Hegemoni Adat: Sirih Pinang & Hierarki Marga Dalam Wacana Pembangunan Hutan Produksi Terbatas (HPT) PT. BLM di Nuaulu Rohua, Nageri Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah
Tara Charissa Oktavia Sapulette, Tapiheru Joash Elisha, S.I.P., M.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Politik
Penelitian ini membahas keadaan diam dan ketidakberdayaan suku adat Nuaulu di tengah
kerusakan ekologis, kerugian sosial dan perpecahan komunal Nuaulu atas pembangunan Hutan
produksi Terbatas (HPT) PT. Bintang Lima Makmur di negeri Sepa, Maluku Tengah. Fokus
penelitian ini terletak pada bagaimana wacana adat Sirih Pinang digunakan oleh hierarki marga
adat untuk mendukung wacana pembangunan dan mengeklusi posisi masyarakat adat lainnya.
Dalam tulisan ini terdapat masing-masing aktor yang bertarung membentuk wacana
pembangunan yang hegemoni seperti: pemerintah, perusahaan PT. BLM dan suku Nuaulu.
Persoalan yang akan dilihat dalam penelitian ialah terkait dengan bagaimana posisi simbol
Sirih Pinang diartikulasikan oleh marga adat sebagai sebuah moments totalitas yang mengunci
makna menjadi hegemoni. Hegemoni Sirih Pinang ini merujuk pada keadaan diam dan
ketidakberdayaan teoritik milik Steven Lukes.
Melalui kerangka konstruksi hegemoni yang dijelaskan oleh Ernesto Laclau & Chantal Mouffe
dirancang untuk menjelaskan mengapa sikap diam dan ketidakberdayaan Nuaulu merujuk pada
wujud laten kekuasaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan
pendekatan analisis wacana post-strukturalis Laclau dan Mouffe. Pencarian data dilakukan
melalui proses wawancara, observasi, review, dokumentasi dan pustaka yang kemudian
divalidasi melalui teknik analisis wacana.
Temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa posisi hierarki marga Sonawe Aenakahata
dan Somory Angkarua mengartikulasikan Sirih Pinang sebagai nodal point-yaitu pusat
produksi makna yang disusun ulang oleh penanda seperti: rumah adat, tanah marga dan hierarki
marga ke dalam satu blok makna yang hegemonik. Sirih Pinang menjadi alat bagi wacana adat
untuk membangun aliansi dengan wacana pembangunan. Kedaan ini menciptakan kesadaran
dan membentuk sikap diam dan ketidakberdayaan dari suku adat Nuaulu. Sikap diam dan
ketidakberdayaan ini tercipta bukan karena adanya persetujuan, melainkan karena suku Nuaulu
tidak memiliki preferensi lain untuk ditandingkan. Penanda Sirih Pinang pada hasil penelitian
ini menciptakan posisi subjektivitas yang hegemonik bagi seluruh suku adat Nuaulu. Peneliti
ini berkontribusi memperluas cakrawala teoritik diskursus milik Laclau & Mouffe dengan
menunjukkan bahwa hegemoni yang cair dan tidak tetap ini berhasil difiksasikan oleh
konstruksi hierarki marga adat yang menggunakan simbol budaya sakral yaitu: Sirih Pinang.
This study discusses the silence and powerlessness of the Nuaulu indigenous tribe amid
ecological damage, social losses, and communal divisions in Nuaulu due to the development
of PT. Bintang Lima Makmur's Limited Production Forest (HPT) in Sepa, Central Maluku. The
focus of this study is on how the traditional discourse of Sirih Pinang is used by the traditional
clan hierarchy to support the discourse of development and exclude other indigenous
communities. This paper discusses the various actors who are fighting to shape the hegemonic
discourse of development, namely the government, PT. BLM, and the Nuaulu tribe. The issue
examined in this study is how the symbolic position of Sirih Pinang is articulated by the
indigenous clan as a moment of totality that locks meaning into hegemony. The hegemony of
Sirih Pinang refers to the state of silence and theoretical powerlessness described by Steven
Lukes.
The framework of hegemonic construction explained by Ernesto Laclau & Chantal Mouffe is
designed to explain why the silence and powerlessness of the Nuaulu refer to a latent form of
power. This research is qualitative research using Laclau and Mouffe's post-structuralist
discourse analysis approach. Data collection was carried out through interviews, observation,
review, documentation, and literature, which were then validated through discourse analysis
techniques.
The findings in this study show that the hierarchical position of the Sonawe Aenakahata and
Somory Angkarua clans articulates Sirih Pinang as a nodal point—that is, a center of meaning
production that is reorganized by markers such as traditional houses, clan land, and clan
hierarchy into a single hegemonic block of meaning. Sirih Pinang becomes a tool for traditional
discourse to build alliances with development discourse. This situation creates awareness and
shapes the silence and helplessness of the Nuaulu indigenous tribe. This silence and
helplessness are not created because of consent, but because the Nuaulu tribe has no other
preferences to compete with. The signifier of Sirih Pinang in this research creates a position of
hegemonic subjectivity for the entire Nuaulu indigenous tribe. This researcher contributes to
expanding the theoretical horizon of Laclau & Mouffe's discourse by showing that this fluid
and unstable hegemony has been successfully fixed by the construction of the indigenous clan
hierarchy using the sacred cultural symbol of Sirih Pinang.
Kata Kunci : Hegemoni, Laclau-Mouffe, Suku Adat Nuaulu, Hierarki Marga Adat, Sirih Pinang.