Kinerja Program keluarga berencana di propinsi DIY pada masa pasca krisis ekonomi
Fransisca Dian Ekarini, Drs. Tukiran, M.A.; Prof. Drs. Kasto, M.A.
2002 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kinerja program keluarga berencana di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada masa pasca krisis ekonomi dilihat dari pola penggunaan kontrasepsi, sumber pelayanan KB dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pelayanan KB terakhir menurut kabupaten/kota. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui karakteristik demografi, sosial dan ekonomi akseptor KB di Propinsi DIY Tahun 1996 dan 2000. Data yang digunakan adalah data mentah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) untuk Propinsi Daerah Intimewa Yogyakarta tahun 1996 dan 2000. Data Susenas kor/inti merupakan data yang paling cocok untuk penelitian yang berkaitan dengan keadaan demografi, sosial dan ekonomi masyarakat dan dapat dinalisa sampai pada kabupaten/kota. Pengolahan data menggunakan program SPSS dan hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan tabel silang. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut (1) akibat adanya krisis ekonomi maka terjadi penurunan akseptor KB di Propinsi DIY, (2) pola penggunaan kontrasepsi di Propinsi DIY tahun 1996 dan 2000 tidak berubah yaitu terbanyak tetap kontrasepsi AKDR/IUD/spiral disusul oleh Suntikan KB dan Pil KB, walaupun terjadi penurunan persentase penggunaan kontrasepsi AKDR/IUD/spiral sekaligus peningkatan persentase penggunaan kontrasepsi Suntikan KB, (3) ternyata sebagian besar akseptor KB di Propinsi DIY menggunakan sumber pelayanan KB dari swasta dibandingkan pelayanan pemerintah dan lainnya serta tidak terjadi perbedaan penggunaan sumber pelayanan KB menurut pengeluaran rumah tangga, (4) Median biaya yang dikeluarkan akseptor untuk mendapatkan alat kontrasepsi dari pelayanan swasta ternyata lebih besar dibandingkan dari pelayanan pemerintah. Banyaknya akseptor KB yang memilih memanfaatkan pelayanan KB swasta kemungkinan karena pelayanannya bagus dan persediaan alat kontrasepsinya lebih lengkap dibandingkan dari pemerintah, walaupun biayanya lebih mahal. Untuk mempertahankan keberlanjutan pemakaian kontrasepsi oleh akseptor pada masa pasca krisis agar tidak drop out, maka diperlukan usaha baik dari pemerintah maupun masyarakat. Dianjurkan masyarakat menggunakan kontrasepsi jangka panjang yang lebih efisien sehingga bisa menekan biaya kontrasepsi. Dari pihak pemerintah, agar bisa memberikan subsidi kontrasepsi bagi pasangan usia subur (PUS) yang benar-benar membutuhkan, serta kalau memungkinkan, mengembangkan alat kontrasepsi buatan dalam negeri sehingga biaya kontrasepsi bisa terjangkau masyarakat.
The objective of this research is to examine the family planning program in Yogyakarta Province after economic crisis looked from contraceptive use pattern, family planning's place and money expended to get family planning service according to regency or town. Beside that, this research is also to understand demographic characteristic, social-economic of contraceptive use in Yogyakarta Province in 1996 and 2000. Secondary data from The National Social Economy Survey in 1996 and 2000 are the main source for this research. Quantitative analysis is employed to examine the changing pattern of contraceptive use. Processing data used SPSS program and the result refer in frequency tables and cross-table. The finding shows that (1) because of economy crisis, then contraceptive use in Yogyakarta Province is decrease, (2) contraceptive pattern in Yogyakarta Province in 1996 and 2000 unchanged, the greatest is AKDR/IUD/spiral then injection, pill, (3) most of contraceptive use in Yogyakarta Province used private family planning place rather than government family planning place and no different in use family planning place according to household expend, (4) expense to get contraceptive from private place bigger than government place. Most of contraceptive use choose private place because of good service and the contraceptive more complete. To maintain use contraceptive after crisis in order to not drop out, needed effort from government and society. People pleased to use long time contraceptive, so can decrease contraceptive expense. Government in order to give subsidy for fertile age couple that needy.
Kata Kunci : Kinerja program keluarga berencana, krisis ekonomi,DIY