Laporkan Masalah

Pemanfaatan pekerja anak di propinsi Jawa Tengah (Analisis data susenas 1987)

Purbowati D, Drs. Sukamdi, M.Sc

2000 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Transformasi sosial dari tipe pre-industri ke tipe industri modem seringkali diikuti dengan kenaikan jumlah anak-anak yang bekerja di luar rumah. Kondisi anak-anak yang bekerja tersebut cenderung di eksploitasi dan berakibat buruk bagi kesehatan dan perkembangan fisik dan mental mereka. Banyak faktor mempengaruhi masuknya pekerja anak di berbagai aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan di daerah tertentu. Akibatnya jumlah pekerja anak yang masuk kedalam lapangan pekerjaan tertentu berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya. Permasalahan diatas menjadi dasar dari penelitian ini, selain itu penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui jumlah pekerja anak yang masuk kedalam pasar kerja, pemanfaatanya dan untuk mengetahui perbedaan fenomena pekerja anak karena perbedaan tingkat pembangunan ekonomi daerah. Metode penelitian adalah metode analisa data sekunder. Data utama yang digunakan adalah Susenas 1997 didukung data-data lain yang dikeluarkan kantor-kantor pemerintah dan penelitian sebelumnya. Sebagian besar pekerja Di Jawa Tengah pada tahun 1997 bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan jenis kelamin jumlah pekerja anak perempuan yang bekerja di sektor manufaktur dan jasa lebih besar daripada anak laki-laki. Pekerja anak, khususnya pekerja anak perempuan menghadapi resiko yang tinggi dalam pekerjaan mereka karena pekerjaan di sektor manufaktur dan jasa seringkali berbahaya bagi kesehatan, keselamatan dan kelangsungan pendidikan, pekerjaan mereka seringkali berbahaya bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Pekerja anak perempuan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terhadap efek negatif dari buruh anak. Di Kotamadya Sernarang, Kotamadya Surakarta, Kotamadya Pekalongan, Kotamadya Magelang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kudus atau di sebut juga Daerah A (pembangunan ekonomi tinggi) secara mengejutkan ditemukan lebih banyak anak-anak yang bekerja di sektor manufaktur dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Tengah. Ini dapat terjadi karena daerah tersebut merupakan daerah industri yang memberi kesempatan kerja yang lebih besar di sektor manufaktur dan jasa dibanding daerah lain. Sebagian besar pekerja anak di Jawa Tengah pada tahun 1997 bekerja di sektor informal. Namun berdasar jenis kelamin jumlah pekerja anak perempuan yang bekerja di sektor formal lebih banyak daripada anak laki-laki. Banyak pekerja anak dipekerjakan dengan jam kerja yang panjang setiap harinya. Di Daerah C (pembangunan ekonomi rendah) hampir setengah (44,98%) dari pekerja anak di daerah itu bekerja tujuh hari dalam seminggu, tetapi di Daerah A (pembangunan ekonomi tinggi) jumlah pekerja anak yang bekerja lebih/sama dengan 4 jam/hari lebih banyak daripada daerah lainnya Waktu yang panjang dapat menyebabkan kecelakaan kerja, selain itu jam kerja lebih dari 4 jam/hari menyebabkan anak-anak tidak mempunyai waktu untuk belajar. Fakta menunjukkan di Daerah A (pembangunan ekonomi tinggi) hanya 14,3 persen dari pekerja anak yang mempunyai jam kerja lebih/sama dengan 4 jam/hari dapat menggabungkan bekerja mereka dengan sekolah. Banyak penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan satu-satunya dan faktor yang paling berpengaruh yang mendorong masuknya anak kepasar kerja. Namun terdapat faktor lain yang turut mendorong masuknya anak kepasar kerja. Data menunjukkan bahwa pekerja anak banyak ditemukan pada rumah tangga yang mempunyai kepala rumah tangga berpendidikan rendah, bekerja di sektor pertanian atau sektor informal dan ibu mereka juga umumnya berpendidikan rendah. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan pekerja anak sangat komplek.

-

Kata Kunci : Pekerja Anak,Jawa Tengah

  1. S1-2000-Purbowati_D-abstract.PDF  
  2. S1-2000-Purbowati_D-bibliography.PDF  
  3. S1-2000-Purbowati_D-tableofcontent.PDF  
  4. S1-2000-Purbowati_D-title.PDF