Laporkan Masalah

Eksplorasi Kesiapan dalam Menghadapi Kehamilan pada Wanita di Kabupaten Bantul, Yogyakarta

Harti Rahmi Aunurul Lisa, dr. Fitriana Murriya Ekawati, MPHC,Ph.D, Sp.KKLP, Susbp.FOMC ; dr. Anis Widyasari, Sp.OG(K)

2025 | Tesis-Spesialis | KEDOKTERAN KELUARGA LAYANAN PRIMER

Latar belakang: Kesiapan menghadapi kehamilan merupakan bagian penting dalam upaya mencapai kehamilan yang sehat, aman, dan terencana. Di Indonesia, layanan prakonsepsi masih terbatas dan sering disalahartikan sebatas konseling pranikah. Dalam konteks ini, penguatan dokter keluarga di layanan primer menjadi strategi penting untuk meningkatkan kesiapan kehamilan yang komprehensif, berkesinambungan, dan sensitif budaya.  

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman, pemahaman, serta faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan wanita dalam menghadapi kehamilan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, melibatkan 20 partisipan wanita usia reproduksi dari dua Puskesmas( Kretek dan Jetis 2). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah( DKT), kemudian dianalisis secara tematik induktif menggunakan NVivo 15, berdasarkan kerangka teori Health Belief Model( HBM), Social Support Theory, dan Self Efficacy Theory.

Hasil penelitian: Dari 13 wawancara mendalam dan 2 sesi DKT ditemukan tiga tema utama, yaitu: keyakinan, dukungan, dan kapasitas diri. Keyakinan menggambarkan bagaimana partisipan menilai risiko, manfaat, hambatan, dan kerentanan dalam mempersiapkan kehamilan; dukungan menggambarkan tidak hanya dukungan yang sudah diterima namun juga mencakup dukungan yang dibutuhkan untuk mendukung kesiapan menghadapi kehamilan; dan kapasitas diri menggambarkan kemampuan internal yang dimiliki partisipan untuk mempersiapkan kehamilan. Faktor budaya juga berperan secara implisit melalui kepercayaan lokal, norma sosial, dan adanya pergeseran budaya digital.

Kesimpulan: Kesiapan menghadapi kehamilan merupakan suatu proses yang multidimensional dan saling berkaitan. Kesiapan kehamilan tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi dibentuk oleh keyakinan terkait kesehatan, dukungan, dan kapasitas diri yang terbangun dari pengalaman, pengetahuan, serta konteks budaya setempat. Berdasarkan keerangka stage of change, sebagian besar wanita berada pada tahap prakontemplasi menuju kontemplasi, dimana kesadaran terhadap pentingnya persiapan kehamilan telah muncul, tetapi belum disertai tindakan nyata. Hasil penelitian ini menjadi dasar pengembangan kerangka konseptual kesiapan kehamilan berbasis layanan primer yang komprehensif, berkesinambungan, dan sensitif budaya.  


Background: Pregnancy readiness is an essential component in achieving a healthy, safe, and well planned pregnancy. In Indonesia, preconception care remains limited and is often misunderstood as merely premarital counseling. Strengthening the role of family physicians in primary healthcare is therefore a key strategy to enhance comprehensive and sustainable pregnancy preparedness.

Objective: This study aimed to explore in depth the experiences, understanding, and factor influencing women's readiness for pregnancy in Bantul Regency, Yogyakarta. 

Methods: This research employed a qualitative phenomenological approach, involving 20 reproductive age women recruited from two primary health center( Kretek and Jetis 2). Data were collected through in depth interview and focus group discussion(FGDs) and analyzed inductively using thematic analysis with NVivo 15, guided by the Health Belief Model(HBM), Social Support Theory, and Self Efficacy Theory.

Result: From 13 in depth interviews and two FGDs, three major themes emerged: beliefs, support, and self capacity. Beliefs reflected participants perceptions of risk, benefits, barriers, and vulnerability related to pregnancy preparation; support encompassed both the assistance received and the support needed to enhance pregnancy readiness; self capacity described participants internal abilities to prepare themselves physically, mentally, and socio economically for pregnancy. Cultural factor also played an implicit role through local beliefs, social norm, and a noticeable shift toward digital culture.

Conclusion: Pregnancy readiness is a multidimensional and interconnected process shaped by health beliefs, social support, and self capacity that develop through personal experiences, knowledge, and sociocultural contexts. Based on stage of chage framework, most participants were at the precontemplation to contemplation stage. the findings provide the foundationfor developing a comprehensive, continuity, and cultural sensitive conceptual framework of pregnancy readiness within primary healthcare services. 


Kata Kunci : kesiapan kehamilan, prakonsepsi, dokter keluarga layanan primer, dukungan sosial dan kapasitas diri, kualitatif.

  1. SPESIALIS-2025-502342-abstract.pdf  
  2. SPESIALIS-2025-502342-bibliography.pdf  
  3. SPESIALIS-2025-502342-tableofcontent.pdf  
  4. SPESIALIS-2025-502342-title.pdf