Analisis Upaya Penagihan Iuran Peserta PBPU Mandiri Menunggak Yang Beralih Segmen Kepesertaan Menjadi PPU Badan Usaha Di BPJS Kesehatan Kantor Cabang Utama Manado
Andry Budiarjo, Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., M.Kes, MBA, AAK
2025 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar Belakang : BPJS
Kesehatan sebagai pengelola JKN menghadapi tantangan kepatuhan iuran pada
peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) menunggak yang beralih segmen
menjadi Pekerja Penerima Upah Badan Usaha (PPU BU). Peralihan segmen tidak
menghapus tunggakan meskipun status kepesertaan sudah aktif, sehingga
berpotensi mengganggu keberlanjutan finansial JKN di seluruh kantor cabang,
termasuk Kantor Cabang Utama (KCU) Manado.
Metode : Penelitian kualitatif eksploratoris,
pendekatan studi kasus di KCU Manado, Dinas Tenaga Kerja, dan badan usaha.
Informan dipilih secara purposive sampling, meliputi pegawai BPJS
Kesehatan, perwakilan Dinas Tenaga Kerja, perwakilan badan usaha, dan peserta
PPU BU, total 21 responden dilakukan pada Maret sampai Juni 2024. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, studi dokumen, selanjutnya dianalisis
tematik.
Hasil : BPJS Kesehatan KCU Manado telah memiliki kapasitas organisasi pada
fungsi penagihan, tetapi belum memadai khususnya untuk menangani PBPU Mandiri
menunggak yang beralih menjadi PPU BU. Telekolekting, sosialisasi program
REHAB, dan inovasi Gita Purnama sudah berjalan dan berkontribusi dalam
pengumpulan tunggakan, namun pemantauan kinerja masing-masing mekanisme, dan
dukungan kapasitas masih terbatas disebabkan hambatan internal (SDM, data
kontak, administrasi) dan eksternal (pengetahuan, sikap, kemampuan bayar
peserta, serta pengaturan dan sanksi). Akibatnya, penagihan belum optimal,
tunggakan segmen ini cenderung meningkat, dan kepatuhan pembayaran belum stabil.
Kesimpulan : Penagihan alih segmen PPU BU belum didukung
kapasitas organisasi, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi yang memadai
sehingga capaian penagihan belum optimal. Diperlukan penguatan kapasitas,
sistem monitoring dan evaluasi, kemitraan eksternal termasuk CSR, optimalisasi
REHAB , autodebit, validasi kontak, serta kebijakan pendukung.
workers (PBPU) with arrears who shift to the wage based
worker segment (PPU BU). Segment change does not cancel arrears although
membership becomes active, potentially undermining JKN financial sustainability
across all branch offices, including the Manado Main Branch Office (KCU Manado).
Method : This exploratory qualitative case study was
conducted at KCU Manado, the Manpower Office, and enterprises. Using purposive
sampling, 21 informants (BPJS Kesehatan staff, Manpower Office officials,
employer representatives, and PPU BU participants with PBPU arrears) were
interviewed in March -June 2024. Data from in depth interviews and document
review were analysed thematically.
Results: KCU Manado has organisational capacity for
contribution collection, but it is not yet sufficient to manage PBPU arrears
after shift to PPU BU. Tele-collecting, socialisation of the phased
contribution payment plan (REHAB), and the Gita Purnama innovation help recover
arrears, but monitoring and supporting capacity remain limited. Internal
barriers concern human resources, contact data quality, and administrative
processes, external barriers concern participant knowledge, attitudes, ability
to pay, and weak enforcement of sanctions. Consequently, collection performance
is suboptimal and arrears and contribution compliance in this segment remain
unstable.
Conclusion: Arrears collection for PBPU who have
shifted to the PPU BU segment lacks adequate capacity, implementation, and
monitoring. Strengthening organisational capacity, monitoring systems, external
partnerships including CSR, optimisation of REHAB and auto-debit, contact
validation, and supportive policies is required.
Kata Kunci : JKN, Telekolekting, REHAB, Gita Purnama, Tunggakan Alih Segmen