Laporkan Masalah

Ekosistem Kewirausahaan Berbasis Budaya: Analisis Interaksi dalam Ekosistem Kewirausahaan pada Industri Tenun Ikat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur

Luisa Merrisa Titaheluw, Prof. Dr. Agus Heruanto Hadna, S.IP., M.Si

2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik

Industri tenun ikat di Kota Kupang memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya, namun pengembangannya menghadapi tantangan kompleks yang memerlukan pemahaman ekosistem secara holistik. Penelitian ini menganalisis pola dan dinamika interaksi dalam ekosistem kewirausahaan industri tenun ikat, dengan fokus pada peran nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi interaksi. 

Mengadopsi kerangka Isenberg (2011) yang diintegrasikan dengan dimensi budaya lokal, penelitian ini menganalisis 546 referensi interaksi dari 22 informan yang mewakili enam elemen ekosistem (kebijakan, modal keuangan, budaya, dukungan, modal manusia, dan pasar). Analisis dilakukan berdasarkan enam dimensi interaksi : mekanisme koordinasi, kekuatan jaringan, karakteristik aktor, dimensi spasial, motivasi interaksi, dan tujuan interaksi.

Hasil penelitian mengidentifikasi dua karakteristik fundamental ekosistem: kekhasan produk Kupang sebagai pusat konvergensi motif tenun NTT yang menciptakan keunggulan kompetitif, dan ancaman keberlanjutan pewarna alami yang menjadi kendala kritis. Dalam konteks ini, penelitian mengungkapkan dinamika interaksi paradoksal: dominasi mekanisme formal namun tidak inklusif; strong ties terkonsentrasi pada wirausaha mapan; heterophilitas tinggi tetapi tidak terdistribusi merata; ketergantungan fisik dengan adopsi digital terbatas; motivasi sosial tinggi namun viabilitas ekonomi timpang, dan orientasi non-transaksional kuat namun tidak memberikan perlindungan bagi pengrajin mikro. Pola paradoksal ini mengungkapkan bahwa nilai-nilai budaya lokal Nusi, Suki Toka Apa, Butukila, Muki Nena, Ita Dale Esa, dan Neki Weki Manga Rangga berfungsi sebagai invisible infrastructure yang bukan sekadar manifestasi dari elemen budaya dalam model Isenberg (2011), melainkan foundational layer yang mendahului dan mendasari seluruh elemen ekosistem. Nilai-nilai budaya ini mengatur logika interaksi, mekanisme legitimasi, dan batas kolaborasi dalam ekosistem, yang memungkinkan ekosistem bertahan di tengah keterbatasan institusional formal, tetapi pada saat yang sama menghasilkan paradoks distributif—menjadi enabler bagi aktor dengan akses dan sumber daya namun barrier bagi yang marginal. Berdasarkan paradoks-paradoks ini, penelitian mengidentifikas elemen Kebijakan sebagai yang paling krusial karena menentukan akses terhadap seluruh elemen ekosistem lainnya.

Penelitian ini berkontribusi dengan memodifikasi model Isenberg (2011) melalui pengembangan model ekosistem kewirausahaan berbasis budaya, yang memposisikan nilai budaya lokal sebagai fondasi struktural yang menentukan arsitektur interaksi, distribusi peluang dan hambatan, serta arah evolusi ekosistem kewirausahaan lokal. Secara praktis, temuan ini memberikan panduan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam merancang intervensi yang bekerja dengan dan melalui nilai-nilai budaya lokal sebagai infrastruktur dasar, bukan mengabaikan atau menggantikannya.

The ikat weaving industry in Kupang City holds significant potential as a driver of culture-based creative economy, yet its development faces complex challenges requiring a holistic understanding of the ecosystem. This study analyzes the patterns and dynamics of interactions within the entrepreneurial ecosystem of the ikat weaving industry, with a focus on the role of local cultural values as the foundation of interactions.

Adopting Isenberg's (2011) framework integrated with local cultural dimensions, this study analyzes 546 interaction references from 22 informants representing six ecosystem elements (policy, financial capital, culture, support, human capital, and markets). The analysis is conducted based on six interaction dimensions: coordination mechanisms, network strength, actor characteristics, spatial dimensions, interaction motivations, and interaction purposes.

The findings identify two fundamental ecosystem characteristics: Kupang's product uniqueness as a convergence center for NTT ikat motifs creating competitive advantage, and threats to natural dye sustainability as a critical constraint. Within this context, the research reveals paradoxical interaction dynamics: dominance of formal mechanisms yet not inclusive; strong ties concentrated among established entrepreneurs; high heterophily but unevenly distributed; physical dependence with limited digital adoption; high social motivation yet unequal economic viability; and strong non-transactional orientation that fails to provide protection for micro-artisans. These paradoxical patterns reveal that local cultural values—Nusi, Suki Toka Apa, Butukila, Muki Nena, Ita Dale Esa, and Neki Weki Manga Rangga—function as invisible infrastructure that is not merely a manifestation of the culture element in Isenberg's (2011) model, but rather a foundational layer that precedes and underlies all ecosystem elements. These cultural values govern the logic of interactions, legitimation mechanisms, and collaboration boundaries within the ecosystem, enabling the ecosystem to survive amid formal institutional limitations, while simultaneously producing distributive paradoxes—becoming enablers for actors with access and resources but barriers for those who are marginal. Based on these paradoxes, the research identifies the Policy element as the most crucial because it determines access to all other ecosystem elements.

This study contributes by modifying Isenberg's (2011) model through the development of a culture-based entrepreneurial ecosystem model that positions local cultural values as a structural foundation determining the architecture of interactions, distribution of opportunities and barriers, and the evolutionary direction of the local entrepreneurial ecosystem. Practically, these findings provide guidance for all stakeholders in designing interventions that work with and through local cultural values as foundational infrastructure, rather than ignoring or replacing them.

Kata Kunci : ekosistem kewirausahaan, tenun ikat, nilai budaya lokal, interaksi dalam ekosistem, industri kreatif berbasis budaya

  1. S2-2025-525460-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525460-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525460-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525460-title.pdf