PERBEDAAN DAN FAKTOR PENENTU RUANG AKTIVITAS PADA PELAKU PERJALANAN DARI GENERASI X, Y, DAN Z DI KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA
Sakinah Fathrunnadi Shalihati, Dr. Andri Kurniawan, S.Si., M.Si.; Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si.; Dr. Djaka Marwasta, S.Si., M.Si.
2025 | Disertasi | S3 Geografi
Ruang aktivitas mewakili lokasi pilihan individu atau kelompok untuk
beraktivitas dan melakukan perjalanan dalam periode waktu tertentu, serta dapat
menjadi dasar bagi perencanaan kawasan perkotaan berkelanjutan. Metode dua
indeks merupakan pendekatan yang menawarkan kemudahan dalam mengukur ruang
aktivitas, mampu menyederhanakan distribusi lokasi aktivitas di luar rumah
dengan mempertimbangkan orientasi dan komitmen kegiatan yang bervariasi dari
hari ke hari, serta dapat membedakan ukuran meski pada bentuk geometri yang
sama. Akan tetapi, penggunaan pendekatan jarak Euclidean dalam metode tersebut belum sepenuhnya merepresentasikan
topologi ruang. Penerapan konsep jarak berbasis jaringan jalan menjadi
alternatif yang berpotensi lebih akurat. Studi perilaku perjalanan Generasi X,
Y dan Z mudah dijumpai, tetapi keterkaitan dengan pembentukan ruang aktivitas
belum terungkap dalam literatur yang tersedia, terutama dari kalangan ahli geografi
di indonesia. Pandemi Covid-19 turut membuka peluang untuk memahami dinamika
aktivitas dan perjalanan ketiga generasi tersebut. Kawasan Perkotaan Yogyakarta
sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang saat ini didominasi Generasi X, Y
dan Z usia kerja dan didominasi pengguna sepeda motor yang tengah menghadapi
tantangan urbanisasi, persoalan transportasi, maupun kompleksitas pengelolaan kawasan selama pandemi. Ini menjadi
lokasi ideal untuk mengeksplorasi perilaku perjalanan dan ruang aktivitas,
perubahan yang terjadi saat pandemi, sekaligus menelaah faktor penentu ruang
aktivitas sebelum dan saat pandemi setiap generasi dengan melibatkan perilaku
perjalanan, karakteristik sosial ekonomi, kepadatan penggunaan lahan, dan
jaringan transportasi di lingkungan tempat tinggal masing-masing individu pada
setiap generasi.
Eksplorasi berbagai peluang pengetahuan tersebut dapat memberikan
pemahaman terhadap ketahanan sistem mobilitas dan ruang di Kawasan Perkotaan
Yogyakarta, sehingga mendukung perumusan kebijakan perencanaan
ruang kota kompak dan sistem jaringan transportasi berkelanjutan yang adaptif
terhadap berbagai situasi. Diwujudkan melalui sejumlah tujuan penelitian untuk menyelidiki: 1) perbedaan
ukuran ruang aktivitas dari metode dua indeks yang menggunakan jarak berbasis
jaringan jalan dan jarak berbasis Euclidean;
2) perbedaan ruang aktivitas berbasis jarak jaringan jalan antar Generasi X, Y,
dan Z berdasarkan hari-hari pengamatan, karakteristik sosial ekonomi, dan pola
aktivitas-perjalanan; 3) perbedaan pola aktivitas-perjalanan dan ruang
aktivitas masing-masing generasi sebelum dan saat pandemi, 4) dominasi karakteristik
penggunaan lahan dan jaringan transportasi di lingkungan setiap generasi, serta
5) faktor-faktor penentu ukuran ruang aktivitas setiap generasi.
Penelitian menggunakan
pendekatan kuantitatif. Data sebelum pandemi dikumpulkan menggunakan metode probability
proportional to size (PPS) dan pemilihan responden secara acak pada periode
pengumpulan data antara 8 Oktober 2019 hingga 21 Januari 2020. Sejumlah 343
individu mewakili Generasi X, Y dan Z, sementara pengukuran ulang saat pandemi
dilakukan melalui convenience sampling terhadap 109 individu yang
bersedia mengikuti survey ulang antara 8 Juli hingga 24 Agustus 2021, dengan
tetap mempertimbangkan proporsi populasi. Data yang digunakan meliputi survey
sosial ekonomi dan catatan harian aktivitas-perjalanan setiap interval 15 menit
selama empat hari berurutan (Kamis-Minggu). Data spasial penggunaan lahan dan
jaringan transportasi juga digunakan. Analisis data perbedaan menggunakan uji
Kruskall-Wallis, uji Mann-Whitney dan uji Wilcoxson. ArcGIS memvisualisasikan aliran
pergerakan asal-tujuan dengan metode Flow Map, serta memetakan
konsentrasi area tujuan dengan metode Kernel Density untuk setiap
generasi. PLS-SEM untuk menentukan faktor-faktor penentu ukuran ruang aktivitas
sebelum dan saat pandemi.
Hasil penelitian
menunjukkan: 1) penggunaan jarak berbasis jaringan jalan dalam metode dua
indeks memberikan estimasi lebih besar dan berbeda dibandingkan jarak Euclidean, menandakan adanya bias
estimasi di Kawasan Perkotaan
Yogyakarta akibat jaringan jalan yang terfragmentasi; 2) hari-hari
pengamatan, karakteristik sosial ekonomi, dan pola aktivitas-perjalanan mampu
menangkap perbedaan keputusan ruang aktivitas intragenerasional dan
intergenerasional; 3) terdapat perubahan dan perbedaan pola aktivitas-perjalanan
dan ruang aktivitas sebelum dan saat pandemi, Generasi X dan Y menunjukkan
perubahan lebih dominan dibandingkan Generasi Z; 4) Generasi Y cenderung
menempati lingkungan dengan permukiman dan komersil yang lebih padat, namun
memiliki persimpangan jalan, ruas jalan dan halte bus yang lebih terbatas
dibandingkan lingkungan yang cenderung ditempati Generasi X dan Z; 5) Sebelum
pandemi, alokasi waktu untuk aktivitas wajib di luar rumah menjadi faktor
penentu penurunan ruang aktivitas Generasi X, dan waktu tempuh perjalanan
menjadi faktor penentu peningkatan ruang aktivitas Generasi Y dan Z. Saat
pandemi, ruang aktivitas Generasi X ditentukan faktor sosial ekonomi (status
menikah dan pendidikan), alokasi waktu aktivitas di luar rumah (aktivitas
pemeliharaan dan aktivitas bebas), alokasi waktu aktivitas di dalam rumah
(aktivitas bebas), hubungan perjalanan (persentase penggunaan sepeda, jumlah
perjalanan, rantai perjalanan), waktu tempuh perjalanan, serta jaringan
transportasi (kepadatan halte bus, kepadatan persimpangan jaringan jalan,
kepadatan ruas jalan). Ruang aktivitas Generasi Y dan Z dikendalikan faktor
alokasi waktu untuk aktivitas pemeliharaan dan bebas di luar rumah dan
penggunaan lahan (kepadatan area komersil).
Pertimbangan terhadap
hasil penelitian dan potensi pasca pandemi berdasarkan karakter Generasi X, Y
dan Z digunakan untuk mendorong terbentuknya ruang aktivitas yang
berkelanjutan. Strategi yang ditawarkan melalui kerangka keterbaharuan ruang
Kawasan Perkotaan Yogyakarta mencakup peningkatan keragaman penggunaan lahan
yang terintegrasi dengan moda aktif dan sistem transportasi publik,
optimalisasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan
sehari-hari, serta pengaturan aktivitas di luar rumah yang adaptif dan
fleksibel.
Activity space represents the preferred locations for activities and
travel by individuals or groups within a specific time period and can serve as
a basis for sustainable urban planning. The two-index method offers a simple
approach to measuring activity space, simplifying the distribution of
out-of-home activity locations by considering the varying orientations and
commitments of activities from day to day, and allowing for different sizes
even within the same geometric shape. However, the use of the Euclidean
distance approach in this method does not fully represent the topology of
space. The application of the road network-based distance concept is a
potentially more accurate alternative. Studies on the travel behavior of
Generations X, Y, and Z are readily available, but the relationship to the
formation of activity space has not been fully explored in the available
literature, particularly among geographers in Indonesia. The Covid-19 pandemic
has also opened up opportunities to understand the dynamics of activity and
travel for these three generations. The Yogyakarta Metropolitan Area, one of
the regions in Indonesia currently dominated by working-age Generations X, Y,
and Z and predominantly motorcycle users, is facing the challenges of
urbanization, transportation issues, and the complexity of area management
during the pandemic. This is an ideal location to explore travel behavior and
activity spaces, changes that occurred during the pandemic, as well as examine
the determinants of activity spaces before and during the pandemic for each
generation by involving travel behavior, socioeconomic characteristics, land
use density, and transportation networks in the residential environment of each
individual in each generation.
Exploring these various knowledge opportunities can provide an
understanding of the resilience of mobility and spatial systems in the
Yogyakarta Metropolitan Area, thereby supporting the formulation of compact
urban spatial planning policies and a sustainable transportation network system
that is adaptive to various situations. This is realized through several
research objectives to investigate: 1) differences in activity space
measurements using the two-index method based on road network-based distance
and Euclidean distance; 2) differences in activity space using the two-index
method based on road network-based distance in Generations X, Y, and Z, based
on observation days, socioeconomic characteristics, and activity travel
patterns; 3) differences in activity travel patterns and activity space for
each generation before and during the pandemic; 4) characteristics of land use
and dominant transportation networks in the environment of each generation; and
5) factors that determine the size of the activity space for each generation.
The research uses a quantitative approach. Before the pandemic, data was
collected using the Probability Proportional to Size (PPS) method and
randomized respondent selection between October 8, 2019, and January 21, 2020.
A total of 343 individuals representing Generations X, Y, and Z were recruited.
Re-measurement during the pandemic was conducted through convenience sampling
of 109 individuals who agreed to participate in the re-survey between July 8
and August 24, 2021, while still considering population proportions. The data
used included a socioeconomic survey and daily activity-travel records at
15-minute intervals for four consecutive days (Thursday-Sunday). Spatial data
on land use and transportation networks were also used. Data analysis used the Kruskal-Wallis
test, the Mann-Whitney test, and the Wilcoxon test. ArcGIS visualized the
origin-destination flow using the Flow Map method and mapped the concentration
of destination areas using the Kernel Density method for each generation.
PLS-SEM was used to determine the determinants of activity space size before
and during the pandemic.
The results of the study show: 1) the use of road network-based distances
in the two-index method provides larger and different estimates than Euclidean
distances, indicating an estimation bias in the Yogyakarta Metropolitan Area
due to the fragmented road network; 2) observation days, socio-economic
characteristics, and activity-travel patterns are able to capture differences
in intragenerational and intergenerational activity space decisions; 3) there
are changes and differences in activity-travel patterns and activity spaces
before and during the pandemic, Generation X and Y show more dominant changes
than Generation Z; 4) Generation Y tends to live in denser residential and
commercial environments, but has more limited road intersections, road sections
and bus stops than environments that Generation X and Z tend to live in; 5)
Before the pandemic, time allocation for mandatory activities out-of-home was a
determining factor in the decrease in activity space for Generation X, and
travel time was a determining factor in the increase in activity space for
Generations Y and Z. During the pandemic, activity space for Generation X was
determined by socioeconomic factors (marital status and education), time
allocation for activities out-of-home (maintenance activities and leisure
activities), time allocation for activities in-home (leisure activities),
travel relationships (percentage of bicycle use, number of trips, trip chains),
travel time, and transportation networks (bus stop density, road network
intersection density, and road section density). Activity space for Generation
Y and Z was controlled by time allocation factors for maintenance and leisure
activities out-of-home and land use (commercial area density).
Consideration of research findings and after-pandemic potential based on
the characteristics of Generations X, Y, and Z is used to encourage the
creation of sustainable activity spaces. Strategies offered through the
Yogyakarta Metropolitan Area spatial renewal framework include increasing land
use diversity integrated with active modes and public transportation systems,
optimizing the use of information and communication technology in daily life,
and adapting flexible arrangements for out-of-home activities.
Kata Kunci : Perbedaan, Faktor Penentu, Ruang Aktivitas, Pelaku Perjalanan, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z