Ketertindasan Berlipat: Studi Kasus Pengalaman Perempuan Dalam Pengambilan Keputusan Rumah Tangga Saat Menghadapi Kekeringan di Desa Tubuhue
Nur Saadah Nubatonis, Bahruddin, S. Sos., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN
Perempuan adalah salah satu korban bencana kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim dalam kalangan masyarakat pedesaan. Hal ini disebabkan karena masyarakat pedesaan khususnya perempuan masih sangat bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan primernya termasuk air bersih. Ketika terjadi perubahan iklim yang mengakibatkan kekeringan, mereka harus beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang seringkali menambah beban kerja domestik bagi perempuan. Meskipun mereka dihadapkan dengan risiko beban kerja tambahan ini, namun mereka jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk adaptasi menghadapi kekeringan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman perempuan dan ketertindasan berlipat dalam pengambilan keputusan rumah tangga saat terjadi kekeringan di Desa Tubuhue melalui perspektif interseksionalitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan wawancara mendalam pada delapan perempuan yang berstatus sebagai ibu rumah tangga dengan identitas sosial yang beragam. Analisis diskursif dilakukan untuk melihat bagaimana identitas sosial gender, usia, pendidikan, ekonomi dan budaya saling berinteraksi dan membentuk pengalaman perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini, kekeringan yang hanya diketahui berdampak pada keterbatasan sumberdaya air bersih dan bagi perempuan pedesaan kekeringan diketahui berdampak pada beban kerja perempuan ternyata menghasilkan dampak lain. Bencana kekeringan ternyata juga menghasilkan jenis kerentanan baru bagi perempuan yakni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mereka yang menjadi korban KDRT ini, juga umumnya menghadapi kesenjangan keterlibatan dalam pengambilan keputusan rumah tangga dan menghasilkan ketertindasan berlipat. Kerentanan baru yang perempuan hadapi serta ketidakikutsertaan mereka dalam pengambilan keputusan juga diakibatkan oleh faktor identitas sosial yang kurang beruntung. Perempuan dengan karakteristik identitas sosial yakni usia paruh baya, berpendidikan rendah, tidak berpenghasilan menjadi korban utama dari jenis kerentanan baru akibat bencana kekeringan dan menerima ketertindasan berlipat. Temuan ini juga memberikan penegasan bahwa perspektif interseksionalitas sangat penting digunakan dalam memahami kerentanan perempuan dalam menghadapi krisis lingkungan.
Women are among the groups most severely affected by droughts triggered by climate change in rural communities. This vulnerability stems from the fact that rural households, and women in particular, remain heavily reliant on natural resources to meet basic needs, especially access to clean water. When climate variability triggers drought, women are compelled to adapt in ways that frequently intensify their domestic workload. Yet, despite bearing this added burden, they are rarely included in household decision-making processes related to adaptation strategies.
This study aims to explore and critically examine women’s experiences and layered oppression in household decision-making during drought in Tubuhue Village through the lens of intersectionality. Employing a qualitative approach, the research draws on in-depth interviews with eight women who are housewives representing diverse social identities. A discursive analytical framework was applied to examine how gender, age, education, economic status and cultural norms intersect to shape women’s lived experiences.
The results of the study show that, until now, drought has only been known to have an impact on the limited availability of clean water resources. For rural women, drought is known to have an impact on women's workload, but it also has other effects. Drought disasters also create a new type of vulnerability for women, namely domestic violence. Those who are victims of DV also generally face inequality in household decision-making and suffer layered oppression. The new vulnerability that women face and their exclusion from decision-making are also caused by unfavorable social identity factors. Women with social identity characteristics such as middle adulthood, low education, and no income are the main victims of this new type of vulnerability caused by drought and suffer layered oppression. These findings also confirm that an intersectional perspective is very important in understanding women's vulnerability in facing environmental crises.
Kata Kunci : Intersesksionalitas,keputusan rumah tangga,kekeringan,KDRT,ketertindasan berlipat