Laporkan Masalah

Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Stunting di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2018-2023

ARIF BIJAKSANA, Dr. R. Y. Kun Haribowo Purnomosidi, S.E.,M.Si, GRCP.

2025 | Tugas Akhir | D4 PEMBANGUNAN EKONOMI KEWILAYAHAN

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi percepatan penurunan stunting di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama periode 2018– 2023, menggunakan pendekatan kuantitatif dan model regresi data panel. Stunting merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, ditandai oleh gagal tumbuh pada balita akibat masalah gizi kronis, yang berkaitan erat dengan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Prevalensi stunting di DIY mencatatkan peningkatan dari 16,4% pada tahun 2022 menjadi 18% pada tahun 2023. Studi ini menguji hipotesis mengenai pengaruh variabel independen: akses rumah tangga terhadap sanitasi layak, tingkat kemiskinan, cakupan kepemilikan BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran), dan akses rumah tangga terhadap air minum layak terhadap laju penurunan stunting, dengan unit observasi meliputi lima kabupaten/kota di DIY. Berdasarkan hasil Uji Chow dan Uji Hausman, Fixed Effect Model (FEM) terpilih sebagai model estimasi yang paling tepat. Hasil uji parsial (uji-t) menemukan bahwatingkat kemiskinan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prevalensi stunting, yang menunjukkan bahwa peningkatan kemiskinan berkontribusi pada peningkatan kasus stunting di DIY. Sementara itu, variabel akses sanitasi layak, kepemilikan BPJS PBI, dan akses air minum layak secara parsial ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap penurunan stunting. Meskipun demikian, keempat variabel tersebut secara simultan (Uji-F) memiliki pengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting, dengan kemampuan menjelaskan variabilitas sebesar 28,06% (R-squared). Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan perlunya peningkatan program penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi langsung dengan pemenuhan gizi dan kesehatan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di DIY.

This study analyzes the factors influencing the accelerated reduction of stunting in the Special Region of Yogyakarta (DIY) Province over the 2018–2023 period, utilizing a panel data regression model. Stunting, defined as growth failure in toddlers due to chronic malnutrition, remains a critical public health challenge in Indonesia with broad social, economic, and environmental implications. Notably, stunting prevalence in DIY increased from 16.4% in 2022 to 18% in 2023. The research tests the hypotheses concerning the impact of four key independent variables—household access to proper sanitation, poverty rate, coverage of BPJS PBI (Contribution Assistance Recipient) ownership, and household access to clean drinking water—on the rate of stunting reduction. The analysis covers all five regencies/city in DIY. Based on the Chow and Hausman tests, the Fixed Effect Model (FEM) was determined to be the most appropriate estimation model. The partial test (t-test) results indicate that the poverty rate has a positive and significant influence on stunting prevalence, suggesting that increased poverty contributes to higher stunting rates. Conversely, variables for access to proper sanitation, BPJS PBI ownership, and access to clean drinking water were found to be not statistically significant in reducing stunting individually. Nevertheless, the four variables collectively (F-test) have a significant impact on stunting prevalence, explaining 28.06% of the variation (R-squared). This research recommends that the DIY Provincial Government and local authorities enhance poverty alleviation programs that are directly integrated with nutritional and health fulfillment during the critical 1,000 First Days of Life (HPK).

Kata Kunci : Stunting, Akses Sanitasi, Akses Air Minum, Kemiskinan, BPJS PBI

  1. D4-2025-463964-abstract.pdf  
  2. D4-2025-463964-bibliography.pdf  
  3. D4-2025-463964-tableofcontent.pdf  
  4. D4-2025-463964-title.pdf