Laling Je'ne (Praktik Penyediaan Air Warga): Potret Krisis Air Bersih Di Pinggiran Kota Makassar
Mustaqim, Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A.
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Persoalan
krisis air bersih adalah proses yang sangat penting untuk dikaji dalam dunia
akademik terutama dalam studi perkotaan. Krisis air bersih adalah persoalan
penting bagi kehidupan, saat tidak ada air maka saat itu juga tidak akan ada
kehidupan. Persoalannya kemudian adalah persoalan krisis air bersih
kerap berhenti pada persoalan teknis semata mulai dari kekurang debit air
sampai pada kerusakan teknis. Padahal dalam kajian air di perkotaan aspek
distribusi sangat penting untuk dikaji. Hal ini karena persoalan
distribusi akan berkaitan dengan persoalan keadilan distribusi. Ada
banyak wilayah, dimana terjadi ketimpangan distribusi air membuat beberapa
wilayah harus merasakan krisis air bersih yang berlarut-larut. Ada wilayah yang
mendapatkan banyak pasokan air karena posisi tawarnya yang kuat sebagai wilayah
pusat ekonomi. Sementara ada wilayah yang tidak mendapatkan pasokan air karena
dianggap tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Selain itu, aspek di luar
manusia juga penting untuk dibahas dalam persoalan krisis air, salah satunya
bagaimana agensi di luar manusia mempengaruhi kondisi air di sebuah wilayah.
Tujuan
penelitian ini untuk menganalisis bagaimana ketimpangan distribusi air yang
terjadi di wilayah pinggiran kota Makassar dengan metode penelitian etnografi
selama tiga bulan.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa adanya ketimpangan distribusi air yang terjadi di
kota Makassar, salah satunya karena aspek infrastruktur air yang tidak berjalan
dengan baik di wilayah penelitian. Di wilayah utara dengan jumlah pelanggan
yang lebih banyak justru mendapatkan pasokan yang lebih sedikit ketimbangan
wilayah barat Makassar dengan jumlah pelanggan yang lebih sedikit.
Penelitian ini juga melihat bagaimana warga Gampangcayya mampu melakukan agensi dalam membangun jaringan air mandiri yang tidak terkoneksi langsung dengan jaringan air formal PDAM. Melalui aktivitas Laling Je’ne, warga melakukan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya.
The issue of clean water scarcity
constitutes a crucial area of inquiry in academic discourse, particularly
within urban studies. Clean water scarcity is fundamentally a matter of life
itself; where water is absent, life cannot be sustained. Yet debates on water
crises frequently remain confined to technical considerations, ranging from
insufficient water discharge to physical system failures. In fact, within urban
water studies, the question of distribution is essential, as distributional
dynamics are inherently tied to issues of distributive justice. Numerous urban
areas experience unequal water distribution, resulting in prolonged clean water
shortages in certain neighborhoods. Some areas receive ample water supply due
to their strong bargaining position as economic centers, whereas others are
deprived of supply because they are deemed to possess limited political or
economic leverage. Beyond human factors, non-human elements are also central to
understanding water crises, particularly the ways in which non-human forms of
agency shape water conditions in specific localities. The aim of this study is to analyze
how unequal water distribution unfolds in the peri-urban areas of Makassar
through a three-month ethnographic investigation. The findings reveal
significant distributional disparities across the city, partly due to malfunctioning
or inadequate water infrastructure in the research site. In the northern area,
which has a larger number of customers, households paradoxically receive less
water than those in western Makassar, where the customer base is considerably
smaller. This study also demonstrates how
residents of Gampangcayya enact agency by developing independent water networks
that operate outside the formal water infrastructure of the local utility
(PDAM). Through the practice known as Laling Je’ne, residents secure their
daily clean water needs by constructing and maintaining their own decentralized
water systems.
Kata Kunci : Laling Je’ne, Krisis Air, Infrastruktur Air, Infrastruktur Mandiri