Peran Perempuan Terhadap Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Daerah 3T Melalui Komunitas Sobat Mengajar Indonesia (Studi Kasus Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak, Banten)
Hanifah Chairani, Prof. Ir. Mujtahidah Anggriani Ummul Muzayyanah, S.Pt.., M.P., Ph.D., IPM; Dr. Dyah Woro Untari, S.P., M.P.
2025 | Tesis | S2 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Permasalahan kesenjangan pendidikan di daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) yang terletak di wilayah Kecamatan dengan kategori berkembang atau terentaskan memerlukan perhatian khusus agar tercapainya pendidikan bermutu yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No.4 Tahun 2022 mencakup delapan poin standar pendidikan bermutu, yang kemudian diturunkan dalam konsep Input-Proses-Output untuk meninjau keberhasilan pendidikan di suatu daerah secara lebih sederhana dan terfokus. Peranan aktor pemerintah seperti perempuan yang menjalankan program pendidikan di Komunitas Sobat Mengajar Indonesia menjadi penting untuk mengoptimalkan konsep proses pelaksanaan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Penelitian ini menganalisis bagaimana peran perempuan di komunitas Sobat Mengajar Indonesia terhadap Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Kecamatan Sobang, Lebak, Banten serta apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat keterlibatan perempuan dalam pelaksanaannya. Menggunakan metode dasar kualitatif dengan studi kasus, penelitian ini menyoroti peranan perempuan dan kolaborasinya dengan laki-laki dalam menjawab tantangan pelik yang menghambat pembangunan pendidikan di wilayah 3T. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi. Peneliti menganalisis data secara manual dan menguji validitas data dengan triangulasi teknik dan sumber.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa perempuan berperan aktif dalam mengupayakan pemerataan indikator Input, optimalisasi Proses pelaksanaan kegiatan pendidikan di desa 3T melalui program mengajar dan literasi di sekolah, pemberdayaan masyarakat, kerjasama dengan pemerintah desa, masyarakat adat dan orang tua siswa dalam menjalankan segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dan siswa, partisipasi sekolah serta pemerataan sarana dan prasarana pendidikan. Peranan perempuan didukung oleh faktor-faktor seperti motivasi internal, dukungan masyarakat, sponsor, antusias siswa hingga bantuan sarana pembelajaran dari pemerintah. Namun, faktor penghambat seperti kesenjangan pembagian tanggung jawab, kurangnya sumber daya manusia, keterbatasan akses hingga munculnya konflik internal, menghambat pergerakan perempuan dalam melakukan perubahan yang lebih besar. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun perempuan berperan aktif dalam mengoptimalkan program pendidikan, mereka belum berdampak nyata dalam mewujudkan peningkatan mutu pendidikan di Kecamatan Sobang, Lebak, Banten. Perempuan belum mampu memberikan pengaruh nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan karena peranan yang diberikan hanya bersifat sementara, simbolis dan tidak terstruktur.
Perempuan dan kolaborasinya dengan laki-laki sebagai relawan di komunitas Sobat Mengajar Indonesia memiliki potensi untuk mengupayakan pendidikan yang setara dan berkualitas di Kecamatan Sobang. Namun, evaluasi hasil kontribusi perempuan perlu diukur dan diamati mendalam, pemeliharaan hubungan internal, serta optimalisasi peran perempuan dalam pengabdian dalam waktu yang lebih panjang dan serta berkontribusi lebih konsisten sepanjang waktu perlu dipertimbangkan. Penelitian ini merekomendasikan agar komunitas ini dapat membagi peran perempuan dan laki-laki secara adil, menyusun kembali kerangka komunitas yang lebih terstruktur agar kesejahteraan anggota bisa diutamakan, penguatan kolaborasi internal, melibatkan pihak lain untuk mengevaluasi kontribusi perempuan serta pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan terbuka.
The problem of educational disparities in the Disadvantaged, Frontier, and Outermost (3T) areas located in the developing or underdeveloped sub-districts requires special attention to achieve quality education following the National Education Standards (SNP) as stipulated in Government Regulation No. 4 of 2022 covering eight points of quality education standards, which are then derived in the Input-Process-Output concept to review the success of education in a region in a simpler and more focused manner. The role of government actors, such as women who run educational programs in the Indonesian Teaching Friends Community, is important to optimize the concept of the education implementation process to realize equitable and quality education. This study analyzes the role of women in the Indonesian Teaching Friends community in efforts to improve the quality of education in Sobang District, Lebak, Banten, and the supporting and inhibiting factors for women's involvement in its implementation. Using basic qualit
The results of this study revealed that women play an active role in efforts to achieve equal distribution of input indicators and optimize the implementation process of educational activities in 3T villages through teaching and literacy programs in schools, community empowerment, collaboration with village governments, indigenous communities, and parents in carrying out all activities aimed at improving teacher and student skills, school participation, and equitable distribution of educational facilities and infrastructure. Women's roles are supported by factors such as internal motivation, community support, sponsorship, student enthusiasm, and government assistance with learning resources. However, inhibiting factors such as unequal distribution of responsibilities, lack of human resources, limited access, and the emergence of internal conflicts hinder women's movement to make greater changes. The research findings indicate that although women play an active role in optimizing educational programs, they h
Women and their collaboration with men as volunteers in the Sobat Mengajar Indonesia community have the potential to promote equal and quality education in Kecamatan Sobang, Lebak, Banten. However, the evaluation of women's contributions requires in-depth measurement and observation, and consideration should be given to maintaining internal relationships and optimizing women's roles in longer-term service and contributing more consistently over time. This research recommends that this community equitably divide the roles of women and men, restructure the community framework to prioritize the well-being of members, strengthen internal collaboration, involve others in evaluating women's contributions, and promote more democratic and open decision-making.
Kata Kunci : Daerah 3T, Komunitas Sosial Pendidikan, Mutu Pendidikan, Peran Perempuan