KARAKTERISTIK BATUBARA DAN POTENSINYA SEBAGAI BATUBARA MENGOKAS PADA FORMASI TANJUNG DI SITE SWALANG, DESA NGURIT, KECAMATAN GUNUNG BINTANG AWAI, KABUPATEN BARITO SELATAN, KALIMANTAN TENGAH
Muhamad Hazkie Zulfan Rantissi, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM. ; Dr.Ing. Ir. Donatus Hendra Amijaya, S.T., M.T., IPM.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI
Batubara mengokas merupakan batubara yang memiliki
spesifikasi khusus yang secara fisik mampu mengalami perubahan seperti melunak,
melebur, dan dapat tersolidasi kembali, umumnya memiliki peringkat bituminus. Batubara
peringkat bituminus di Indonesia dapat ditemukan pada Formasi Tanjung di
Cekungan Barito, Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkarakterisasi batubara serta
mengetahui potensinya sebagai batubara mengokas daerah penelitian.
Lokasi penelitian berada di Site Swalang, Desa Ngurit,
Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah,
pada wilayah kerja PT. Multitambang Jaya Utama (MTU).
Analisis
batubara dilakukan pada 17 sampel batubara yang diambil dengan metode chanel
sampling, ply by ply. Analisis yang dilakukan yaitu analisis
petrologi, analisis nilai kalori, analisis proksimat, analisis ultimat,
analisis petrografi organik, analisis Free
Swelling Number (FSI) atau Crucible Swelling Number (CSN), dan Gray
King assay. Analisis petrologi dilakukan untuk mengetahui makroskopis
batubara. Analisis nilai kalori dilakukan untuk mengetahui peringkat batubara.
Analisis proksimat meliputi kadar lengas, kadar abu, kadar zat terbang, dan
karbon tertambat, serta analisis ultimat meliputi kandungan karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen, dan sulfur untuk mengetahui komposisi kimia batubara.
Analisis petrografi untuk mengetahui komposisi maseral dan reflektansi vitrinit
(VR). Analisis FSI dan Gray
King assay untuk mengetahui reologi batubara. Setiap parameter hasil
analisis diintegrasikan dan diklasifikasikan untuk menentukan karakteristik
batubara serta potensinya sebagai batubara mengokas.
Batubara
daerah penelitian memliki litotipe bright banded coal, memiliki nilai
kalori 15227-15780 btu/lb yang termasuk
kedalam medium volatile bituminous coal. Batubara didominasi oleh grup
maseral vitrinit 68,2 - 81,5% (vol), mineral matter 3,1 - 20,8% (vol),
inertinit 6,8 - 16,5%(vol), dan liptinit 0 - 2,4%(vol), dengan nilai
reflektansi vitrinit (%Ro) sebesar 0,87 - 1,32%. Memiliki komposisi
kimia dari
analisis proksimat didominasi oleh karbon tertambat (fixed carbon) 60,39
- 72,61% (adb), kadar zat terbang (volatile matter) 21,67 28,2% (adb),
kadar abu (ash) 1,84 - 8,51% (adb), dan kadar lengas (moisture)
1,36 - 4,2% (adb) dan analisis ultimat didominasi oleh karbon 85,35 - 89,8%
(daf), hidrogen 5,15 - 5,55% (daf), oksigen 1,04 - 4,08% (daf), nitrogen 1,51 -
2,08% (daf), dan sulfur 0,73 - 3,98% (daf). Batubara daerah penelitian memiliki
nilai FSI 8 - 9 dan Tipe kokas E, G1,
G2, G3, G4. Batubara termasuk kedalam
zona medium caking dan strongly coking dan termasuk kedalam tipe standard
hard coking - premium hard coking yang layak sebagai bahan baku
utama atau komponen dominan dalam blending.
Coking coal is a type of coal with specific
physical properties that enable it to soften, melt, and resolidify, typically
classified as bituminous coal. Bituminous coal in Indonesia can be found in the
Tanjung Formation within the Barito Basin, Central Kalimantan. This study aims
to characterize the coal and evaluate its potential as coking coal in the
research area. The study site is located at Swalang Site, Ngurit Village,
Gunung Bintang Awai Subdistrict, South Barito Regency, Central Kalimantan,
within the operational area of PT. Multitambang Jaya Utama (MTU).
Coal analysis was conducted on 17 samples collected
using channel sampling, ply by ply. The analyses included petrographic
analysis, calorific value, proximate analysis, ultimate analysis, organic
petrography, Free Swelling Index (FSI) or Crucible Swelling Number (CSN), and
Gray King assay. Petrographic analysis was performed to determine the coal's
macroscopic characteristics. Calorific value analysis was used to determine the
coal rank. Proximate analysis included moisture, ash, volatile matter, and
fixed carbon content, while ultimate analysis covered carbon, hydrogen, oxygen,
nitrogen, and sulfur composition to determine the coal's chemical composition.
Petrographic analysis revealed maceral composition and vitrinite reflectance (VR).
FSI and Gray King assays were used to assess the coal's rheological properties.
All analysis results were integrated and classified to identify the coal's
characteristics and its potential as coking coal.
The coal in the study area is characterized as
bright banded coal lithotype, with calorific values ranging from 15,227 to
15,780 btu/lb, classifying it as medium volatile bituminous coal. The coal is
dominated by vitrinit macerals (68.2 - 81.5% vol), mineral matter (3.1 - 20.8%
vol), inertinite (6.8 - 16.5% vol), and liptinite (0 - 2.4% vol), with
vitrinite reflectance (%Ro) values between 0.87 and 1.32%.
Chemically, proximate analysis showed fixed carbon content of 60.39 - 72.61%
(adb), volatile matter 21.67 - 28.2% (adb), ash 1.84 - 8.51% (adb), and
moisture 1.36 - 4.2% (adb). Ultimate analysis revealed carbon 85.35 - 89.8%
(daf), hydrogen 5.15 - 5.55% (daf), oxygen 1.04 - 4.08% (daf), nitrogen 1.51 -
2.08% (daf), and sulfur 0.73 - 3.98% (daf). The coal’s FSI ranged from 8 to 9,
with coke types E, G1, G2, G3, and G4. It belongs to the medium caking and
strongly coking zones and is classified as standard hard coking to premium hard
coking coal, making it suitable as a primary raw material or dominant component
in blending.
Kata Kunci : Batubara mengokas, Formasi Tanjung, Karakteristik batubara, Potensi batubara