Laporkan Masalah

Peran Ciri Kepribadian dan Kewaspadaan Terhadap Kemungkinan Individu Menjadi Korban Penipuan Keuangan Digital

Rizky Yusviento Pelawi, Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, M.B.A; I Wayan Nuka Lantara, M.Si., Ph.D

2025 | Disertasi | S3 Manajemen

Fenomena penipuan keuangan digital telah menjadi isu krusial dalam era transformasi teknologi, di mana kemajuan informasi bertindak sebagai pedang bermata dua yang menawarkan efisiensi sekaligus menciptakan celah bagi kejahatan siber. Mengingat tingginya tingkat kerugian akibat penipuan digital di Indonesia, pemahaman mengenai determinan kerentanan individu menjadi sangat mendesak. Literatur terdahulu yang didominasi oleh vulnerability hypothesis cenderung berfokus pada karakteristik demografis, namun menghasilkan temuan empiris yang inkonsisten atau bertolak belakang.Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini mengintegrasikan Risk as Feelings Hypothesis (RFH) sebagai pendekatan teoretis alternatif yang menekankan peran emosi, intuisi, dan persepsi risiko dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini mengembangkan model konseptual yang menempatkan kewaspadaan (vigilance) sebagai mediator utama antara paparan penipuan (fraud exposure) dan viktimisasi penipuan (fraud victimization), serta menguji pengaruh variabel kerentanan, literasi keuangan, dan overconfidence. Melalui pendekatan kuantitatif berbasis survei terhadap 976 pengguna layanan keuangan digital di Indonesia dan analisis dari data menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), penelitian ini mengungkap sejumlah temuan kunci. Pertama, paparan penipuan terbukti memiliki efek ganda yang bersifat paradoksal, di mana paparan penipuan mampu meningkatkan kewaspadaan namun secara bersamaan meningkatkan risiko viktimisasi. Kedua, kewaspadaan berfungsi sebagai mediator signifikan yang memitigasi potensi viktimisasi, mengonfirmasi peran krusial proses afektif-intuitif. Ketiga, kerentanan psikologis menurunkan kapasitas evaluasi individu terhadap tanda-tanda penipuan, sehingga meningkatkan risiko menjadi korban. Keempat, literasi keuangan berperan sebagai penyangga risiko (risk buffer) yang memperkuat kemampuan deteksi. Kelima, meskipun overconfidence meningkatkan potensi viktimisasi secara langsung, variabel ini juga ditemukan meningkatkan kewaspadaan yang pada akhirnya menurunkan potensi total viktimisasi. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan menyatukan RFH dan Vulnerability Hypothesis, serta implikasi praktis bagi strategi perlindungan konsumen yang lebih menekankan pada aspek perilaku dan kesadaran risiko emosional

The phenomenon of digital financial fraud has emerged as a critical issue in the era of technological transformation. Information advancements act as a double-edged sword, offering operational efficiency while simultaneously creating vulnerabilities exploited by cybercrime. Given the substantial financial losses attributed to digital fraud in Indonesia, elucidating the determinants of individual susceptibility is urgent. Previous literature, predominantly grounded in the vulnerability hypothesis, has focused on demographic characteristics but has often yielded inconsistent or contradictory empirical results. To address this gap, this study integrates the Risk as Feelings Hypothesis (RFH) as an alternative theoretical framework, emphasizing the role of emotion, intuition, and risk perception in decision-making. A conceptual model is developed, positioning vigilance as a primary mediator between fraud exposure and fraud victimization, while examining the influence of psychological vulnerability, financial literacy, and overconfidence. Employing a quantitative survey of 976 digital financial service users in Indonesia and analyzing the data using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), this study reveals several key findings. First, fraud exposure demonstrates a paradoxical dual effect: it enhances vigilance but simultaneously increases the risk of victimization. Second, vigilance serves as a significant mediator that mitigates potential victimization, confirming the critical role of affective-intuitive processes. Third, psychological vulnerability diminishes individuals' capacity to evaluate fraudulent cues, thereby elevating victimization risk. Fourth, financial literacy acts as a risk buffer, strengthening detection capabilities. Fifth, although overconfidence directly increases the risk of victimization, it also enhances vigilance, ultimately reducing the total potential for victimization. Overall, this research contributes theoretically by synthesizing the RFH and the Vulnerability Hypothesis, and offers practical implications for consumer protection strategies that emphasize behavioral aspects and emotional risk awareness.

Kata Kunci : Digital Financial Fraud, Victimization, Risk as Feelings Hypothesis, Vigilance, Overconfidence.

  1. S3-2025-450166-abstract.pdf  
  2. S3-2025-450166-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-450166-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-450166-title.pdf