Mekanisme Pengelolaan Perikanan Bluefin Tuna di Laut Lepas oleh Commission for The Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) Ditinjau dari Perspektif Third World Approach to International Law
Baiq Amilia Kusumawarni, Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Hukum
Tesis ini mengkaji
pengelolaan perikanan tuna sirip biru selatan (Southern Bluefin Tuna/SBT) di
laut lepas oleh Commission for the Conservation of Southern Bluefin Tuna
(CCSBT), dengan menganalisis mekanisme alokasi kuota melalui pendekatan Third
World Approach to International Law (TWAIL). Penelitian ini menggunakan metode
hukum normatif dengan fokus pada instrumen internasional seperti United Nations
Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 dan United Nations Fish Stocks
Agreement (UNFSA) 1995, yang menjadi dasar pembentukan Regional Fisheries
Management Organizations (RFMO) seperti CCSBT.
Penelitian ini menemukan
bahwa meskipun CCSBT telah mengembangkan prosedur ilmiah seperti Bali
Procedure dan Cape Town Procedure dalam menetapkan Total Allowable
Catch (TAC), sistem distribusi kuota masih menunjukkan ketimpangan struktural.
Alokasi kuota terutama didasarkan pada sejarah penangkapan ikan masa lalu, yang
lebih menguntungkan negara-negara maju seperti Jepang dan Australia. Sementara
itu, negara berkembang seperti Indonesia menerima kuota yang jauh lebih kecil,
meskipun partisipasinya meningkat. TWAIL digunakan sebagai kerangka kritik
untuk menelaah bagaimana rezim tata kelola internasional seperti ini cenderung
melanggengkan ketimpangan dan membatasi partisipasi negara-negara dunia ketiga
dalam pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Tesis ini menyimpulkan bahwa
tanpa reformasi, sistem alokasi kuota dalam CCSBT berpotensi memperkuat praktik
neo-kolonialisme dengan dalih keberlanjutan. Oleh karena itu, disarankan adanya
revisi kelembagaan terhadap mekanisme pengambilan keputusan dan alokasi kuota
CCSBT agar lebih adil bagi negara berkembang dan mencerminkan nilai-nilai
keadilan global dalam tata kelola laut internasional.
This thesis explores the management of Southern Bluefin Tuna (SBT)
fisheries on the high seas by the Commission for the Conservation of Southern
Bluefin Tuna (CCSBT), analyzing its quota allocation mechanism through the lens
of the Third World Approach to International Law (TWAIL). The study uses a
normative legal method focusing on international instruments such as the United
Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 and the United Nations
Fish Stocks Agreement (UNFSA) 1995, which lay the groundwork for Regional
Fisheries Management Organizations (RFMOs) such as CCSBT.
The research finds that although CCSBT has developed scientific
procedures like the Bali and Cape Town Procedures to regulate Total Allowable
Catch (TAC) for SBT, the distribution of quotas still reflects structural
imbalances. These allocations are primarily based on historical fishing
records, favoring developed countries such as Japan and Australia, while
developing countries like Indonesia receive significantly lower quotas despite
increasing participation. TWAIL provides a critical framework to examine how
such international governance regimes perpetuate inequality and limit the
meaningful participation of the Global South in the sustainable use of marine
resources.
The thesis concludes that without reform, the quota distribution system
under CCSBT risks reinforcing neo-colonial practices under the guise of
sustainability. It recommends institutional revisions to CCSBT’s
decision-making and allocation mechanisms to better accommodate equity for
developing nations and reflect contemporary global justice values in
international marine governance.
Kata Kunci : CCSBT, Tuna Sirip Biru Selatan, kuota perikanan, TWAIL, RFMO, hukum laut internasional, negara berkembang.