AGENCY ANAK PADA LINGKUNGAN YANG MENERAPKAN PERLINDUNGAN ANAK TERPADU BERBASIS MASYARAKAT: STUDI KASUS KALURAHAN WEDOMARTANI
Intan Lukfia Indriyani, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Kekerasan
terhadap anak masih menjadi tantangan serius baik secara global maupun di
Indonesia meskipun berbagai mekanisme perlindungan telah dikembangkan. Salah
satu upaya mengembangkan mekanisme perlindungan adalah Perlindungan Anak
Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang menekankan peran komunitas dalam
pencegahan dan penanganan kekerasan. Namun, praktik perlindungan di tingkat lokal masih kerap
didominasi perspektif orang dewasa dan pendekatan top-down, sehingga
keterlibatan anak sebagai subjek relasional dalam proses perlindungan kurang
diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi agensi anak di Kalurahan
Wedomartani dalam konteks Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).
khususnya bagaimana relasi dan tatanan generasi memengaruhi kemampuan anak
menegosiasikan nilai dan struktur perlindungan anak.
Pendekatan
teoritik penelitian ini memadukan konsep agensi relasional untuk memetakan
interaksi multidimensi diskursus budaya, relasi sosial, relasi spasial, dan
pengalaman personal dengan konsep generational ordering yang menjembatani level
mikro praktik sehari-hari dengan pendekatan pembangunan top-down pada tatanan
makro. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Pengumpulan data melalui wawancara semistruktur, observer as partisipan.
Informan penelitian ini adalah delapan anak, enam pengasuh(orangtua/wali), dan enam
aktor lokal di Kalurahan Wedomartani. Analisis dilakukan secara tematik dengan menelusuri pola makna,
relasi kuasa, dan bentuk negosiasi nilai yang muncul dalam praktik perlindungan
anak di tingkat lokal.
Temuan
menunjukkan bahwa agensi anak bersifat relasional, situasional, dan kontekstual
bukan
sebagai spektrum linier dari lemah ke kuat, atau pasif ke aktif, tetapi
terwujud melalui negosiasi makna dan relasi. Anak menegosiasikan nilai dan
struktur perlindungan melalui empat tipologi agensi: (1) Akomodatif terhadap Budaya Normalisasi
Kekerasan, (2) Oposisionalitas agency dalam Kekuasaan Berlapis, (3) Performative
agency anak sebagai agen perlindungan, dan (4) Everyday Agency:
Menavigasi, Merawat, dan Melindungi dalam Kehidupan Sehari-hari. Penelitian
ini juga menemukan praktik commoning perlindungan yang tumbuh dalam
kehidupan sehari-hari anak dan komunitas, seperti saling merawat, dukungan
emosional antar teman sebaya, solidaritas antargenerasi serta penggunaan ruang
digital sebagai ruang relasional alternatif. Namun, nilai harmoni sosial
sebagai nilai kolektif dan solidaritas komunitas sekaligus berpotensi
melanggengkan mekanisme kontrol yang membatasi ruang agency anak.
Penelitian
ini menegaskan pentingnya pergeseran dari perlindungan berbasis intervensi dan
pengawasan menuju intergenerational ecology of care, yaitu ekologi
perawatan keseharian yang mengakui anak sebagai subjek relasional dan
mempromosikan co-learning lintas generasi. Dengan demikian, transformasi
sistem perlindungan anak menuntut pembacaan ulang relasi kuasa antar generasi,
pengakuan terhadap dimensi afektif dan relasional dalam perawatan, serta desain
kebijakan yang memungkinkan commoning care sebagai praktik sosial yang hidup
dan dinamis.
Violence
against children remains a serious challenge both globally and in Indonesia,
despite the development of various protection mechanisms. One initiative for
strengthening community-based protection is the Perlindungan Anak Terpadu
Berbasis Masyarakat (PATBM), which emphasizes the role of communities in
preventing and responding to violence. However, child protection practices at
the local level are often dominated by adult perspectives and top-down
approaches, resulting in limited recognition of children as relational subjects
within protection processes. This study aims to explore children's agency in
the context of PATBM in Kalurahan Wedomartani, particularly how
intergenerational relations and ordering shape their capacity to negotiate
values and child protection structures.
The
theoretical approach of this study integrates the concept of relational agency
to map multidimensional interactions across cultural discourses, social
relations, spatial relations, and children's personal experiences. This is
combined with the concept of generational ordering, which bridges everyday
practices at the micro level with top-down development structures at the macro
level. The study employs a qualitative research design with a case study
approach. Data were collected through semi-structured interviews and
observation using an observer as participant position. Participants consisted
of eight children, six caregivers (parents/guardians), and six community actors
in Kalurahan Wedomartani. The data were analyzed thematically to trace meaning
patterns, power relations, and forms of value negotiation emerging in local
child protection practices.
The findings
demonstrate that children's agency is relational, situational, and contextual,
rather than a linear spectrum from weak to strong or passive to active.
Children negotiate values and protection structures through four typologies of
agency: (1) Accommodative agency amid the normalization of violence, (2)
Oppositional agency within layered power relations, (3) Performative agency as
protectors, and (4) Everyday agency, expressed through navigating, caring, and
protecting in daily life. The study also identifies emerging practices of
commoning care within children's and community everyday interactions, such as
mutual care, emotional support among peers, intergenerational solidarity, and
the use of digital spaces as alternative relational environments. However,
the cultural value of social harmony, while fostering collective solidarity,
may also reinforce control mechanisms that restrict children’s agency.
This study
underscores the importance of shifting from protection models centered on
intervention and surveillance toward an intergenerational ecology of care—an
everyday care ecology that recognizes children as relational subjects and
promotes intergenerational co-learning. Such a transformation requires
reinterpreting power relations across generations, acknowledging the affective
and relational dimensions of care, and designing policies that enable commoning
care as a living and dynamic social practice.
Kata Kunci : Agency Anak, Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat, Relasi Antargenerasi, Commoning Care, Intergenerational Ecology of Care