Exploring Multisectoral Collaboration in Stunting Reduction: The Hexa-Helix Model in Surabaya, Indonesia
Herlin Pranicha, Dr. Yuli Isnadi, S.I.P, MPA
2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Penelitian ini mengkaji kolaborasi multistakeholder dalam percepatan penurunan stunting di Kota Surabaya dengan menggunakan model Hexa-helix, yang melibatkan enam aktor kunci, yaitu pemerintah, akademisi, sektor bisnis, media massa, LSM, dan masyarakat. Stunting merupakan bentuk kekurangan gizi kronis yang terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia; karena sifatnya yang kompleks, penanganannya memerlukan tata kelola kolaboratif yang inklusif dan adaptif. Meskipun stunting telah mendapatkan perhatian global dan nasional sebagai isu kesehatan multidimensional, sebagian besar studi yang ada masih berfokus pada tata kelola di tingkat makro atau pada wilayah yang mengalami kesulitan dalam mencapai target penurunan. Penelitian empiris yang mengkaji operasionalisasi kolaborasi lokal yang berhasil—khususnya melalui model pemangku kepentingan yang inklusif seperti Hexa-helix—serta pengaruh lingkungan institusional terhadap kolaborasi tersebut masih terbatas. Keberhasilan signifikan Kota Surabaya dalam menurunkan prevalensi stunting dari 28,9% pada tahun 2021 menjadi 1,6% pada tahun 2023 menjadikan kasus ini relevan untuk mengisi kesenjangan penelitian tersebut.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menerapkan kerangka analisis terpadu yang mengkombinasikan teori collaborative governance, teori institusional, dan model pemangku kepentingan Hexa-helix. Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor pendorong keberhasilan Surabaya meliputi dialog tatap muka yang terstruktur dan berkelanjutan, komunikasi yang intensif serta transparansi data yang mendorong terbentuknya kepercayaan bersama, komitmen yang kuat, pemahaman bersama mengenai stunting, serta capaian-capaian kecil yang mendukung keberlanjutan kolaborasi. Selain itu, lingkungan institusional yang ditandai oleh regulasi yang jelas, nilai-nilai pelayanan publik yang kuat, dan pola pikir kolektif untuk mencapai nol stunting turut memperkuat efektivitas kolaborasi tersebut.
Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada literatur mengenai kolaborasi multistakeholder dalam bidang kesehatan publik dengan menunjukkan bagaimana sinergi antara proses interaksional dan struktur institusional dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Secara praktis, pengalaman Surabaya menawarkan model yang dapat direplikasi oleh pemerintah daerah dan aktor pembangunan yang berupaya menangani stunting melalui pendekatan kolaboratif.
This study explores multistakeholder collaboration in accelerating stunting reduction in Surabaya City using the hexa-helix model, which involves six key actors, namely, government, academia, the business sector, mass media, NGOs, and the community. Stunting is a chronic form of malnutrition that occurs among children aged less than 5 years with long-term consequences for human capital; due to its complex nature, it requires inclusive and adaptive collaborative governance. Although stunting has gained global and national attention as a multidimensional health issue, the majority of existing studies focus on macro-level governance or regions that encounter difficulty in meeting reduction targets. Less empirical research investigates the operationalization of successful local collaboration, particularly through inclusive stakeholder models such as the hexa-helix, and the influence of these institutional environments on these collaborations. The significant achievement of Surabaya in decreasing the prevalence rate of stunting from 28.9% in 2021 to 1.6% in 2023 presents a valuable case for addressing this research gap.
Adopting a descriptive qualitative approach, the study employs an integrated analytical framework that combines collaborative governance theory, institutional theory, and the hexa-helix stakeholder model. The findings reveal that the drivers of Surabaya’s success were structured and continuous face-to-face dialogue, intense communication and data transparency that fostered mutual trust, strong commitment, shared understanding of stunting, and small achievement that supported sustainable collaboration. Additionally, an institutional sphere characterized by clear regulations, strong public service values, and a collective mindset to achieve zero stunting strengthened the effectiveness of such collaboration.
Theoretically, this study contributes to the literature on multistakeholder collaboration in public health by demonstrating how synergy between interactional processes and institutional structures produces impactful outcomes. Practically, Surabaya’s experience offers a replicable model for local governments and development actors that intend to address stunting through collaborative methods.
Kata Kunci : stunting, multisectoral collaboration, stakeholders, hexa-helix, collaborative governance, institutional theory