Ketahanan Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan (Studi pada Program Hutan Kemasyarakatan di Wilayah KPH Yogyakarta)
Anisa Sulistiani, Prof. Dr. Ir. Mohammad Na'iem, M.Agr.Sc.; Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Indonesia memiliki kawasan hutan tropis yang luas, namun
pemanfaatannya belum optimal dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat sekitar
hutan. Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah menerapkan program Perhutanan
Sosial melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), yang memberikan akses legal
bagi masyarakat dalam mengelola hutan serta mendorong pemberdayaan sosial dan
ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan
fokus pada implementasi HKm di empat Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm)
di Daerah Istimewa Yogyakarta: Tani Manunggal, Sedyo Rukun, Manunggal, dan
Mandiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap kelompok menerapkan strategi
berbeda sesuai potensi lokal. Di kawasan hutan produksi, kegiatan difokuskan
pada tumpangsari tanaman pangan (jagung, singkong, padi) di antara tanaman
kehutanan (jati, mahoni), yang memberikan keuntungan ekonomi jangka pendek.
KTHKm Sedyo Rukun mengembangkan produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti
jahe kristal dan emping garut, serta mendorong pemberdayaan perempuan. KTHKm
Mandiri, yang berada di kawasan hutan lindung, mengembangkan ekowisata Kalibiru
serta usaha ekonomi lain seperti empon-empon, HMT, ternak, dan pengolahan HHBK.
Secara kelembagaan, keempat kelompok menunjukkan tata kelola yang baik melalui
struktur organisasi, AD/ART, dan rencana kerja yang terarah. Aspek ketahanan
ekonomi terlihat dari diversifikasi usaha, peningkatan pendapatan, dan akses
terhadap sumber daya. Sementara itu, ketahanan sosial tercermin dari partisipasi
aktif anggota, solidaritas komunitas, literasi kelembagaan, dan distribusi
peran yang merata. Secara keseluruhan, HKm menjadi sarana strategis dalam
membangun kemandirian masyarakat melalui penguatan kapasitas lokal, sekaligus
menjadi model desentralisasi pengelolaan hutan berbasis pemberdayaan
masyarakat.
Indonesia has vast tropical forest areas, yet their
utilization has not been optimal in alleviating poverty among forest-adjacent
communities. To address this challenge, the government has implemented the
Social Forestry program through the Community Forestry (Hutan
Kemasyarakatan/HKm) scheme, which provides legal access for communities to
manage forest areas and promotes socio-economic empowerment. This study employs
a descriptive qualitative approach, focusing on the implementation of HKm in
four Community Forestry Farmer Groups (KTHKm) in the Special Region of
Yogyakarta: Tani Manunggal, Sedyo Rukun, Manunggal, and Mandiri. The findings
reveal that each group applies different strategies based on local potential.
In production forest areas, activities focus on intercropping food crops (corn,
cassava, rice) between forestry plants (teak, mahogany), which are more
economically beneficial in the short term. The Sedyo Rukun group developed
non-timber forest products (NTFPs) such as crystallized ginger and arrowroot
chips, while also promoting women’s empowerment. The Mandiri group, located in
a protected forest area, developed the Kalibiru ecotourism initiative and
diversified their economic activities, including the cultivation of medicinal
plants, forage crops, livestock farming, and NTFP processing. Institutionally,
all four groups demonstrated good governance, supported by clear organizational
structures, statutes/bylaws (AD/ART), and well-directed work plans. Economic
resilience was reflected in business diversification, increased income, and
improved access to resources. Social resilience emerged from active member
participation, community solidarity, institutional literacy, and equitable role
distribution. Overall, the HKm program has become a strategic vehicle for
strengthening community self-reliance through local capacity building and
serves as a decentralized model of forest management based on community
empowerment.
Kata Kunci : Hutan Kemasyarakatan, Pemberdayaan Masyarakat, Ketahanan Sosial-Ekonomi