Persepsi Pengunjung Tuli terhadap Fasilitas Difabel di Museum Benteng Vredeburg
Siti Katsummi Mara, Dr. Mohamad Yusuf, M.A. ; M. Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Museum sebagai ruang publik edukatif seharusnya dapat
diakses oleh semua orang, termasuk pengunjung tuli yang merupakan bagian dari
penyandang disabilitas sensorik. Namun, aspek fasilitas bagi pengunjung tuli
masih sering terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan persepsi
pengunjung tuli terhadap ketersediaan fasilitas disabilitas tuli di Museum
Benteng Vredeburg Yogyakarta, sekaligus mengevaluasi sejauh mana museum
menerapkan nilai-nilai inklusivitas dalam penyediaan layanan bagi semua
kelompok pengunjung.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan berfokus pada
pengalaman dan persepsi wisatawan tuli terhadap fasilitas difabel. Pengumpulan
data dilakukan melalui wawancara naratif yang memungkinkan informan
menceritakan pengalaman mereka secara mendalam, serta analisis inventori
fasilitas untuk menilai kondisi dan kesesuaian sarana yang tersedia di museum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung tuli mengapresiasi upaya
museum dalam menghadirkan program-program inklusif serta adanya perubahan ke
arah peningkatan fasilitas disabilitas. Meski demikian, mereka masih menghadapi
sejumlah hambatan yang signifikan, terutama untuk tuli. Ketiadaan juru bahasa
isyarat, minimnya informasi visual seperti teks atau media penunjang non-audio,
serta kurangnya pelatihan staf dalam berkomunikasi dengan pengunjung tuli
menjadi kendala utama. Hambatan-hambatan ini berdampak pada terbatasnya
kemampuan pengunjung tuli dalam memahami informasi koleksi dan menikmati
pengalaman wisata secara maksimal.
Secara keseluruhan, museum dinilai mulai menunjukkan kemajuan dalam
membangun pemahaman terhadap kebutuhan pengunjung tuli serta menyediakan ruang
representasi yang lebih inklusif. Namun, implementasi inklusivitas belum
sepenuhnya optimal dalam memenuhi hak-hak pengunjung tuli sebagai konsumen
museum. Diperlukan peningkatan fasilitas dan layanan komunikasi agar museum
benar-benar menjadi ruang yang inklusif dan aksesibel bagi semua.
A
museum is an educational public space that should be accessible to everyone,
including deaf visitors. However, accessibility-particularly facilities for
individuals with sensory disabilities such as deafness, is still often
overlooked. This study aims to describe deaf visitors’ perceptions of
disability facilities at the Vredeburg Fort Museum in Yogyakarta and evaluate
the implementation of inclusivity values. The research adopts a qualitative
approach focusing on the perceptions of deaf tourists toward disability-related
facilities. Data were collected through narrative interviews and an inventory
analysis of available facilities. The findings reveal that deaf visitors
appreciate the museum’s efforts and inclusive programs, but still face barriers
such as the absence of sign language interpreters and limited visual
information. The museum is seen as beginning to build understanding and
representation, yet it has not fully met the rights of deaf visitors as
consumers.
Kata Kunci : disabilitas, fasilitas, inklusif, pariwisata, pengunjung tuli