Model Derajat Kesehatan Lansia Tunggalperempuan Di Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat: Studi Kasus Aksesibilitas Fasilitas Kesehatan
Alnidi Safarach Bratanegara, Dr. Agus Joko Pitoyo, S.Si., M.A.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Penuaan populasi di Indonesia
menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, termasuk kelompok
lansia tunggal perempuan yang menjadi kelompok paling rentan terhadap hambatan
mobilitas, akses kesehatan, dan risiko penurunan fungsi fisik. Kabupaten
Tasikmalaya dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki jumlah lansia
tunggal perempuan yang tinggi serta kondisi topografi yang beragam, mulai dari
dataran rendah hingga pegunungan, yang diduga memengaruhi aksesibilitas
fasilitas kesehatan dan derajat kesehatan lansia tunggal perempuan.
Penelitian ini bertujuan
untuk: (1) menganalisis derajat kesehatan lansia tunggal perempuan, (2)
mengukur tingkat aksesibilitas fasilitas kesehatan, (3) menguji hubungan
keduanya, serta (4) membangun model prediksi derajat Kesehatan berdasarkan
variabel aksesibilitas dan faktor geografis. Pendekatan yang digunakan adalah
mixed method, dengan penggabungan analisis kuantitatif dan kualitatif.
Instrumen Activity of Daily Living (ADL) digunakan untuk mengukur derajat
kesehatan lansia tunggal perempuan, sementara aksesibilitas dianalisis
menggunakan pendekatan spasial melalui GIS, analisis isochrone berbasis
jaringan jalan, dan Geographic Weighted Regression (GWR) untuk memetakan
variasi hubungan antar variabel dalam ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
derajat kesehatan lansia tunggal perempuan berada pada kategori cukup hingga
baik, dengan mayoritas skor berada pada rentang 17–25.
Faktor jarak tempuh dan
kondisi topografi terbukti menjadi hambatan terbesar dalam aksesibilitas
fasilitas kesehatan, terutama pada daerah perbukitan dan pegunungan. Analisis
GWR menunjukkan bahwa hubungan antara aksesibilitas dan derajat kesehatan bersifat
spasial dan tidak seragam, di mana daerah dengan akses fasilitas kesehatan
lebih dekat cenderung memiliki derajat kesehatan yang lebih baik dibandingkan
daerah dengan jarak fasilitas kesehatan yang jauh dan kondisi medan yang sulit.
Penelitian ini menghasilkan
model spasial prediktif yang dapat menjadi dasar arah kebijakan pemerataan
layanan kesehatan berbasis lokasi, terutama bagi daerah dengan hambatan
geografis signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas, terutama
penyediaan layanan yang lebih dekat, transportasi terjangkau, dan pemerataan
fasilitas kesehatan, berpotensi meningkatkan derajat kesehatan lansia tunggal
perempuan secara signifikan.
The aging population in
Indonesia continues to grow, with single elderly women representing one of the
most vulnerable demographic groups due to limited mobility, reduced physical
capacity, and restricted access to healthcare services. Tasikmalaya Regency was
selected as the study area due to its high number of single elderly women and
diverse topography, ranging from lowlands to mountainous regions, which likely
affect accessibility to healthcare facilities and overall health status. This
research aims to: (1) assess the health status of single elderly women, (2)
evaluate healthcare accessibility levels, (3) analyze the relationship between
accessibility and health status, and (4) develop a spatial prediction model of
elderly health influenced by accessibility and geographical factors.
A mixed-method approach was
applied, integrating quantitative and qualitative techniques. The Activity of
Daily Living (ADL) instrument was used to assess health status, while
accessibility was examined using spatial analysis through GIS, isochrone modeling,
and Geographic Weighted Regression (GWR). Results indicate that most
respondents fall within the moderate to good health category, with ADL scores
ranging from 17 to 25. Distance to health facilities and topographical
constraints were identified as major barriers to healthcare access, especially
in hilly and mountainous regions. GWR analysis demonstrates that the
relationship between accessibility and health status is geographically varied
and not uniformly distributed across locations, with better accessibility
correlating with better health outcomes.
This study generates a spatial
predictive model that can serve as a basis for equitable and location-specific
health service planning. Findings highlight the importance of improving
healthcare accessibility through expanded service coverage, adaptive transportation
options, and facility redistribution to support healthier aging among single
elderly women.
Kata Kunci : lansia tunggal perempuan, aksesibilitas fasilitas kesehatan, analisis spasial, Activity of Daily Living (ADL), Geographic Weighted Regression (GWR), geografi kesehatan,single elderly women, healthcare accessibility, spatial analysis, Activity of daily Liv