Istilah-istilah Kelautan dalam Bahasa Bajo: Pandangan Masyarakat Bajo di Desa Pulau Maringkik dan Pulau Bungin terhadap Laut
Lalu Erwan Husnan, Prof. Dr. Suhandano
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Penelitian ini merupakan kajian linguistik antropologis untuk mengungkap pandangan masyarakat Bajo terhadap laut. Masyarakat Bajo memiliki pengetahuan tentang laut dan aktivitas kelautan. Pengetahuan tersebut terekam dalam istilah-istilah kelautan yang mereka gunakan. Penelitian ini bertujuan mengkaji istilah-istilah kelautan bahasa Bajo. Penelitian dilakukan di dua desa Bajo, yaitu Desa Pulau Bungin dan Desa Pulau Maringkik, Provinsi NTB. Penelitian ini menggunakan metode linguistik antropologis menggunakan pendekatan etnosains. Data istilah-istilah kelautan dikumpulkan menggunakan metode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Data dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis bentuk, analis makna, dan pandangan masyarakat Bajo. Berdasarkan bentuk satuan kebahasaan, terdapat 105 leksem primer dan 170 leksem sekunder. Dari total 170 leksem sekunder, 123 berada pada level spesifik dan 24 berada pada level variasi. Leksem sekunder yang ditemukan berbentuk gabungan kata, afiksasi, dan perulangan. Penambahan kata di belakang mendominasi (80%) dan di depan hanya 20%. Kata yang digunakan lebih cenderung ke karakter dan habitat yang berhubungan dengan ombak, arus, dan air laut. Berdasarkan bentuk kategori kata, istilah-istilah tersebut terbagi menjadi kategori nomina (229), verba (40), adjektiva 3, dan adverbia 3. Berdasarkan makna, istilah-istilah tersebut terbagi menjadi klasifikasi istilah-istilah yang berhubungan langsung dengan laut dan yang tidak berhubungan langsung dengan laut. Analisis data menunjukkan bahwa masyarakat Bajo membagi laut menjadi ruang yang tidak terlihat (sakral) dengan istilah sallakbukeh dan ruang yang terlihat (profan). Ruang sakral dijaga oleh sesuatu yang gaib ciptaan Allah Swt. atau Papu dalam bahasa Bajo. Ruang profan merupakan tempat bermukim dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi kering air laut dijadikan dasar penentuan waktu melaut pada musim barat (ngerrik barat) dan timur (ngerrik sikali). Namun begitu, hari melaut tetap berpatokan pada keadaan air laut yang dipengaruhi oleh peredaran bulan. Kondisi bagus (konda) terjadi pada sepertiga awal dan sepertiga akhir tiap bulan. Selain itu, masyarakat Bajo mendapatkan petunjuk keberadaan ikan melaui buih, cahaya, riak, dan kekeruhan air laut.
This linguistic-anthropological study reveals the Bajo people's views of the sea. The Bajo people, as a sea tribe, are well-versed in the sea and marine activities. This knowledge is recorded in their marine terms. This study aims to examine the marine terms of the Bajo language. The study was conducted in Pulau Bungin and Pulau Maringkik Villages, NTB Province. This study uses linguistic anthropological methods and an ethnoscience approach. Data were collected through documentation, observation, and interviews. The data were analyzed qualitatively: form analysis, meaning analysis, and the views of the Bajo people. Linguistic form units of the terms consist of 105 primary and 170 secondary lexemes: 123 at the specific and 24 at the variation level. Secondary lexemes are formed through compounding, affixation, and reduplication. Compounding at the back dominates (80%), while at the front, it accounts for only 20%. Compounding is more closely related to the character and habitat of waves, currents, and seawater. The word-forms category is divided into noun categories (229), verb categories (40), adjective categories (3), and adverb categories (3). Based on meaning, these terms are divided into classifications of terms that are directly related to the sea and those that are not directly related to the sea. The Bajo people divide the sea into an invisible space (sacred) with the term sallakbukeh and a visible space (profane). The sacred space is guarded by something supernatural created by Allah Swt or Papu in the Bajo language. A profane space is a place to live and carry out daily activities. The dry condition of seawater is used as the basis for determining the seasons in the west (ngerrik barat) and east (ngerrik sikali). However, seafaring is still based on the condition of the seawater, which is influenced by the moon's circulation. Good conditions (konda) occur on the first and last third of each month. In addition, the Bajo people get clues about the fish through foam, light, ripples, and turbidity.
Kata Kunci : istilah-istilah, kelautan, pandangan, ruang hidup