Analisis Implementasi Program Desa Prima Dalam Pemberdayaan Perempuan Di Kalurahan Putat Kapanewon Patuk
Imma Dienia Eksa, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Manajemen
Penelitian
ini mengkaji implementasi Program Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju
Mandiri) sebagai salah satu pilar Desa Mandiri Budaya yang berfokus
pada pemberdayaan perempuan. Apa yang
diteliti adalah bagaimana program tersebut dilaksanakan dan faktor apa saja
yang memengaruhi efektivitasnya. Subjek penelitian adalah para
perempuan penerima manfaat, perangkat desa, pengurus Desa Prima, dan tokoh
masyarakat yang terlibat langsung dalam program. Penelitian
ini dilakukan di Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten
Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu desa
dengan capaian optimal dalam pelaksanaan Desa Prima. Penelitian
ini dilaksanakan pada tanggal 5 hingga 8 Agustus 2025, melalui
rangkaian wawancara mendalam, observasi, dan pengumpulan dokumen. Penelitian
ini penting karena meskipun Program Desa Prima telah berjalan sejak 2014 di
lebih dari 120 desa, evaluasi yang komprehensif dari perspektif perempuan
penerima manfaat masih terbatas. Sementara itu, tujuan dari program ini sejalan
dengan SDG 5 tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif
studi kasus dan analisis tematik. Modifikasi teori implementasi
kebijakan Van Meter dan Van Horn serta Edwards III digunakan dengan variabel
kunci yaitu akses, kepatuhan, sumber daya, lingkungan sosial-ekonomi-politik,
regulasi, penganggaran, dan efektivitas.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program Desa Prima di Kalurahan Putat
relatif efektif. Akses informasi terbuka melalui forum, media
sosial, dan pertemuan rutin; kepatuhan terhadap aturan kelompok tinggi; serta
dukungan sumber daya berupa pelatihan, pendampingan, dan fasilitas rumah
produksi menjadi kekuatan utama. Faktor eksternal seperti regulasi pemerintah
desa, dukungan lurah, dan budaya gotong royong memperkuat keberlanjutan
program. Namun demikian, terdapat tantangan berupa keterbatasan fasilitas
produksi, fluktuasi harga bahan baku, serta belum meratanya partisipasi
anggota. Program ini terbukti meningkatkan pendapatan tambahan, keterampilan
teknis, rasa percaya diri, serta posisi sosial perempuan, meskipun belum
sepenuhnya mentransformasi kemandirian ekonomi secara menyeluruh.
Dengan
demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi Program Desa
Prima di Kalurahan Putat berhasil menjadi instrumen pemberdayaan perempuan yang
efektif. Hal ini dapat tercapai dengan sinergi antara faktor internal kelompok
dan dukungan eksternal kelembagaan. Meskipun demikian, program ini
masih memerlukan penguatan fasilitas, diversifikasi pelatihan, dan strategi
adaptasi untuk menjamin keberlanjutan serta daya saing di masa depan.
This
study examines the implementation of the Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju
Mandiri) program as one of the pillars of the Desa Mandiri Budaya
initiative, which focuses on women’s empowerment. The research investigates how
the program is carried out and what factors influence its effectiveness. The
research subjects include women beneficiaries, village officials, Desa Prima
administrators, and community leaders directly involved in the program. The
study was conducted in Putat Village, Patuk Sub-district, Gunungkidul Regency,
Yogyakarta Special Region, which is recognized as one of the villages with optimal
achievements in implementing Desa Prima. Data collection was carried out from
August 5 to 8, 2025, through a series of in-depth interviews, observations, and
document analysis. This study is important because, although the Desa Prima
Program has been implemented since 2014 in more than 120 villages,
comprehensive evaluations from the perspective of women beneficiaries remain
limited. At the same time, the program’s objectives align with SDG 5 on gender
equality and women’s empowerment. The research employs a qualitative case study
approach and thematic analysis, using a modified version of Van Meter and Van
Horn’s and Edwards III’s policy implementation theories, focusing on seven key
variables: access, compliance, resources, socio-economic-political environment,
regulation, budgeting, and effectiveness.
The
findings show that the implementation of the Desa Prima Program in Putat
Village is relatively effective. Open access to information through forums,
social media, and regular meetings; high compliance with group rules; as well
as resource support in the form of training, mentoring, and production
facilities serve as the main strengths. External factors such as village
government regulations, support from the village head, and a culture of gotong
royong (mutual cooperation) further strengthen the program’s
sustainability. However, challenges remain, including limited production
facilities, fluctuating raw material prices, and uneven participation among
members. The program has proven to increase supplementary income, technical
skills, self-confidence, and women’s social positions, although it has not yet
fully transformed their overall economic independence.
In
conclusion, the study finds that the implementation of the Desa Prima Program
in Putat Village has become an effective instrument for women’s empowerment.
This success is achieved through the synergy between internal group factors and
external institutional support. Nevertheless, the program still requires
strengthened facilities, diversified training, and adaptive strategies to
ensure sustainability and competitiveness in the future.
Kata Kunci : Desa Prima, implementasi kebijakan, pemberdayaan perempuan, Kalurahan Putat