Laporkan Masalah

Strategi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Melalui Kerja Sama Sister City dengan Prefektur Kyoto Jepang, tahun 2020-2024, dalam Penguatan Ketahanan Budaya

Muhammad Rafi Wibowo, Prof. Dr. Armaidy Armawi, M.Si.; Dr. Iva Ariani; Anisa Ledy Umoro, SS, MA, Ph.D.; Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum.

2025 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kerja sama Sister City dengan Prefektur Kyoto, Jepang dalam penguatan ketahanan budaya tahun 2020-2024. Ketahanan budaya dipahami sebagai kemampuan suatu daerah untuk menjaga, menyesuaikan, dan mewariskan identitas budaya di tengah tantangan globalisasi. Dalam kerangka paradiplomasi, kerja sama Sister City menjadi salah satu instrumen diplomasi subnasional yang memungkinkan pemerintah daerah menjalin hubungan internasional secara langsung guna mendukung kepentingan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data dilakukan melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama Sister City Yogyakarta-Kyoto periode 2020-2024 menghadapi hambatan signifikan, terutama akibat pandemi COVID-19 yang menyebabkan terhentinya sejumlah program. Strategi yang ditempuh, seperti digitalisasi kegiatan kebudayaan, pameran virtual, serta pelibatan komunitas lokal, memang mampu menjaga visibilitas dan adaptasi budaya Yogyakarta. Namun, upaya tersebut masih terbatas pada aspek simbolik dan seremonial, sehingga belum sepenuhnya mampu memperkuat ketahanan budaya, khususnya dalam hal pewarisan nilai kepada generasi muda.

This research aims to analyze the strategies of the Special Region of Yogyakarta Government through the Sister City cooperation with Kyoto Prefecture, Japan, in strengthening cultural resilience from 2020 to 2024. Cultural resilience is an ability of a region to preserve, adapt, and transmit its cultural identity amid the challenges of globalization. Within the framework of paradiplomacy, Sister City cooperation serves as an instrument of subnational diplomacy that enables local governments to establish direct international relations in support of local interests. This study employs a qualitative approach, with data collected through interviews, observation, and document analysis. Data were analyzed through reduction, presentation, and conclusion drawing. The research reveal that the Yogyakarta-Kyoto Sister City cooperation during the 2020-2024 period faced significant obstacles, particularly due to the COVID-19 pandemic, which caused the suspension of several programs. Strategies such as digitalization of cultural activities, virtual exhibitions, and engagement of local communities were implemented to maintain the visibility and adaptability of Yogyakarta’s culture. However, these efforts remained largely symbolic and ceremonial, and thus have not fully succeeded in strengthening cultural resilience, especially in terms of transmitting cultural values to the younger generation.

Kata Kunci : Sister City, Ketahanan Budaya, Paradiplomasi

  1. S2-2025-526314-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526314-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526314-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526314-title.pdf