MODEL PREDIKSI TUTUPAN LAHAN DENGAN PENDEKATAN CELLUAR AUTOMATA - ARTIFICIAL NEURAL NETWORK UNTUK MENGHITUNG DAYA DUKUNG LAHAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN LUWU TIMUR
Fauzi Achmady Syam, Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T., IPU.
2025 | Tesis | S2 Teknik Geomatika
Penelitian ini dilatarbelakangi
oleh percepatan perubahan tutupan lahan akibat pertambangan dan urbanisasi di
Kabupaten Luwu Timur yang kerap tidak selaras dengan RTRW, sehingga menekan
daya dukung lahan dan menyulitkan perencanaan ruang. Permasalahannya, belum
tersedia model spasial prediksi tutupan lahan yang dapat menilai kesesuaian
ruang serta menghitung kapasitas lahan yang layak permukiman. Tujuannya adalah
memetakan perubahan tutupan lahan 2015–2025, memprediksi tutupan lahan hingga
2030, dan mengintegrasikannya ke perhitungan daya dukung lahan permukiman
(DDPm) untuk mendukung kebijakan ruang yang adaptif. Pendekatan yang digunakan
menggabungkan klasifikasi citra Sentinel-2 berbasis SVM dan model prediksi
berbasis CA–ANN pada data multispektral. Data utama berupa citra Sentinel-2
tahun 2015, 2020, dan 2025. Faktor pendorong perubahan lahan adalah data jarak
ke jalan, sungai, dan pusat-pusat pelayanan. Klasifikasi tutupan lahan
dilakukan dengan metode support vector machine (SVM), kemudian metode prediksi
menggunakan cellular automata – artificial neural network (CA-ANN). Analisis
akurasi menggunakan matriks konfusi dan indeks Kappa, lalu proyeksi penduduk
2025–2030 dihitung secara geometrik, kemudian dihitung luas lahan layak
permukiman (LPm) dan daya dukung lahan permukiman (DDPm) pada tingkat
kecamatan. Hasil klasifikasi dan model menunjukkan kinerja tinggi, overall
accuracy (OA) klasifikasi 98,06?n model prediksi 97,51?ngan Kappa
masing-masing 0,9744 dan 0,9673. Tantangan terbesar ada pada kelas permukiman
(PA prediksi 55,64%), sementara kelas lain stabil tinggi. Pada 2030, seluruh
kecamatan tetap berada pada kondisi DDPm>1; misalnya Angkona (137,92) dan
Mangkutana (117,04), sedangkan sebagian kecamatan lain relatif lebih rendah
namun masih mampu menampung penduduk. Secara agregat, DDPm kabupaten adalah
78,07, yang menuntut pengelolaan ruang adaptif dan spesifik wilayah.
Kesimpulannya, integrasi SVM–CA-ANN dengan perhitungan DDPm menghasilkan
indikator spasial yang andal untuk mendukung penyesuaian RTRW dan perencanaan
permukiman berkelanjutan hingga 2030.
This study was motivated by the
accelerated change in land cover due to mining and urbanization in East Luwu
Regency, which often conflicts with the Spatial Plan (RTRW), thereby reducing
land carrying capacity and complicating spatial planning. The problem is that
there is no spatial model for predicting land cover that can assess spatial
suitability and calculate the capacity of land suitable for settlement. The
objectives are to map land cover changes from 2015 to 2025, predict land cover
until 2030, and integrate it into the calculation of residential land carrying
capacity (DDPm) to support adaptive spatial policies. The approach used
combines SVM-based Sentinel-2 image classification and CA-ANN-based prediction
models on multispectral data. The main data consists of Sentinel-2 images from
2015, 2020, and 2025. The driving factors of land change are data on distance
to roads, rivers, and service centers. Land cover classification was performed
using the support vector machine (SVM) method, followed by the cellular
automata – artificial neural network (CA ANN) prediction method. Accuracy
analysis was performed using a confusion matrix and Kappa index, then the
2025–2030 population projection was calculated geometrically, followed by the
calculation of the area of land suitable for settlement (LPm) and the carrying
capacity of settlement land (DDPm) at the subdistrict level. The classification
and model results show high performance, with an overall accuracy (OA) of
98.06% for classification and 97.51% for prediction models, with Kappa values
of 0.9744 and 0.9673, respectively. The biggest challenge is in the settlement
class (PA prediction 55.64%), while other classes are stable and high. In 2030,
all subdistricts will remain in a DDPm>1 condition; for example, Angkona
(137.92) and Mangkutana (117.04), while some other subdistricts are relatively
lower but still able to accommodate residents. Aggregately, the district's DDPm
is 78.07, which requires adaptive and region-specific spatial management. In conclusion,
the integration of SVM–CA-ANN with DDPm calculations produces reliable spatial
indicators to support RTRW adjustments and sustainable settlement planning
until 2030.
Kata Kunci : prediksi lahan, support vector machine, cellular automata, daya dukung permukiman, luwu timur