Laporkan Masalah

Kolaborasi dan Akulturasi dalam Cross-Bordertourism Di Indonesia. Studi kasus: Motaain, Skouw, dan Entikong

Elvis Salouw, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.

2025 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur

Kawasan perbatasan merupakan ruang strategis yang mengalami pergeseran paradigma dari orientasi keamanan menuju kesejahteraan. Dalam konteks pembangunan dan pariwisata, kawasan perbatasan menjadi ruang interaksi sosial, ekonomi, dan budaya yang dinamis. Penelitian ini berangkat dari minimnya kajian mengenai Cross-Border Tourism di Indonesia, terutama yang mengaitkan antara kolaborasi dan akulturasi sebagai dua elemen penting dalam tata kelola kawasan perbatasan. Pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kolaborasi dan akulturasi dalam Cross-Border Tourism di Indonesia serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menetapkan empat tujuan utama, yaitu: mengidentifikasi karakteristik Cross-Border Tourism di Indonesia, mengeksplorasi bentuk-bentuk kolaborasi dalam tata kelola Cross-Border Tourism, menganalisis proses akulturasi yang terjadi, serta mengkaji hubungan antara kolaborasi dan akulturasi dalam konteks CrossBorder Tourism. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus jamak pada tiga kawasan perbatasan darat Indonesia, yaitu Motaain (Indonesia - Timor Leste), Skouw (Indonesia - Papua Nugini), dan Entikong (Indonesia - Malaysia). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, Focus Group Discussion (FGD), serta penelusuran dokumen dan literatur. Analisis dilakukan secara intra-kasus dan antar-kasus untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cross-Border Tourism di Indonesia memiliki karakteristik spasial dan sosial yang khas, dengan pola pergerakan wisatawan yang dipengaruhi oleh motivasi ekonomi, budaya, dan kekerabatan. Kolaborasi antar pemangku kepentingan berlangsung dalam bentuk formal dan informal, serta difasilitasi melalui dokumen Border Crossing Agreement. Akulturasi terjadi melalui interaksi lintas budaya, terutama dalam aspek bahasa dan makanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi yang efektifdalam Cross-Border Tourism berperan signifikan dalam memfasilitasi akulturasi, dan sebaliknya, akulturasi memperkuat legitimasi kolaborasi lintas batas.

Border areas are strategic spaces experiencing a paradigm shift from security to prosperity. In the context of development and tourism, border areas become dynamic spaces for social, economic, and cultural interaction. This research stems from limited studies on cross-border tourism in Indonesia, particularly those linking collaboration and acculturation as two important elements in border area governance. This research's main question is: How do collaboration and acculturation in cross-border tourism in Indonesia work, and what factors influence them? To answer this question, this research sets four main objectives: identifying the characteristics of cross-border tourism in Indonesia, exploring the forms of collaboration in cross-border tourism governance, analyzing the acculturation process, and examining the relationship between collaboration and acculturation in the context of cross-border tourism. This research uses a qualitative approach with a multiple case study method in three land border areas in Indonesia: Motaain (Indonesia - Timor Leste), Skouw (Indonesia - Papua New Guinea), and Entikong (Indonesia - Malaysia). Data was collected through semi-structured interviews, focus group discussions (FGDs), and document and literature searches. The analysis was conducted within and between cases to gain a comprehensive understanding. The results show that cross-border tourism in Indonesia has unique spatial and social characteristics, with tourist movement patterns influenced by economic, cultural, and kinship motivations. Collaboration between stakeholders occurs in formal and informal forms, and is facilitated through the Border Crossing Agreement document. Acculturation occurs through crosscultural interactions, particularly in aspects of language and cuisine. This study concludes that effective collaboration in cross-border tourism plays a significant role in facilitating acculturation. Conversely, acculturation strengthens the legitimacy of cross-border collaboration.

Kata Kunci : Akulturasi, Cross-Border Tourism, Indonesia, Kolaborasi, Wisatawan

  1. S3-2025-475671-abstract.pdf  
  2. S3-2025-475671-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-475671-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-475671-title.pdf