Perbedaan Sikap Komunitas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV) Pralansia Dan Lansia Terhadap Program Pemberdayaan Kader Peduli Penyakit Tidak Menular (Ptm) Di Yogyakarta Berdasarkan Karakteristik Sosiodemografi : Analisis Kuantitatif Dan Kualitatif
Silvia Hari Prastiwi, Prof.Dr.dr.Adi Heru SUtomo.,M.Sc.,DCN.,Sp.KKLP.Subsp COPC ; Prof.Dr.dr. Eti Nurwening Sholikhah.,M.Kes.,M.Med.Ed.,Sp.KKLP
2025 | Tesis-Spesialis | KEDOKTERAN KELUARGA LAYANAN PRIMER
Latar Belakang: Keberlangsungan program pemberdayaan kader dalam pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) pralansia dan lansia sangat dipengaruhi oleh sikap komunitas.Dalam konteks kedokteran keluarga, pemahaman terhadap sikap ini penting untuk memperkuat pendekatan pelayanan kesehatan berbasis komunitas.
Tujuan: Mengetahui perbedaan antara karakteristik sosiodemografi (usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan terakhir, dan keberadaan penyakit komorbid PTM) dengan sikap komunitas terhadap program pemberdayaan kader peduli PTM pada ODHIV usia pralansia dan lansia di Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain convergent parallel mixed methods dengan pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner skala Likert terhadap 46 partisipan dan dianalisis menggunakan uji Mann- Whitney dan Kruskal-Wallis. Data kualitatif diperoleh dari alasan partisipan dalam memilih jawaban dan dianalisis dengan content analysis.
Hasil: Data sosiodemografi partisipan adalah lansia (60,9%), perempuan (60,9%), menikah (78,3%), dengan pendidikan menengah (47,8%), dan tanpa komorbid PTM (69,6%). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara karakteristik sosiodemografi dengan sikap terhadap program (p >0,05). Analisis kualitatif menunjukkan bahwa komunitas memiliki persepsi positif terhadap program, yang didasari oleh peningkatan pengetahuan, peran kader, dan manfaat program bagi gaya hidup sehat.
Kesimpulan: Sikap komunitas terhadap program pemberdayaan kader peduli PTM secara umum bernilai positif. Data kuantitatif menunjukkan bahwa sikap tersebut tidak dipengaruhi secara signifikan olehkarakteristik sosiodemografis, yang berarti program diterima secara merata. Temuan ini didukung oleh data kualitatif yang menunjukkan bahwa partisipan merasakan manfaat program, menghargai peran kader, danmenunjukkan peningkatan kepedulian terhadap isu PTM. Hasil ini mencerminkan bahwa pendekatan berbasis komunitas telah diterima dengan baik dan berpotensi memperkuat layanan kesehatan primer.
Background: The sustainability of community health worker (CHW) empowerment programs for the prevention and control of Non-Communicable Diseases (NCDs) among pre-elderly and elderly People Living with HIV/AIDS (PLHIV) is highly influenced by community attitudes. In the context of family medicine, understanding these attitudes is essential to strengthen community- based healthcare approaches. Objective: To examine the relationship between sociodemographic characteristics (age, sex, marital status, educational background, and the presence of NCD comorbidities) and community attitudes toward the CHW empowerment program for NCD control among pre- elderly and elderly PLHIV in Yogyakarta. Methods: This study employed a convergent parallel mixed methods design, collecting quantitative and qualitative data simultaneously. Quantitative data were obtained through a Likert-scale questionnaire administered to 46 participants and analyzed using the Mann- Whitney and Kruskal-Wallis tests. Qualitative data were derived from participants’ written reasons for their responses and analyzed using content analysis. Results: The sociodemographic data showed that the participants were elderly (60.9%), female (60.9%), married (78.3%), had a middle-level education (47.8%), and had no NCD comorbidities (69.6%). Bivariateanalysis showed no statistically significant relationship between any sociodemographic characteristics and attitudes toward the program (p > 0.05). The qualitative findings revealed generally positive perceptions of the program, driven by increased health knowledge, the active role of CHWs, and the program’s benefits for promoting a healthy lifestyle. Conclusion: Community attitudes toward the cadre empowerment program for non- communicable disease (NCD) prevention were generally positive. Quantitative data indicated that these attitudes were not significantlyinfluenced by sociodemographic characteristics, suggesting that the program was equally well-received across groups. This finding was supported by qualitative data, which revealed that participants perceived tangible benefits from the program, valued the role of the cadres, and demonstrated increased awareness of NCD- related issues. Overall, these results indicate that the community-based approach has been well accepted and holds potential to strengthen primary health care services.
Kata Kunci : Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV), pralansia dan lansia, pemberdayaan kader, penyakit tidak menular, sikap komunitas.