptor, perempuan, keluarga berencana, adopsi inovasi

  1. S1-2025-477600-abstract.pdf  
  2. S1-2025-477600-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-477600-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-477600-title.pdf