Memahami Konsep Pertemanan Tidak Sehat pada Remaja
DICKY ANDHIKA FEBIANTO, Dr. Wenty Marina Minza, S.Psi., M.A.
2025 | Skripsi | PSIKOLOGI
Maraknya isu-isu terkait kesehatan mental memunculkan berbagai permasalahan baru
yang menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah kemunculan fenomena pertemanan
tidak sehat yang saat ini kerap muncul dalam hubungan pertemanan remaja. Fenomena ini mungkin sudah ada sebelumnya, namun mulai dikenalkan dengan istilah pertemanan tidak
sehat saat ini. Penelitian ini
fokus pada karakteristik hubungan pertemanan tidak sehat pada
remaja. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pendekatan IPA (Interpretative Phenomenological Analysis) dan
melibatkan partisipan sebanyak 3 orang. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur selama 30-60 menit, dan untuk menjaga kredibilitas maupun validitas data dilakukan triangulasi dalam bentuk member checking. Pertemanan tidak sehat dapat
dinilai dari beberapa aspek yaitu rasa
percaya, empati, keterbukaan, dan dukungan emosional. Hasil dari penelitian ini menemukan adanya empat karakteristik
pertemanan tidak sehat; prasangka dalam pertemanan tidak sehat, minimnya sikap
menghormati dan menghargai dalam pertemanan tidak sehat, ketidakpercayaan dalam
pertemanan tidak sehat dan ketiadaan dukungan antara pihak satu dengan yang
lain. Manajemen konflik yang diupayakan dalam penelitian ini yaitu dominasi dan
menjaga jarak. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam membantu
individu memahami fenomena pertemanan tidak sehat lebih dalam.
The
rise of issues related to mental health raises a variety of new problems that
are interesting to discuss. One of them is the emergence of the phenomenon of
toxic friendships that currently often appear in adolescent friendship
relationships. This phenomenon may have existed before, but the term toxic
friendship is now being introduced. This study focuses on the characteristics
of toxic friendship relationships in adolescents. This study used a qualitative
method with an IPA (Interpretative Phenomenological Analysis) approach and
involved 3 participants. Data collection was carried out by semi-structured
interviews for 30-60 minutes, and to maintain the credibility and validity of
the data, triangulation was carried out in the form of member checking. The
results of this study found four characteristics of toxic friendship: prejudice
in toxic friendship, lack of respect in toxic friendship, distrust in toxic
friendship and the absence of support between one party and another. The
conflict management sought in this study is dominating and distancing. This
research is expected to be a reference in helping individuals understand the
phenomenon of unhealthy friendships more deeply.
Kata Kunci : pertemanan tidak sehat, remaja, manajemen konflik, toxic friendship, adolescent, conflict management