Pengaruh Paparan Air Sabun Terhadap Kemampuan Menetasnya Telur Cacing Tambang Anjing Pada Kultur Harada Mori
Ricka Lesmana, Dra. E. Sutarti, SU
1999 | Skripsi | S1 KEDOKTERANPenyakit cacing tambang masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Keadaan sanitasi lingkungan yang jelek, kebersihan perorangan yang kurang memadai dan kebiasaan buang air besar di sembarang tempat menyebabkan tanah menjadi tercemar oleh telur dan larva cacing tambang, sehingga memudahkan terjadinya penularan dan penyebaran penyakit ini. Meskipun prevalensinya tinggi dan infeksi dapat terjadi. secara terus-menerus, namun intensitas infeksi pada umumnya rendah. Pertumbuhan telur dan larva cacing tambang di tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti temperatur, pH dan kelembaban. Air sabun merupakan limbah rumah tangga yang selalu dijumpai. Selain dapat mempengaruhi keadaan air, sabun juga dapat mengubah susunan kimia tanah. Zat-zat yang ada dalam sabun dapat meracuni tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di dalam atau permukaan tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh paparan air sabun dalam berbagai konsentrasi setelah dilakukan kultur Harada mori terhadap pertumbuhan telur dan larva cacing tambang. Cacing tambang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ancylostoma sp. (cacing tambang anjing). Dari tinja anjing yang positif telur cacing tambang diberi perlakuan pemaparan air sabun dengan berbagai konsentrasi (2,5 mg%; 5 mg%; 12,5 mg%; 17,5 mg%; 20 mg% dan 25 mg%). Kultur tanpa air sabun atau dengan akuades saja dibuat sebagai kontrol. Dalam penelitian ini setiap perlakuan diadakan ulangan tiga kali. Pemeriksaan jumlah larva yang tumbuh dilakukan pada hari ke tujuh. Pengolahan data dilakukan dengan cara analisis dengan metoda Anava kemudian dilanjutkan dengan Tukey's sabun dengan konsentrasi 20 mg% dan 25 mg% lebih rendah secara bermakna dibandingkan dengan kontrol (P<0,05) . Diperkirakan pada lingkungan yang terpapar air sabun dengan konsentrasi tersebut dapat menghambat pertumbuhan larva cacing sehingga prevalensi terinfeksinya individu terhadap cacing tambang juga rendah.
The hookworm infection disease still as the major health problem in Indonesia. Poor enviromental sanitation and personal hygiene, and habits of defecation at any place, facilitated the spread of eggs of worms and consequently increase the infection rates. Surprisingly, the intensity of infection usually is low. This might be due to factors which influence the development ang infectivity of the larvae, such as temperatur, humidity and pH of the environment. The detergent water is the most common house disposal that always present. Inspite of poluting the ground water, detergen water are also can change the land chemical structure. The element that consist on detergent can pollute the ground and that condition made anorganic who live on the ground was poisoned. The aim of this research was to study the development of hookworm larvae, after exposing to different levels of concentration of detergent waters. The hookworm that used in this research is Ancylostoma species (the Dog hookworm). This species received some test with some series of detergent concentration (2,5 mg%; 5 mg%; 12,5 mg%; 17,5 mg%; 20 mg%; 25 mg%). Hookworm larvae reared in destilated water was used as control. In this research every step of the protocol had been replicate three times. The inspection of worm that live are done at the day seventh. The data operation has been done by the Anava method and then continued with Tukey's test. The result of this study showed that the numbers of the larvae of species Ancylostoma was significantly lowered when reared in detergent waters (concentration of 20 mg% and 25 mg%), when compared with control (P<0,05). This condition made assumption that environment was contaminate by detergent water at that concentration can reduces the development of the hookworm larvae.
Kata Kunci : Cacing tambang, air sabun, Kultur Harada Mori, Telur Cacing Tambang Anjing