Pola Penyakit yang Mendasari Infeksi Saluran Kemih pada Anak di UPA RSUP Dr. Sardjito Periode Tahun 1995-1997
Budhi Hartoko, dr.M.P.Damanik, SpAK
1999 | Skripsi | S1 KEDOKTERANInfeksi saluran kemih (ISK) pada anak dan bayi sering ditemukan, namun diagnosisnya tidak mudah ditegakkan karena gejala klinik yang tidak ada (asimtomatik) atau tidak khas serta perhatian dokter tidak tertuju pada saluran kemih. Pada anak dengan ISK sering ditemukan dengan sifat berulang serta dapat merupakan penyakit yang mengancam hidup ataupun awal dari penyakit ginjal di masa dewasa. Terdapat laporan bahwa pemasangan kateter kandung kemih di rumah sakit dapat menimbulkan 1SK nosokomial, pada anak kejadian ini cukup tinggi yaitu 14,2 per 1000 anak yang dirawat. Penelitian ini bertujuan mengetahui latar belakang medis anak yang menderita 1SK, mengidentifikasi keadaan atau penyakit yang menyebabkan anak menjadi rentan terhadap 1SK. Secara normal terdapat mekanisme pertahanan lokal saluran kemih untuk mencegah terjadinya infeksi saluran kemih.Terjadinya 1SK tergantung dari faktor bakteri penyebab dan faktor pejamu, yang meliputi faktor lokal saluran kemih dan faktor sistemik. Terdapat bermacam-macam faktor predisposisi yang berperan dalam kejadian ISK, seperti: obstruksi urin, kelainan struktural atau fungsional saluran kemih, urolitiasis, neurogenic bladder, refluks vesikoureteral, kateterisasi, fistula enterovesika, imunosupresi, malnutrisi, dan diabetes melitus. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan mengambil data sekunder dari bagian rekam medis RSUP Dr. Sardjito. Subyek penelitian adalah anak yang menderita 1SK di UPA RSUP Dr Sardjito periode tahun 1995-1997. Pada penelitian ini didapatkan 55 anak yang menderita 1SK (29 laki-laki dan 26 perempuan), tetapi yang lengkap arsip status medisnya adalah 47 penderita (26 laki-Iaki dan 21 perempuan). Kejadian ISK terbanyak terjadi pada kelompok umur 0-<6 tahun yang merupakan umur bayi dan prasekolah sebanyak 34 kasus. Dari 47 kasus 1SK, 25 kasus dengan hasil pemeriksaan mikrobiologik urin positif, dan 22 kasus hasil pemeriksaan mikrobiologik urin negatif atau tidak dilakukan pemeriksaan mikrobiologik urin. Ditemukan lebih banyak kasus ISK dengan penyakit penyerta dan/atau yang melatarbelakangi (40 kasus) daripada kasus 1SK tunggal (7 kasus). Penyakit penyerta yang paling banyak dijumpai adalah kelompok penyakit infeksi, yang paling sering adalah demam tifoid (12 kasus). Penyakit yang melatarbelakangi yang paling banyak dijumpai adalah primer kompleks tuberkulosis ( PKTB ), baik yang masih dalam terapi maupun yang sudah sembuh (total 9 kasus). Ditemukan 3 kasus ISK berulang pada 2 perempuan dan 1 laki-laki, masing- masing berulang 1 kali. Ditemukan 4 kasus 1SK kompleks pada 3 laki-laki dan 1 perempuan (2 kasus dengan hidronefrosis dan 2 kasus dengan fimosis). Ditemukan 2 kasus dengan retensi urin yang dilakukan kateterisasi kandung kemih. Tiga macam kuman penyebab ISK pada 25 kasus dengan hasil pemeriksaan mikrobiologik urin positif adalah Klebsiella (13 kasus), E. coli (11 kasus), dan Pseudomonas (10 kasus). Secara umum disimpulkan bahwa sebagian besar kasus ISK pada anak disertai dengan penyakit penyerta dan/atau penyakit yang melatarbelakangi, di mana kelompok penyakit infeksi merupakan jenis penyakit penyerta dan/atau penyakit yang melatarbelakangi yang terbanyak. Saran: perlunya perhatian dokter dan paramedis mewaspadai timbulnya ISK pada anak yang menderita suatu penyakit atau kondisi medis yang menyebabkan rentan terhadap ISK.
Kata Kunci : Infeksi Saluran Kemih, Anak, Ginjal