Potensi ekonomi Kota Tarakan :: Identifikasi sektor dan subsektor basis atau unggulan serta upaya meningkatkan potensi dan kemampuan ekonomi Kota Tarakan di era Otonomi Daerah
MARTATI, Dr. Samsubar Saleh, MA
2005 | Tesis | Magister Administrasi PublikEra reformasi membawa perubahan mendasar dalam sistem pemerintahan di Indonesia, dari otoriterisme kekuasaan dan sentralisme pemerintahan menuju demokratisasi dan desentralisasi. Berlakunya Otonomi Daerah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah untuk menentukan prioritas pembangunan dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Untuk itu, daerah membutuhkan perencanaan yang matang, dan sebagai perencana daerah harus memiliki kemampuan menganalisis. Gambaran pembangunan suatu daerah tertuang dalam sebuah visi daerah yang merupakan harapan bersama yang ingin dicapai sekaligus arah dari pembangunan itu sendiri. Muara dari semua itu adalah tercapainya taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran potensi ekonomi yang dimiliki Kota Tarakan selama kurun waktu 1999 – 2003, dilihat dari pertumbuhan ekonomi, perubahan struktur ekonomi, dan kemampuan ekonomi dalam melaksanakan otonomi daerah, serta gambaran upaya mengoptimalkan potensi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang didukung dengan menggunakan model dan rumus-rumus ekonomi makro dalam menganalisis potensi ekonomi yang dimiliki oleh Kota Tarakan, serta konsep penelitian otonomi daerah yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri untuk mengukur kemampuan daerah dalam menghadapi dan melaksanakan otonomi daerah. Dari hasil analisis potensi ekonomi Kota Tarakan selama kurun waktu 1999 – 2003 menunjukkan bahwa, perkembangan potensi ekonomi yang dimiliki oleh Kota Tarakan mencapai kecenderungan yang relatif baik. Dapat dilihat dari rata-rata laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 8,10 prosen dengan migas, dan 8,31 prosen tanpa migas. Demikian pula dengan pendapatan perkapita penduduk yang mencapai 6.195.67,76 rupiah dengan migas, dan 5.965.300,65 rupiah tanpa migas. Terlihat bahwa kontribusi sektor tersier dalam membentuk perekonomian Kota Tarakan sangat dominan, jika dibandingkan dengan sektor primer dan sekunder. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi transformasi struktural, yaitu pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor tersier. Dari hasil analisis sektor basis menunjukkan bahwa dengan migas, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor bangunan, serta sektor listrik, gas dan air bersih memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Sementara tanpa migas, sektor basis atau sektor unggulan meliputi sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, sektor bangunan, dan sektor jasa-jasa. Sedangkan pengukuran yang dilakukan dalam rangka melihat kemampuan Kota Tarakan dalam menghadapi dan melaksanakan otonomi daerah menunjukkan bahwa Kota Tarakan dilihat dari kemampuan ekonominya mampu melaksanakan otonomi daerah berdasarkan indikator pengukuran yang diacu dalam penelitian ini. Dalam upaya mengoptimalkan potensi yang dimilki Kota Tarakan di era otonomi daerah, selain analisis yang tepat juga dibutuhkan sebuah perencanaan yang baik sebagai arah dalam pencapaiannya. Untuk itu dalam menyusun sebuah perencanaan pembangunan daerah yang penting untuk diperhatikan adalah tiga implikasi pokok perencanaan yang meliputi, realitas, karakteristik, dan skala prioritas daerah.
Era of reformation brings basics changes in government system in Indonesia, from power authoritarianism and government centralism to democratization and decentralization. The valid local autonomy gives wide power to develop its potency, and ability to make development planning which will be done based on appropriate analysis in process of local development implementation. Illustration of local development is include in a local vision which is collective expectation to be reached and direction of the self development. The estuary of them is achievement of better community. This research objective was to obtain illustration of economic potency belonging to Tarakan city for 1999-2003, seen from economic growth rate, economic structure change, ability of Tarakan city in facing and implementing the local autonomy, and how to increase the owned potency. This research used descriptive approach supported by research concept of local autonomy done by social and political science faculty of Gadjah Mada University working with the domestic department to measure the locality in facing and implementing the local autonomy, as well as using macroeconomic formulation models in analyzing the economic potency belonging to the Tarakan city. The results of analysis of economic potency of Tarakan city from 1999 to 2003 indicated that the development of economic potency belonging to the Tarakan city achieved relatively better tendency. It can be seen from average economic growth rate which reached 8,10% with oil and gas, and 8,31% without oil and gas. Similarly, population per capita income, which reached Rp. 6.195.677,60 with oil and gas, and Rp. 5.965.300,65 without oil and gas. It seen that contribution of tertiary sector in forming the economic of Tarakan city is more dominant than primary and secondary sectors. It indicates that structural transformation has taken place, namely changes in economic activity from primary sector to tertiary sector. The result of basic sector indicated that, with sectors of oil and gas, finance, rental and firm service, trade, hotels and restaurant, building, electricity, gas and clean water have competitive and comparative excellence. Meanwhile, without oil and gas, the sectors of basic or excellence include sectors of trade, hotels and restaurant, finance, rental and firm service, building and other services. The made measurement, in order to see the ability of Tarakan city in facing and implementing the local autonomy, indicated that the Tarakan city, seen from its economic ability, can be considered to be able to implement the local autonomy based on indicator of measurement referred to the research. In order to increase the owned potency in process of economic development in the Tarakan city in era of local autonomy, not only appropriate analysis but also a better planning as a direction in reaching goals is needed. Therefore, in arranging a local development planning, the more important are three implications of planning, such as, reality, characteristics, and loyal priority scale.
Kata Kunci : Pembangunan Daerah, Potensi Ekonomi, Sektor Unggulan