Laporkan Masalah

Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kemiskinan Rumah Tangga di Indonesia

Tutut Apriyani, Eny Sulistyaningrum, S.E., M.A., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pernikahan dini terhadap kemiskinan rumah tangga di Indonesia dengan menekankan hubungan kausal antara keputusan menikah di usia muda dan kondisi ekonomi di masa mendatang. Pernikahan dini masih menjadi isu sosial-ekonomi yang penting karena berpotensi menurunkan akumulasi modal manusia dan meningkatkan risiko kemiskinan antargenerasi. Penelitian ini menggunakan data panel longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 3, 4 dan 5 yang melacak individu dari tahun 2000 hingga 2015. Kemiskinan diukur berdasarkan konsumsi per kapita rumah tangga yang disesuaikan dengan purchasing power parity (PPP) tahun dasar 2011. Metode analisis yang digunakan adalah Conditional Mixed Process (CMP) dengan model intrumental variable probit dan ordered probit, yaitu dua persamaan yang diestimasi secara simultan. Persamaan pertama memodelkan pernikahan dini sebagai variabel endogen dengan guncangan ekonomi sebagai variabel instrumen, sedangkan persamaan kedua memodelkan kemiskinan sebagai variabel hasil. Pendekatan ini digunakan untuk mengatasi permasalahan endogenitas dalam keputusan menikah dini. Hasil estimasi menunjukkan bahwa guncangan ekonomi secara statistik tidak terbukti meningkatkan kejadian pernikahan dini. Namun, setelah mengendalikan endogenitas, hasil efek marginal menunjukkan bahwa perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun memiliki probabilitas mengalami kemiskinan yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 9,92 poin persentase pada model IV-Probit dan 12,36 poin persentase pada model IV-Ordered Probit, dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia dewasa (di atas 18 tahun).

This study examines Indonesian households by emphasizing the causal relationship between early marriage decisions and subsequent economic outcomes. Child marriage remains a critical socio-economic issue, as it may hinder human capital accumulation and increase the risk of intergenerational poverty. The study utilizes longitudinal panel data from the Indonesian Family Life Survey (IFLS) waves 3, 4, and 5, which track individuals over the period 2000–2015. Poverty is measured using household per capita consumption adjusted for 2011 purchasing power parity (PPP). The analysis employs a Conditional Mixed Process (CMP) framework with instrumental variable probit and ordered probit models, in which two equations are estimated simultaneously. The first equation models early marriage as an endogenous variable, using economic shocks as an instrument, while the second equation models poverty as the outcome variable. This approach is applied to address potential endogeneity in early marriage decisions. The estimation results indicate that economic shocks do not statistically increase the likelihood of early marriage. However, after accounting for endogeneity, the marginal effects show that women who married before the age of 18 face a significantly higher probability of experiencing poverty by 9.92 percentage points in the IV Probit model and 12.36 percentage points in the IV Ordered Probit model compared to women who married at adult ages (above 18 years).

Kata Kunci : IFLS, Pernikahan Dini, Kemiskinan, Probit

  1. S2-2025-530627-abstract.pdf  
  2. S2-2025-530627-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-530627-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-530627-title.pdf