Rekonstruksi Sistem Hidrolika Kuno Kotagede Pada Masa Awal Kesultanan Mataram Islam (1582–1601 M)
Laras Tristanti, Drs. JSE Yuwono, M.Sc.
2025 | Skripsi | ARKEOLOGI
Penelitian
ini membahas rekonstruksi sistem hidrolika kuno di Kotagede pada masa awal
Kesultanan Mataram Islam (1582–1601 M) dengan menelusuri jejak drainase dan
pasokan air berdasarkan data arkeologis. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana
sistem pengelolaan air dibangun dan dioptimalkan dalam konteks geografis,
teknologis, dan teologis masyarakat Mataram Islam. Penelitian ini menggunakan
metode historis-kualitatif dengan pendekatan arkeologis dan geospasial.
Analisis dilakukan melalui interpretasi hubungan antarfisik tinggalan
arkeologis serta pengolahan data spasial menggunakan parameter slope, flow
direction, flow accumulation, dan overlay untuk menelusuri pola aliran air.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sistem hidrolika di Kotagede memanfaatkan gradien
kemiringan lahan sebagai “mesin” utama penggerak aliran air. Ditemukan dua
sirkuit jagang dengan fungsi berbeda: jagang jaba berperan sebagai sistem
pertahanan dan drainase kota, sedangkan jagang dalam berfungsi untuk kebutuhan
spiritual dan pasokan air di lingkungan Ndalem. Temuan ini memperlihatkan
keterpaduan antara teknologi, teologi, dan pemahaman ekologis masyarakat
Mataram Islam dalam menata air secara harmonis dengan alam dan tatanan
spiritualnya.
This
research discusses the reconstruction of the ancient hydraulic system in
Kotagede during the early period of the Mataram Islam Sultanate (1582–1601 AD)
by tracing the drainage and water supply networks based on archaeological
evidence. The study focuses on how water management systems were developed and
optimized within the geographical, technological, and theological contexts of
Mataram society. A historical–qualitative method was employed, combining
archaeological interpretation and geospatial analysis. The analysis involved
examining the physical interrelations among archaeological remains and
processing spatial data using slope, flow direction, flow accumulation, and
overlay parameters to identify water flow patterns.
The
findings reveal that the hydraulic system of Kotagede utilized land slope
gradients as the main “engine” driving water movement. Two distinct circuits of
jagang were identified: the outer circuit functioned as a defensive and urban
drainage system, while the inner circuit served spiritual purposes and supplied
water to the Ndalem area. These results demonstrate the integration of
technological, theological, and ecological understandings in Mataram Islam’s
water management practices, reflecting a harmonious relationship between
humans, nature, and spirituality.
Kata Kunci : Kotagede, hidrolika, Mataram Islam, arkeologi, geospasial